Search This Blog

Monday, December 5, 2011

“HARAP TENANG SEDANG UJIAN” (Yesaya 30:15,16)

I. PENDAHULUAN
1. Pasti tema di atas sudah tidak asing bagi kita. Cobalah main drum saat ada ujian yang sedang berlangsung, pasti akan di keroyok massa (orang-orang yang sedang ujian).
2. Terkadang kita Tidak menydari bahwa peringatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi mereka yang ujian kelulusan sekolah ataupun UTS dan UAS namun peringatan itu juga berlaku bagi kita mengalami ujian dalam kehidupan kita.

II. PENDALAMAN MATERI
1. Yesaya 30 ini menunjukan bahwa orang Israel sedang dalam ujian dimana bangsa Asyur sedang dalam perjalanan dari timur untuk menguasai daerah-derah di sekitarnya sehingga orang Israel menjadi panic dan mencari pertolongan ke negala lain yang dianggap lebih kuat.
2. Pada ayat 15, Tuhan mengatakan bahwa kekuatan itu justru ada saat umat Israel tinggal diam dan tenang. Diam dalam arti mereka tenang dan bergantung hanya pada Allah saja.
3. Di ayat 16 ditegaskan bahwa kepanikan dan ketangkasan justru tidak dapan memberikan jalan keluar dalama menghadapi masalah.

III. PENUTUP
1. Seringkali saat kita mengalami ujian, kita terlalu sibuk sibuk mencari jalan keluar dengan pola pikir dan kekuatan kita sendiri bahkan sibuk mencari bantuan "ke tempat lain" atau sibuk marah dan menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi dalam kehidupan kita.
2. Seharusnya kita tetap tenang menghadapi apapun yang ada dihadapan kita, seperti yg tertulis di Yesaya 30:15 "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."
3. Kalau kita percaya dan kenal siapa Tuhan kita, seharusnya tidak ada alasan untuk kita takut dan "sibuk sendiri" saat menghadapi masalah dan ujian . Pertanyaan nya "apakah kita sudah benar-benar kenal dan tau siapa Tuhan kita??"
4. jadi mulai sekarang, saat kita sedang menghadapi banyak masalah "Harap tenang hidupmu sedang di uji" datanglah pada-Nya dan kita akan mendapatkan jalan keluar ^_^

Posting ini merupakan bagian dari Tugas menyampaikan informasi tentang firman Tuhan dengan menggunakan Media Blog, Mata Kuliah Media Pembelajaran.
Nama Dosen: Yonas Muanley, M.Th.

Thursday, October 13, 2011

RESPON PEPER SURAT ROMA DAN IBRANI

Judul Buku : Menggali Intisari Alkitab Perjnjian Baru
Penulis/Penerbit: Hwang Jung Kill / Yayasan Daun Family.



SURAT ROMA
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus pada tahun 58 M. surat ini ditulis di Korintus pada pada waktu hamper menyelesaikan perjalanan penginjilan yang ketiga kalinya. Paulus mempunyai dua pengharapan yaitu pergi ke Yerusalem da berkunjung ke Roma.
Surat Roma terdiri dari 16 pasal dimana pasal 1-11 berisi kebenaran tentang keselamatan dari dosa, dibenarkan, pilihan dan sebagainya. Dari pasal 12-16 berisi kebenaran tentang bagaimana menuntut kehidupan sebagai orang Kristen di dunia.

KEBENARAN ALLAH DINYATAKAN DALAM INJIL
Paulus tidak malu memberitakan Injil (1:16-17).
Keberadaan Injil adalah jalan yang dipersiapkan Allah agar manusia bukan saja tehindar dari murka Allah tetapi juga untuk memulihkan hubungan dengan Allah. Di dalam injil ada kekuatan untuk menyelamatkan dan di hadapa Allah manusia bisa dibenarkan. Siapa yang bisa mendapatkan kuasa injil ini? Yaitu orang yang percaya sehingga dia sebanarkan dan diselamatkan. Kebenaran Allaha ini bukan didapat dari hukum taurat melainkan hanya kasih karunia semata.
Roma 1:18 memberikan argument mengapa kita memerlukan Injil. Alasannya karena semua orang telah berdosa. Manusia sebenarnya dapat mengenal Allah melalui ciptaannya tetapi manusia tidak memuliakan dan bersyukur kepadanya. Dasar penghukuman Allah kepada manusia adalah karena manusia menyembah ciptaan Allah dan bukan kepada Allah sebagai pencipta.
OLEH KARENA ANUGERAH MENDAPAT PEMBENARAN SECARA CUMA-CUMA

Kuasa injil dapat menyelamatkan dan membenarkan. Orang yang mendapat kuasaa ini adalah orang yang percaya kepada injil. Oleh karena kasih Allah kepada manusia maka melalui Yesus Kristus kita mendapat anugerah keselamatan.
Kelebihan orang Yahudi.
Diantara bangsa-bangsa di dunia, Allah memilih Abraham yang menjadi nenek moyang bangsa Israel. Allah memberkati mereka dan member mereka hukum taurat. Tapi orang Yahudi melupakan hukum ini dan tenggelam dalam kebanggaan karena memiliki hukum taurat dan memandang rendah suku lain. Tidak hanya itu, merekapun melakukan dosa dengan menyalibkan Yesus Kritus Putra Allah.Allah lalu menolak memberkati mereka sehingga injil tidak ada manfaatnya bagi mereka. Tetapi apakah dengan ketidak taatan mereka lalu membatalkan janji Allah? Tidak! Karena Allah itu setia adanya. Kita perlu bersandar pada Allah yang setia ini, jangan hanya percaya di luar saja tapi dari dalam hati.

Manfaat Hukum Taurat
Tidak ada seorang pun yang dapat dibenarkan karena melakukan hukum taurat karena taurat hanya memberitahukan tentag dosa. Dengan tidak adanya taurat, maka kita tau akan taurat itu. Dengan kedatangan Yesus maka taurat tidak dibutuhkan lagi. Perlu diketahui bahwa taurat tidak menyelamatkan tapi semata-mata hanya oleh percaya kepada Yesus.


Anugerah pembenaran
Manusia diselamatkan karena:
- Anugerah Allah – Allah mengasihi kita dan mengutus Yesus dating menyelamatkan.
- Darah Kristus yang telah menebud kita.
- Dengan Cuma-Cuma kita dibenarkan, tidak bersandar pada apapun juga
Karena dosa maka hubungan kita dengan Allah terputus dan dijadikan objek kemurahan Allah. Yesus sebagai korban untuk memulihkan hubungan tersebut. Orang dibenarkan karena percaya, bukan karena melakukan hukum taurat. Oleh karena itu tidak ada yang aptut dibanggakan karena semuanya haya oleh anugerah. Sebagai umat Allah, dalam kehidupan kita perlu menuntut hidup kudus.
Iman yang membawa Pengharapan
Dalam mengemukakan iman yang menyelamatkan, Paulus menggunakan Abraham sebagai contoh. Paulus menyatakan bahwa Abraham dibenarkan di hadapan Allaha bukan karena sunat maupun hukum taurat melainkan karena iman (Kej.15). masalah sunat dikemukakan dalam Kej.17 yaitu setelah Abraham dibenarkan sedangkan hukum taurat diberikan kepada keturunannya di gunung Sinai.Abraham dibenarkan bukan karena perbuatan melainkan karena imannya kepada Allah. Orang yang bekerja mendapat upah karena jerih payahnya, tetapi orang yang tidak bekerja lalu mendapat upah ini disebut anugerah.
Kapan Abraham dibenarkan? – Allah melihat imannya lalu membenarkan dia. Hal ini terjadi sebelum Abraham disunat. Ini menyatakan bahwa keselamatan dengan sunat tidk mempunyai hubungan apa-apa. Dengan berlalunya waktu, Abraham belum memperoleh keturunan dan belum melihat janji Allah diwujudkan. Pada waktu itu Allah kembali menegaskana janji-Nya. Lalu percayalah Abraham kepada Tuhana dan Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran. Waktu Abraham mengangkat kebenaran dengan iman dibenarkan.

SURAT IBRANI
Latar Belakang surat ini ditulis karena pada waktu itu banyak orang Yahudi yang sudah Kristen tidak tahan menghadapi penganiayaan lalu kembali kepada agama Yahudi. Tidak diketahui siapa yang menulis surat Ibrani ini tapi sangat besar kemungkinannya bahwa Paulus yang menulis surat ini. Waktu penulisan kira-kira tahun 65 M.
Surat Ibrani adalah salah satu surat yang paling besar dan penting dalam alkitab. Penulis surat ini seolah-olah berkata kepada orang-orang Kristen Ibrani “marilah kita menyelidiki perjanjiana lama agar bagaimana kitab itu mengibaratkana dan menggamparkan pekerjaan Mesias dalam hal menyediakan keselamatan, bukn untuk orang Ibrani saja melainkan untuk semua orang.”
Surat Ibrani merupakan gambaran yang termulia dalam alkitab dari hal injil yang dihadapkana kepada bangsa Israel. Suatu pengertian akan surat ini akan menguatkan setiap orang yang menyebut dirinya pengikut Kristus, Israel rohani.
Surat ini pertama sekali dialamatkan kepada orang Kristen Ibrani yang memperlihatkan keunggulan Injil atas perjanjian yang berhubungan dengan Musa. Hal ini dicapai bukan untuk memperkecil yang lama tapi untuk memperlihatkan kesempurnaan yang baru. Perjanjian baru bukan memperkecil agama yahudi tapi mengubaha serta menghormatinya dengan jalan menggenapinya. Pengertian lain yang dikemukakan ialah penuntasan. Surat ini diuraikan secara formal dan logis. Susunannya lebih teratur dibandingkan surat-surat yang lain. Secara umum, surat ini dibagi dalam tiga bagian yaitu:
Yesus adalah Juruselamat yang Lebih besar dari Malaikat (pasal 1 – 7)
Di dalam perjanjian lama, Allah melalui para nabi berbicara, tapi pada akhir zaman ini Allah berbicara melalui AnakNya Yesus Kristus. Oleh karena Yesus Kristus adalah Orang yang menggenapi dana pusat dari nubuatan Perjanjian Lama. Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah.
Yesus lebih baik dari malaikat karena Dia sendiri adalah Allah, Pencipta, Penguasa dan Penganjur keselamatan sedangkan malaikat hanyalah ciptaan yang melayani Allah. Yesus juga lebih mulia daripada Musa. Sekalipun Musa adalah seorang nabi besar bangsa Israel sebagai pembawa hukum tapi Yesus adalah Hukum itu sendiri. Musa setia sebagai Hamba tapi Yesus adalah Anak. Yesus juga lebih besar dari Yosua yang membawa Israel memasuki tanah perjanjian. Yesus Kristus lebih besar dari Harun Imam besar Israel. Yesus melakukan pelayanan keimaman di sorga sedangkan Harun hanya di dunia saja. Keimaman Yesus menurut keimaman Melkisedek dan bukan menurut keimaman Harun.

Perjanjian Baru lebih baik (pasal 8 – 10)
Pada bagian ini keunggulan Perjanjian baru dalam Yesus lebih nyata. Pasal 8 merumuskan segala yang telah dibentangkan. Sesudah itu ditunjukan yang baru karena yang lama idak sempurna. Pasal 9 menyebutkan tentang sejumlah pertentangan antara yang duniawi dan yang sorgawi, yang sementara dan yang kekal dan antara darah binatang dan darah Anak Domba Allah. Perbedaan-perbedaan ini lalu disambung dengan ayat 10. orang disempurnakan untuk selama-lamanya; segala dosa dan kesalahana dilupakan dari ingatan Tuhan, tidak perlu dan tidak mungkin mempersembahkan lagi korban bagi dosa.

Kedatangan Tuhan sudah dekat (pasal 10 – 11)
Hak masuk ke hadirat Allah adalah puncak rohani. Segala sesuatu menuju ke arah itu. Perjanjian Baru memberikan hak itu. Agama yahudi tidak pernah menghasilkan jalan masuk karena senantiasa ada tabir yang menghalangi ruang kudus dan ruang maha kudus. Melalui pengorbanan Yesus di Golgota maka tabir itu terbukadan semua orang bisa datang langsung menghadap tahta kekudusan Allah melalui Yesus Kristus. Oleh sebab pengorbanan Yesus kita beroleh pengampunan dan jalan masuk dalam ke puncak rohani yaitu persekutuan dengan Allah.

Memandang kepada Kristus (pasal 11-13)
Ibrani 11 adalah pasal yang membicarakan tentang iman. Semua tokoh yang muncul dalam perjanjian lama memiliki iman, mentaati kebenaran firman Tuhan dan mendapatkan apa yang dijanjikan penulis melalui pasal ini menasihati agar dengan Iman kita menunggu apa yang dijanjikan Allah. Setelah itu dalam pasal 12, penulis menasehati agar umat Kristen harus melakukan perlombaan Imana secara baik. Hal ini perlu tilakukan dengan mata yang senantiasa tertuju kepada Tuhan.

RESPON
RESPON POSITIF
- Buku ini sangat sederhana dalam penyajian materi sehingga mudah dimengerti sekalipun oleh orang awam.
- Sangat menarik minat dan tidak membosankan karena menggunakan pertanyaan-pertanyaan praktis yang memancing rasa ingin tahu.
- Banyak aplikasi-aplikasi yang cukup relevan terhadap keadaan orag percaya saat ini.

RESPON NEGATIF
- Metode dan sitematika penggalian tidak dipaparkana dengan jelas.
- Tidak ada bahan perbandingan dengan buku-buku tafsiran yang lain.
- Lebih bersifat aplikasi praktis dibandingkan dengan eksposisi sistematis.

S A R A N
- Buku ini sangat bak dijadikan referensi untuk bahan khotbah terhadap orang awam ataupun orang yang baru lahir baru.
- Untuk mendalami lebih jauh, maka tidak cukup jika hanya menggunakan buku ini. Harus ada referensi lain yang lebih sistematis dan dalam khususnya mengenai konteks Alkitab.

PSIKOLOGI ANAK BERMASALAH

UALASAN BUKU
Judul Buku: Psikologi Anak Bermasalah
Penulis: Dra. Ny. D. Singgih Gunarsa
Penerbit: BPK Gunung Mulia


Sepanjang sejarah manusia selalu terlihat rangkaian persoalan-persoalan yang silih berganti dari soal kependudukan, perangan dan usaha-usaha untuk mengatur dunia. Ternyata kesejahteraan keluarga tidak hanya ditetukan oleh jumlah anggotanya melainkan juga persoalan-persoalan lain yang timbul dalam keluarga disamping masalah jasmaniah.
Pada bagian awal buku ini dibahas tentang permasalahan anak dalam hubungan dengan sekolah dimana dijelaskan tentang kendala-kendala yang dialami seorang anak di lingkungan sekolah. Adapun permasalahan yang dialami oleh si anak antara lain:
- Kekurangan dalam hal fisik misalnya masalah penglihatan maupun pendengaran. Kekurangan penglihatan dan pendengaran ini sering menimbulkan persoalan yang perbaikannya tidak semudah seperti memperbaiki permasalahana yang timbul akibat hal yang lain. Dalam hal ini anak akan merasa aneh jika harus memakai kacamata ataupun alat bantu dengar karena dia menjadi berbeda dengan teman-temannya.
- kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh kurang campur tangan orang tua atau siapa saja dalam tata cara hidup dan perencanaan waktu anak. Anak memang tidak sama dengan orang dewasa. Anak masih banyak dikuasai oleh keinginan-keinginan bermain yang tidak selalu mudah dilihat oleh orang lain dan perlu diatur penyalurannya. Anak beum dapat membagi waktu antara tugas-tugas sekolahnya dengan waktu bermain, untuk itu sangat diperlukan campur tangan orang tua dalam hal ini.
- Suasana sekolah sangat berperan dalam prestasi belajar anak. Dalam menanggulangi persoalan-persoalan anak sehubungan dengan prestasnya di sekolah maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain dengan meneliti apakah ada kekurangan-kekurangan, penyimpangan-penyimpangan yang dapat diperbaiki untuk mengatasi persoalan.
Dengan menyoroti persoalan anak secara lebih mendalam dan usaha-usaha menanggulangi sumber persoalannya maka diharapkan anak dapat mengembangkan kemampuan dan bakat-bakatnya secara umum.

Dalam bab selanjutnya, dibahas tentang kenakalan anak. Dalam pembahasannya dikatakan bahwa anak sejak lahir telah bertingkah laku dan melakukan berbagai perbuatan walaupun tidak selalu hasilnya nyata dan berarti. Dengan demikian dapat dikumpulkan banyak keluhan mengenai kelakuan anak mulai sejak lahir sampai ia meningkat dewasa.
Beraneka ragam tingkah laku anak yang sering menimbukan kekesalan pada seseorang bagi orang lain mungkin belum merupakan suatu hal yang memerlukan pemikiran yang lebih mendalam. Dapat disimpulkana bahwa ada beberapa tingkahlaku mulai dari drajat yang ringan sampai drajat yang berat yang memerlukan pemikiran mendalam untuk mengubahnya.
Perumusan tentang arti kenakalan anak dapat dibagi dalam dua hal yaitu:
- Kenakalan semu – dimana kenakalan anak bukan merupakan kenakalan bagi pihak-pihak lain. Bahkan menurut penilaian pihak ketiga, tingkah laku tersebut masih sesuai dengan nilai-nilai moral jika dibandingka dengan aak sebaya disekitarnya.
- Kenakalana sebenarnya – tingkah laku anak yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain, dan melanggar nilai-nilai moral maupun nilai-nilai sosial.
Perkembangan anak pada umumnya menunjukan adanya suatu persamaan antara anak-anak di seluruh dunia. Sebagai petunjuk umum dalam hal menanggulangi kenakalan anak-anak maka sebaiknya anak juga dijauhkan dari teman-teman yang kurang baik pengaruhnya.

Pada bab tiga dibahas tentang bentuk-bentuk kenakalan anak. Yang paling umum dari kenakalan anak adalah berbohong. Berbohong merupakan perbuatan pemalsuan yang segaja dilakukan dengan tujuan memperdayakan. Ada beberapa bentuk kebohongan diantaranya:
- Cerita khayal. Cerita-cerita seperti ini banyak diceritakan pada anaka kecil dan sebaliknya cerita ini sering dianggap dusta oleh orang dewasa. Dalam cerita-cerita ini, hal-hal yang mustahil justru dianggap mungkin terjadi. Salah satu cara menanggulangi masalah ini adalah dengan mengubah lingkungan rumaha sehingga duania nyata jadi lebih menarik bagi anak.
- Bohong sebagai hasil peniruan. Seringkali tanpa disadari, orang tua member contoh yang tidak baik kepada anak. Anak biasanya menganggap bahwa orang tua adalah figure yang patut dicontoh sehingga hal-hal yang kurang baikpun diikutinya.
- Berbohong sebagai pertahanan diri. Kebanyakan anak berbohong untuk menghindari hukuman. Anak tidak mau dihukum, disakiti ataupun dipermalukan di depan orang lain. Maka akan dicarinya suatu alas an untuk menutupi keadaan sebenarnya.
- Berbohong untuk menarik perhatian. Setiap anaka ingin mendapat perhatian dari orang-orang terdekat. Tapi perhatian khusus terhadap anak setingkali terhalangi karena kesibukan orang tua. Maka anak menciptakan kebohongan supaya mendapat perhatian dari orang tua mereka.
- Kebohongan untuk mengimbangi kekurangan. Anak sering berbohong untuk memperoleh pujian ataupun dikagumi. Padalah tidak semua anak memiliki sesuatu yang pantas dikagumi supaya dapat dipuji teman-temannya.
Dalam usaha mrnaggulangi masalah berbohong ini, harus dicari sumber persoalannya dulu baru kemudian bisa diterapkan langkah-langkah unutk mengatasinya. Dengan demikian anak dapat diharapkan tak lagi berbohong.

Pada bab selanjutnya dibahas tentang masalah pergi tanpa izin atau kabur. Gejala seperti ini merupakan gejala yang sering terlihat. Namun kecemasan dari orang tua berbeda-beda. Ada kepergian yang cuma sebentar dan ada yang pergi agak lama sehigga orang tua menjadi lebih cemas.
Pada umumnya dapat ditemukan beberapa sebab mengapa anak meninggalkan rumah. Sebab utamanya antara lain:
- Masalah pada anak sendiri – anak mempunyai jiwa petualang, anak yang dimarahi orang tua dan masalah keterbelakangan mental/otak.
- Masalah yang berasal dari lingkungan/keluarga – dalam hal ini, sebab-sebab anak melarikan diri dari rumah yang bersumber pada keadaan keluarga.
- Masalah yang tercapat di lingkungan sekolah – ada anak yang pergi dari sekolah seolah-olah dia memang ke sekolah tapi kenyataannya tidak. Apabila terjadi hal seperti ini maka sebaiknya anak diberi kesibukan atau keadaan di rumah dibuat sedemikian rupa sehingga rumah jadi menarik dan anak menjadi betah di rumah.

Pada bab lima dibahas tentang mencuri yang merupakan bentuk kenakalan melanggar hak milik. Berbeda dengan bentuk kenakalan-kenakalan pada bab-bab sebelumnya, maka mencuri merupakana suatu kelakuan yang selalu menyangkut pihak lain dalam arti tidak menguntungkan. Dalam hal ini sangat jelas bahwa ada pihak ketiga yang tidak ada sangkut pautnya dengan si anak namun menjadi pihak yang dirugikan. Gejala mencuri merupakan suatu gejala tingkah laku yang banyak terlihat pada masa anak-anak.
Hal ini belum merupakan gejala yang perlu dihebohkan. Apabila gejala ini ditanggulangi dengan cara-cara yang tepat, maka gejala tersebut akan cepat hilang tanpa meninggalkan akibat-akibat buruk yang menetap.
Sebab-sebab yang mendorong anak bertingkahlaku mencuri sangat beraneka ragam. Beberapa kemungkinan sebab seorang anak bertingkah laku demikian antara lain:
- Anak memiliki dorongan yang kuat untuk mengumpulkan.
Keinginan anak untuk mengumpulkan benda-benda begitu hebatnya sehingga harus ada control orang tua. Kelalaian dalam hal ini tentu bisa berdampak buruk di kemudia hari dan bisa menrugikan orang lain.
- Keinginan untuk memiliki.
Dalam hal ini, sama halnya dengan yang sebelumnya, kebiasaan ini harus diawasi oleh orang tua. Tidak baik juga jika memberikan kepada anak semua barang yang dimilikinya tanpa mengetahui kegunaan dari benda-benda tersebut.
- Mencuri untuk member suap – sogokan kepada teman.
Hal ini mudah diketahui karena hasilnya tidak untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain. Dan biasanya hasil curian ini langsung diberikan kepada orang lain dengan demikian si pencuri mengharapkan penghargaan dari orang tersebut. Alas an ini terkadang sulit dipahami apa yang si pencuri harapkan
- Sebagai pembalasan.
Pokok dari permasalahan ini adalah hubungan antara anak dengan orang tua. Perbuatan ini berpangkal pada adanya suatu perasaan dendam terhadap orang tua. Bagi anak, mencuri merupakan suatu penyaluran daripada dendamnya. Mungkin saja terdapat suatu rangkaian sebab misalnya anak yang merasa dibedakan dengan adik-adiknya yang lain atau dengan kata lain anak merasa tidak mendapat perlakuan yang adil dari orang tuanya.
Untuk mengatasi hal ini maka pertama-tama harus dijelaskan bahwa mencuri merupakan perbuatan yang tidak terpuji, tidak dapat dibenarkana dan suati tindakan yang tidak baik. Selanjutnya orang tua harus menyelidiki alasan anak mencuri dan kemudian menjelaskan tindakan orang tua yang membuat anak merasa diperlakukan dengan adil.

Pada bab enam, dibahas tentang emosionaltas sebagai sumber permasalahan anak. Dalam percakapan sehari-hari sering terdengar penggunaan istilah emosi. Ada yang karena emosi tidak mudah bergaul. Ada yang sering mengikutsertakan emosinya sehingga tidak menentu sikapnya. Ketakutannya dan kemarahan merupakan bentuk emosi yang paling umum. Ada beberapa reaksi yang berhubunga dengan kemarahan dan rasa takut, diantaranya;
- Marah – lebih sering terlihat pada anak kecil jika tidak terpenuhi keinginannya. Ada banyak bentuk-bentuk kemarahan anak misalnya nangis, berguling di lantai dan lain sebagainya.
- “ngadat” (temper tentrum) – merupakan perbuatan yang seolah-olah menyakiti orang lain, menguasai orang lain, bahkan sampaia menyakiti diri sendiri. Ngadat sering pula diperlihatkan oleh anak yang pada masa kecil sering sakit-sakitan. Anak selalu ingin mengemukakan isi hatinya. Ia selalu membutuhkan orag lain untuk memenuhi keinginan-keinginannya.
- Agresi yang berlebihan – merupakan suatu bentuk lain dalam pelampiasan emosi anak. Anak terlihat agresif sekali dalam menghadapi masalah. Tujuan utama dari agresi ini adalah untuk menguasai suatu situasi ataupun mengatasi suatu yang dia anggap rintangan.
Ada anak yang menolak dan menentang melaksanakan tugas dengan mengemukakan berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Anak yang selalu menentang sebaiknya dihadapi dengan kelompok dan tidak langsung. Dan apabila anaka menentang karena memang kelalaiana orang tua, maka orang tua harus memperbaiki sikap. Untuk itu perlu pemahaman yang benar oleh orang tua.

Pada bab terakhir, dibahas tentang emosionalitas anak yang gelisah. Ada keadaan-keadaan tertentu yang membuat anak mengalami ketakutan yang berlebih. Anak biasanya takut pada orang yang belym dikenalnya. Dalam menanggulangi persoalan anak maka perlu suatu tindakan peninjauan lebih dalam demi kelancaran perkembangan anak menuju kedewasaan.

Kesismpulan
Setelah melihat beraneka ragam permasalahan anak, baik secara internal maupun eksternal maka perlu adanya pemahaman yang benar dari setiap orang tua sehingga bisa merespon dengan baik apa yang menjadi kebutuhan anak. Disinilah pentingnya buku-buku seperti ini bagi orang tua maupun para pemerhati anak agar senantiasa memiliki pengetahuan yang benar tentang perilaku anak dan permasalahan yang ditimbulkannya.

Tanggapan
Positif:
- Seperti yang telah dikemukakan di bagian kesimpulan, bahwa buku ini sangat baik dibaca oleh orang tua maupun para pemerhati anak.
- Buku ini memiliki banyak contoh-contoh praktis sehingga lebih mudah dimengerti.
Negatif:
- Ada beberapa kata maupun kalimat yang agak sukar dimengerti karena sudah tidak umum digunakan saat ini (penulisan tahun 1975).
- Ada bagian-bagian tertentu yang seolah terjadi pengulangan sehingga terkesan membosankan.

Thursday, April 28, 2011

MENOLONG ANAK YANG MEMILIKI KEBENCIAN TERHADAP ORANG TUA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan makhluk sosial sama hal nya dengan orang dewasa. Anak juga membutuhkan orang lain untuk bisa membantu mengembangkan kemampuannya, karena pada dasarnya anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.
Dewasa ini, banyak ditemui anak-anak yang tumbuh dalam kebencian terhadap orang tuanya. Dan orang dewasa cenderung menganggap bahwa anak yang demikian memiliki kelainan tanpa mempertimbangkan sebab-sebabnya mengapa anak berprilaku demikian.
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis untuk menambah pemahaman pembaca mengenai perilaku anak yang tumbuh dengan kebencian terhadap orang tuanya. Pembahasan ini selain bermanfaat bagi orang tua sebagai penanggung jawab utama pertumbuhan seorang anak, juga bermanfaat bagi pemerhati anah termasuk guru maupun pelayan gereja karena anak juga merupakan cerminan perkembangan masyarakat dan gereja.



BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK MEMBENCI ORANG TUA

A. Masalah Internal
Biasanya masalah ini berhubungan dengan aspek psikologis dari si anak yang bisa dkatakan mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini bisa disebabkan oleh factor genetis atau kurangnya asupan gizi sang ibu selama mengandung. Hal lain juga yang bisa menjadi penyebab masalah ini adalah adanya peristiwa traumatis selama anak dalam kandungan sang ibu.
Sekalipun anak belum mengerti apa-apa selama dalam kandungan tapi berdasarkan teori perkembangan, memori bawah sadar manusia telah belerja dengan baik semenjak dalam kandungan ibu. Contoh peristiwa traumatis ini adalah rencana aborsi oleh orang tua. Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh pada ahli, seorang anak yang pernah direncanakan untuk digugurkan oelh orang tuanya biasanya memiliki kecenderungan untuk memberontak atau penakut.
B. Masalah Eksternal
Masalah ekternal adalah masalah yang disebabkan oleh lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang. Termasuk diantaranya adalah masalah pola asuh orang tua yang kurang tepat. Lingkungan sangat mempengaruhi, anak yang terbiasa dengan kehidupan yang keras, dia terbiasa menyakiti orang, karena dia terbiasa disakiti. Akhirnya gaya hidup yang keras itu menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Jadi bagi dia melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang luar biasa itu adalah hal yang lazim.
Orang tua juga sering tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal itu bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Kolose 3 : 21, "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu (diterjemahkan janganlah membuat hati anakmu pahit/getir), supaya jangan tawar hatinya."
Beberapa tindakan orang tua yang dapat mengakibatkan hati anak pahit, yaitu:
1. Anak akan merasa pahit kalau dia ditolak, jadi anak lahir ke dunia dengan suatu permintaan agar orang tua menerimanya, mereka membutuhkan penjagaan, dan uluran tangan orang tuanya. Beberapa bentuk penolakan adalah :
• Membandingkan anak.
• Penghinaan, kita kadangkala lupa bahwa anak kita punya perasaan dan dalam kemarahan kita keluarlah kata-kata yang menghina dia nah itu sangat mempunyai muatan penolakan yang besar.
2. Orang tua tanpa merencanakan atau tidak membuat si anak merasa dia adalah bukan bagian dari keluarga itu sendiri.
3. Tatkala disiplin diberikan, kekerasan diberikan tanpa adanya cinta kasih yang cukup. Disiplin dan cinta kasih adalah dua unsur yang sangat dipentingkan dalam pertumbuhan anak. Cinta kasih yang diberikan tanpa disiplin membuat si anak menjadi anak yang luar biasa egoisnya, kekanak-kanakan, tidak dewasa, menganggap semua orang harus tunduk kepadanya dan harus memenuhi keinginannya.



BAB III
MENGATASI ANAK YANG MEMBENCI ORANG TUA

A. Tugas Orang Tua
Langkah-langkah yang perlu kita lakukan sebagai orangtua untuk mengurangi sifat anak yang memberontak orang tuanya adalah sbb:
1. Sewaktu kita menghukum anak, kita mesti mengecek apakah kita telah memberikan peringatan kepada si anak. Prinsipnya kita tidak mendisiplin anak dengan pukulan, kalau kita belum memberikan dia peringatan kecuali dalam kasus yang mendadak.
2. Perhatikan bagaimana kita memukul anak, jadi tidak diperkenankan memukul anak misalnya dengan sekuat tenaga kita, semau kita, dan tidak diperkenankan memukul anak di mana saja yaitu di mukanya, di kepalanya atau dengan apa saja, dengan rotan, dengan kayu, dengan ban. Jadi kalau mau pukul anak, pukullah pantatnya karena itu bagian yang memang tidak terlalu melukai si anak.
3. Setiap kali kita mau mendisiplin anak, kita harus tanyakan diri kita apakah si anak ini mengerti kenapa si anak itu dipukul. Jadi menuntut kita untuk memberikan waktu setelah kita pukul anak untuk berbincang-bincang dengan kita.
4. Harus selalu mengecek sudahkah anak itu tahu bahwa dia dicintai oleh kita, cukupkah pengekspresian kasih kita kepadanya. Sebab jangan sampai si anak merasakan bahwa kita hanyalah datang untuk memukulnya, mendisiplinnya tanpa anak itu menyadari bahwa kita mengasihinya.
B. Tugas Seorang Konselor
Selain mendapatkan bimbingan dari orang tua, juga sangat diperlukan peran seorang konselor dalam membimbing seorang anak yang memiliki masalah kebencian dengan oaran tuanya. Ini disebabkan karena biasanya anak cenderung tidak suka menerima masukan dari orang yang dia benci. Untuk itu seorang konselor perlu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam masalah ini. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang konselor antara lain:
1. Menganalisa dengan melibatkan orang tua tentang apa kira-kira penyebab kebencian anak pada orang tuanya.
2. Mengadakan pendekatan sesuai dengan karakter kepribadian anak tersebut. Serta menggali penyebab kebencian menurut versi si anak.
3. Menasihati si anak menurut terang Firman Tuhan dengan penekanan tentang menghormati orang tua dalam sepuluh hokum.
4. Memberi masukan kepada oran tua tentang pola asuh yang benar terhadap anak dengan masalah tersebut.




BAB IV
KESIMPULAN

Setelah mepelajari tentang bagaimana seorang anak dapat membenci orang tuanya serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menolong baik anak maupun orang tuanya maka patutlah kita memunyai pemahaman yang benar terhadap anak. Kita harus melihat anak sebagai seorang manusia yang diciptakan Tuhan melalui darah dan daging kita untuk bertumbuh besar menjadi seorang yang mandiri dan terpisah dari kita. Kita mesti membesarkannya untuk menjadi seseorang sebagaimana diinginkan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkannya agar ia menjadi seorang manusia yang utuh dan siap berelasi serta dipakai Tuhan. Berangkat dari pemahaman ini, kita pun seyogianya mendoakan anak agar rencana Tuhan—bukan rencana kita--digenapi di dalam dan melalui hidupnya. Juga, berangkat dari konsep ini, kita pun mengerti bahwa kita tidak memunyai hak milik atas diri anak-anak kita, Tuhanlah yang memunyai hak milik atas dirinya.
"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah." (Markus 10:14) Tugas kita sebagai orang tua adalah membesarkan anak dan membawanya datang kepada Kristus. Jangan sampai kita malah menghalanginya datang kepada Tuhan karena kehidupan kita. Sadarlah bahwa anak hanya bertumbuh sekali. Ia tidak akan mengulang proses pertumbuhannya. Jadi, jangan sia-siakan waktu bersamanya. Kasihi anak dan nikmatilah kebersamaan dengannya.




DAFTAR PUSTAKA

________. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 1975
Dr. Paul Gunadi, http://www.telaga.org/audio/pemberontakan_anak_terhadap_orangtua
Martin dan Deidre. Bimbingan Berdasarkan Firman Allah. Bandung: Yayasan Kalam
Hidup. 1996.
http://kristologi.forumandco.com/t81-pengertian-anak-dalam-al-kitab
Seamands, David A. Kesembuhan Memori. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1997.
Sjiamsuri, Leonard A. Kuasa dan Berkat Ikat Janji. Jakarta: Nafiri Gabriel. 2008.

PENJELASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Seperti yang telah diketahui bahwa dasar dari perenungan filsafat adalah meragukan segala sesuatu. Tetapi keraguan itu tidaklah berguna sama sekali juga tidak ada usaha untuk menyingkirkan keraguan itu dengan suatu penjelasan yang logis. Untuk itulah diperlukan soatu teori tenntang penjelasan sehingga kita bisa memahami tentang hal-hal yang berada disekitar kita.
B. Pengertian Penjelasan
Penjelasan adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta, dengan keterangan itu dapat disimpulkan secara logis sehingga problematic atau keraguan yang menyelubungi fakta itu dapat dihilangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang ganjil atau menyalahi kebiasaan menuntut kita akan adalnya penjelasan. Seorang mahasiswa yang datang setiap hari tanpa terlambat tidak akann menimbulkan pertanyaan. Tetapi bila suatu hari dia datang satu jam terlambat, maka dosen pasti akan menanyakan. Jawaban yang diberikan atas keterlambatannya inilah yang disebut penjelasan atau keterangan.












BAB II
SIFAT PENJELASAN

Untuk menilai kuat dan tidaknya suatu penjelasan adalah relevansinya dengan fakta yang lain. Oleh karena itu kita membedakan adanya dua sifat penjelasan yaitu penjelasan ilmiah dan penjelasan yang tidak ilmiah.
Penjelasan ilmiah adalah keterangan yang dapat dibuktikan secara logis maupun inderawi. Andaikan si mhasiswa tadi menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan metromini yang dinaikinya mengalami kerusakan dan tidak ada kendaraan yang lain mungkin dinaikinya sehingga ia harus menunggu satu jam di jalan sementara bis tadi diperbaiki maka keterangan yang demikian adalah ilmiah. Dikatakan demikian karena keterangan ini oleh dosen dapat dibuktikan apakah ia berdusta atau bicara sebenarnya.
Suatu penjelasan atau keterangan dikatakan tidak ilmiah pertama karena penjelasannya tidak relevan dengan permasalahannya dan yang kedua penjelasan tidak mungkin dibuktikan. Bila si mahasiswa tadi menerangkan bahwa keterlambatannya karena sedang terjadi kelaparan di tanah Batak dan atau Para mahasiswa PPL IKSM disandera perompak Somalia, maka penjelasan ini tidak ada relevansinya dengan pokok masalah, sebab dia tinggal di Jakarta dan mahasiswa PPL IKSM tidak ada yang PPL di Somalia.
Selanjutnya, bila ia menerangkan bahwa keterlambatannya karena Tuhan menghendakinya, sebab Tuhan adalah maha Kuasa untuk membuat ia terlambat, inipun bukan penjelasan ilmiah karena hal ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara empiric.
Termasuk juga penjelasan yang tidak ilmiah adalah penjelasan yang didasarkan atas ketahyulan seperti: pesawat yang memuat jemaah haji Indonesia jatuh di India bagian timur karena jin-jin pengunungan Himalaya tidak rela wilayahnya dilewati pesawat asing.






BAB III
MACAM-MACAM PENJELASAN

A. Penjelasan Berdasarkan Bagian dan Faktor
Menjelaskan berdasarkan bagian-bagian atau faktornya adalah cara menjelaskan dimana kita menganalisis sesuatu berdasarkan unsur-unsur pokok suatu kenyataan serta hubungan pastinya antara masing-masing unsur pokok itu.
Contohnya dalam hal arloji. Arloji terdiri dari roda, pir, jarum, pasak-pasak kecil dan lain-lain. Tetapi kesemuanya ini tidak akan membentuk menjadi sebuah arloji apabil masing-masing tidak disusun menurut cara yang tertentu. Arloji tidak semata-mata merupakan kumpulan dari roda-roda, pir dan jarum, dan semua itu tidak disebut arloji jika bagian-bagian itu tudaj mempunyai hubungan tertentu dengan bagian-bagian yang lain. Maka demikian pula dengan Segala sesuatu di ala ini. Tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, susunan bintang, tetesan embun, sinar bulan, rasa marah semua dapat dianalisis untuk menunjukan masing-masing komponen dan factor-faktornya.serta hubungan antara setiap factor dengan factor lainnya.
B. Penjelasan Berdasarkan Keadaan / Kondisi
Adalah cara meberangkan sesuatu berdasarkan hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan keadaan diluar dirinya, untuk mengetahui bagaimana suatu fakta partikular melahirkan dan bergantung terhadap faktor lainnya dalam susunan yang lebih besar dan bagaimana suatu fakta tidak akan muncul kecuali dalam keadaan tertentu.
Macam penjelasan kali ini berbeda dengan yang pertama kerena sekarang kita hendak mencari bagaimana hubungan sesuatu dengan sesuatu yang di luar dirinya. Pada macam pertama kita memang menjelaskan juga hubungan sesuatu, tetapi masih dalam lingkup dalam dirinya.
Orang-orang primitif mengganggap bahwa sesuatu itu adalah sempurna dirinya tanpa berhubungan dengan sesuatu yang lain. Mereka tidak mengenal bahwa sesuatu itu merupakan komponen, bagian, anakan dari sesuatu sistem yang lebih besar. Mereka tidak pernah melihat dunia ini sebagai sesuatu keseluruhan. Bagi mereka, sesuatu itu merupakan potongan-potongan wujud yang terlepas, yang keadaannya yang berkaitan atau berhubungan dengan lainnya. Dengan kata lain mereka memandang dunia ini terdiri dari sesuatu yang terpisah-pisah, sesuatu yang berdiri sendiri yang hubungan antar satu dengan lainnya hanya merupakan kebetulan.
Meskipun orang-orang primitif selalu melihat pelangi letaknya berlawanan dengan letak matahari, tetapi mereka tidak menyadari, bahwa posisi ini merupakan hal yang mutlak bagi wujudnya pelangi. Ia sudah barang tentu akan mempercayai bila dikatakan kepada mereka bahwa telah terjadi pelangi dimana matahari berada ditengahnya. Ia melihat lebah madu hinggap pada bunga jambu, tetapi ia tidak mengerti apa hubungan antara keduanya, bahwa bungan jambu memerlukan kedatangan lebah untuk penyerbukan, sedangkan lebah membutuhkan madunya.
Mereka mengetahui bahwa matahari beredar di langit, tetapi mereka tidak mengetahui hubungan pastinya dengan bumi mereka tinggal, misalnya jika matahari itu menjauh dari bumi maka tidak akan lagi kehidupan manusia di bumi ini. Karena hubungan inilah maka klita tidak mungkin menjumpai ada buah kelapa tumbuh pada dahan jambu, tidak ada air membeku dalam temperature 40 derajat Celcius, tidak ada senyum pada mukayang gemetar ketakutan, tidak ada tumbuhan tembakau hidup subur di rawa-rawa, tidak ada kambing beranak anjing, tidak ada perkawinan antan manusia dengan anjing mendatangkan turunan dan sebagainya.
Setiap fakta itu mempunyai hubungan yang pasti dengan fakta yang lain dan baru oleh pengetahuan modern manusia diantar untuk mengetahui hubungan-hubungan yang tidak berubah antara fakta-fakta lain. Ilmu pengetahuan modern dengan penemuannya menunjukkan bahwa setiap wujud dalam ala ini mempunyai hubungan dan ketergantungan dengan lainnya.
C. Menjelaskan berdasarkan hubungan sebab akibat
Sejauh ini kita telah membicarakan dua macam cara menerangkan, tetapi sejauh itu kita masih mencari hubungan antara dua fakta dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan kita dapat juga menjumpai hubungan dua buah fakta atau lebih dalam waktu yang berurutan, antara fakta-fakta yang secara tetap terjadi lebih dahulu dan diikuti oleh fakta lainya pada waktu tang lebih kemudian.
Sebagaimana telah kita lihat bahwa orang-orang primitif memandang alam ini sebagai suatu susunan yang serampangan dan kacau. Perjalanan peristiwa mereka lihat sebagai suatu kebetulan. Mereka membayangkan bahwa segala sesuatu dapat terjadi dalam keadaan apapun dan dalam waktu manapun mereka dapat mempercayai bahwa dua buah gunung di New Zealand letaknya terpisah karena keduanya dulunya bertengkar, bahwa Buddha sampai diperut ibunya lewat sinar bulan dan sebagainya.
Sekarang, kita telah menyadari bahwa tidak ada sesuatu peristiwa terjadi secara kebetulan. Ada susuna yang berkosisten yang melahirkan adanya peristiwa-peristiwa itu di dalam perjalanan waktu. Kita telah lama menyadari bahwa apabila dalam suatu kondisi tertentu terjadi, maka peristiwa tertentu yang tetap akan mengikutinya. Kita kemudian menyadari bahwa kondisi tertentu yang melahirkan peristiwa terjadi yang terjadi kemudian adalah merupakan sesuatu yang esensial yang kemudian disebut “Sebab”. Sedangkan peristiwa yang terjadi kemudian yang secara tetap muncul manakala kondisi tertentu terlaksana kita sebut “akibat”. Cara menjelaskan berdasarkan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi dengan melihat kondisi yang menyebabkan lahirnya peristiwa itu adalah cara menerangkan berdasarkan sebab akibat. Kita telah berbicara mengenai hal ini bab yang lalu.

D. Penjelasan Berdasarkan Fungsinya.
Ini adalah cara menjelaskan suatu fakta bagaimana sesuatu itu mempunyai kedudukan terhadap fakta atau peristiwa lain. Macam penjelasan ini berbeda dengan macam sebelumnya karena disini bukan bagaimana fakta lain mempunyai hubungan yang pasti terhadap suatu fakta tertentu, melainkan bagaimana suatu fakta tertentu itu memegang peranan bagi falta lainnya.
Cara penjelasan ini digunakan misalnya bila kita hendak menerangkan tentang benda-benda hidup dan fakta-fakta yang berkaitan dengannya. Kita dapat menggunakan macam penjelasan ini manakala kita ingin menerangkan hidung yang kita miliki apa fungsinnya, juga tentang fungsi dari lebah madu bagi bunga, tentang music bagi jiwa raga manusia, tentang klorofil bagi tumbuhan, tentang presiden bagi pemerintahan suatu Negara, tentang dosen bagi mahasiwa, tentang tugas presentasi dan makalah bagi nilai mata kuliah dan lain sebagainya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membahas tentang penjelasan baik pengertian, sifat dan macamnya maka dapat disimpulkan bahwa sebuah fakta itu dijelaskan atau diterangkan saat kita tidak semata-mata menyatakan apa adanya tetapi kita menjelaskan hubungannya dengan fakta-fakta lain untuk mengetahui bagaimana fakta itu terhubung dan tergantung satu sala lain.
Dengan penjelasan, maka fakta tidak lagi merupakan informasi yang terisolasi melainkan dipahami sebagai bagian dari system, tatanan dan bentuk yang universal. Maka dengan demikian pula kita bisa menjawab setiap keraguan kita sehingga kita bisa memiliki pengertian dan pemahaman yang lebih baik lagi.
B. Aplikasi
Sebagai seorang akademisi (mahasiswa, dosen maupun yang terkait dengan dunia akademis) sangat penting untuk memahami tentang penjelasai ini karena ini merupakan dasar dari komunikasi pendidikan. Dikatakan dasar karena pendidikan sendiri secara umum adalah usaha yang dilakukan untuk menjelaskan pengertian kepada para peserta didik. Jika seorang pengajar tidak bisa menjelaskan dengan baik, maka tujuan dari pendidikan itu dengan sendirinya tidak akan pernah tercapai.








Sumber:
Mahmudi, H. Logika. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 1994.

IBADAH YANG BENAR MENURUT KITAB PENGKHOTBAH 4:17-5:6

BAB I
LATAR BELAKANG KITAB PENGKHOTBAH

Kitab Pengkhotbah adalah salah satu kitab yang cukup sulit dipahami. hal ini karena jika kita membaca kitab Prngkhotbah sepintas lalu maka orang akan cenderung beranggapan bahwa kitab ini bersifat skeptis dan menggambarkan kesia-siaan serta keputusasaan. Namun bagi orang yang membaca kitab ini dengan penuh perhatian, maka akan ditemukan bahwa kitab ini sesungguhnya sangat kaya tentang aspek-aspek kehidupan manusia.
Judul kitab ini berasal dari bahasa Ibrani להת וֹקּ (qoheleth) yang berasala dari kata הלקּ (qahal) yang berarti ‘kumpulan, perhimpunan’. Dalam LXX kitab ini adalah εκκλησιαστής dari kata εκκλησία yang berarti sama yaitu orang yang berkhotbah dalam perkumpulan. Tradisi Yahudi mengakui bahwa penulis kitab ini adalah Salomo pada masa tuanya (931 BC). Namun demikian ada juga beberapa ahli penganut literer criticism yang mengatakan bahwa Salomo bukan penulis kitab ini karena mengacu pada beberapa kosa kata yang telah bercampur dengan bahasa Aram dimana bahasa ini hanya ditemukan sesudah pembuangan Babel (400-200 BC).
Untuk itu maka penulis menyimpulkan bahwa penulis kitab ini adalah Salomo namun telah melalui proses penyalinan kembali maupun editing sehingga bias menjadi seperti bentuknya yang sekarang. Yang pasti, kitab Pengkhotbah ini sangat kaya dengan filosofi kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah aspek ibadah yang benar seperti yang kelompok kami bahas dalam presentasi ini.



BAB II
IBADAH YANG BENAR

Dalam Pengkhotbah 4:17-5:6 ini Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop “Takutlah akan Allah” namun judul perikop ini kami anggap terlalu luas sehingga kelompok kami mengambil tema yang lebih khusus tentang “ibadah yang benar”.
4:17 – Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkana korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.
Dalam ayat ini, Pengkhotbah menyerukan kepada umat tentang bagaimana menghampiri Allah atau bagaimana seharusnya orang datang beribadah dalam rumah-Nya. Menghampiri untuk mendengar berarti datang dengan suatu keingintahuan, ingin mengerti dan memahami serta Mengenal Allah. Bukan hanya terpusat pada korban persembahan yang sudah menjadi rutinitas sebab hal demikian dipandang jahat oleh Allah.
Hal ini sering terjadi dalam kehidupan ibadah orang percaya dimana ada orang-orang yang terlalu terpusat pada gaya, penampilan, kolekte bahkan cara penyembahan tanpa kerinduan untuk mengerti dan memahami firman Allah dengan benar.

5:1 – Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.
Melalui ayat ini, Pengkhotbah kembali memperingatkan agar umat yang hendak dating beribadah kepada Allah senantiasa memperhatikan perkataannya. Orang Yahudi biasa mengucapkan nazar sewaktu beribadah dan menyembah Tuhan. Perkataan yang dimaksud di sini bukan hanya perkataan mulut saja melainkan perkataan dalam hati juga. Hal ini dikarenakan Allah Maha Kuasa dan sanggup mengetahui apa yang kita katakan sekalipun dalam hati. hal ini pula yang di katakan Yesus dalam Matius 12:36,37.

5:2 – Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.
Ayat ini merupakan contoh praktis tentang makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan untuk salah. Mimpi yang yang dimaksud Pengkhotbah bukanlah mimpi sebagaimana Allah berbicara pada hambaNya (1 Raj. 3:5; Ayub 33:15) melainkan mimpi sebagai bunga tidur. Penelitian medis membuktikan bahwa sebelum mati, otak manusia tidak pernah berhenti beraktifitas sekalipun dalam keadaan tidur.Dan mimpi merupakan refleksi otak terhadap aktifitas pemiliknya sadar maupun tidak sadar.

5:3-4 – Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar daripada bernazar tetapi tidak menepatinya.
Inilah Alasan utama kenapa manusia umat yang hendak beribadah kepada Allah harus berpikir matang-matang sebelum dating beribadah dan mengucapkan nazar kepada Allah. Pengkhotbah mengingatkan bahwa Allah tidak senang kepada pembohong. Jika umat Allah telah bernazar, maka haruslah segera melakukana nazarnya tersebut. Ayat ini parallel dengan Mazmur 66:13-15 tentang sikap umat yang hendak beribadah dan mempersembahkan korban kepada Allah.
Banyak orang percaya saat ini yang terjebak dalam nazar yang tidak dipikirkan sebelumnya. Nazar atau janji kepada Tuhan bukan hanya ketika kita berdoa melainkan dalam setiap perkataan liturgical kita termasuk nyayian. Banyak lagu-lagu yang mengandung nazar maupun pernyataan yang sebenarnya belum bisa dan bahkan tidak bisa kita lakukan namun dengan gampangnya kita mengucapkannya.

5:5 – Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?
Ayat ini menggambarkan tentang bagaimana orang Israel datang beribadah di bait suci dan bernazar di hadapan imam dan saat dia kembali ternyata dia belum melakukan nazarnya tesebut kemudian berkata kepada imam bahwa dia khilaf. Pengkhotbah mengatakan bahwa Allah tegas dalam hal ini. makanya sejak awal telah diingatkan untuk berhati-hati dengan perkataan. Lebih baik tidak bernazar daripada bernazar tapi tidak menepati. Menepati perkataan juga disebut integritas. Setiap orang percaya dituntut memiliki integritas – kesatuan antara perkataan dan tindakan.

5:6 – Karena sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.
Ayat ini merupakan penegasan dari ayat 2 namun memiliki tambahan yang merupakan inti dari ibadah yang benar yaitu harus disertai dengan takut akan Allah. Takut akan Allah bukan berarti bersembunyi dan takut bertemu dengan Tuhan sperti yang dilakukan Adam dan Hawa ketika berdosa. Takut akan Allah berarti menghormati dan taat pada-Nya, dan ini merupakan bagian dari kasih kita pada Allah.






BAB III
KESIMPULAN

Dalam ibadah yang benar, umat Tuhan tidak hanya dituntut untuk memuji dan memuliakan Allah lewat persembahan, penyembahan bahkan pernyataan-pernyataan imana yang muluk-muluk namun Allah menuntut integritas kita. Allah menghendaki ibadak kita didasarkan akan rasa takut akan Allah.Takut akan Allah berarti memiliki rasa hormat panda-Nya, mengasihi dia dengan segenap hati dan mentaati firman-Nya.
Sebagai orang percaya, bukana lagi merupakan kewajiban kita untuk datang beribadah pada Allah. tapi lebih dari itu, datang kepada Allah merupakan hak kita karena itulah tujuan-Nya menciptakan kita, yaitu untuk hidup bersekutu dengan Dia dalam kasih kekal.




Daftar Pustaka:

_______. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 2006.
_______. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: YKBK/OMF. 2007.
Aritonang, M. P. Pengetahuan dan Pembimbing Perjanjian Lama. tp. 2007.
Dwi Agus Priono, Tafsir Pengkhotbah, http://dwiaguspriono.blogspot.com
Wikipedia Indonesia. http://id.wikipedia.org/kitab_pengkhotbah.
Matthew Henry’s Commentary. Eccleciastes 5. http:www.christnotes.org/commentary.php.

Wednesday, March 23, 2011

ARE YOU THE ONE FOR ME?

(Apakah Engkau yang Terpilih bagiku?)
Mengetahui yang benar dan menghindari yang salah
#### Oleh: Barbara De Angelis, Ph.D #####

Jatuh cinta adalah pengalaman yang ajaib dan kuat. setiap ciuman, setiap percakapan, setiap saat pada awalnya tampak begitu benar, begitu sempurna tapi segera tarik dan kegilaan menjadi "hubungan" dan kita dibawa turun ke bumi dengan realitas menantang berbagi hidup kita dengan manusia lain. dan minggu-minggu terpesona pertama berubah menjadi bulan, satu hari kita menemukan diri kita bertanya "ini orang yang tepat untuk saya?"
Jika Anda lajang, saya berharap buku ini akan memberi Anda alat-alat dan petunjuk untuk membuat sehat, pilihan sukses dalam pasangan Anda untuk hubungan berikutnya.
Jika Anda pulih dari patah hati, saya berharap buku ini akan membantu Anda memahami mengapa pilihan hubungan Anda tidak yang baik untuk Anda, dan akan memberikan informasi yang akan membantu Anda membuat pilihan yang jauh lebih bijaksana dan kurang menyakitkan waktu berikutnya.
jika Anda belum menikah tetapi dalam suatu hubungan, saya berharap buku ini akan mendukung Anda dalam mendapatkan jelas tentang apakah hubungan Anda yang tepat bagi Anda, jadi Anda tidak perlu membuang waktu dan energi pada hubungan yang tidak akan bekerja.
Jika Anda berada dalam hubungan komitmen atau perkawinan, saya berharap buku ini akan menunjukkan bahwa banyak konflik Anda dan pengalaman pasangan Anda mungkin berasal bukan dari kurangnya cinta, tapi kurangnya kompatibilitas, dan bahwa perbedaan pemahaman Anda dapat membantu Anda hidup lebih damai dan penuh semangat bersama.

Hubungan tidak bekerja karena:
1. Anda mencintai orang yang tepat tetapi anda salah mencintai.
2. Anda bersama orang yang tidak tepat.
Lima Mitos Cinta Mematikan
Banyak diantara kita yang mempercayai mitos cinta sebagai suatu kisah (roman) yang sebenarnya menghalangi kita untuk membuat keputusan yang tepat tentang cinta.
Adapun beberapa mitos yang salah tentang cinta adalah:
1. Cinta Sejati menaklukan segalanya.
Jauh di dalam hati kita, secara diam-diam kita percaya mitos ini, bahwa jika kita benar-benar mencintai pasangan kita, kita bisa membuat hubungan jadi berjalan dengan baik. Tanpa masalah dan tanpa konflik asalkan kita benar-benar mencintai.
2. Ketika itu Cinta Sejati, saya akan tahu. Ini akan "cinta pada pandangan pertama."
Hanya butuh beberapa sat untuk cinta hawa nafsu, tapi cinta sejati membutuhkan waktu yang panajng.
3. Ada Hanya Satu Cinta Orang Benar bagi-Ku.
Sangat memungkinkan untuk mengalami cinta yang benar dengan lebih dari satu orang. Ada banyak pasangan potensial yang bisa membuat kita bahagia dengannya.


4. Pasangan Sempurna Akan memenuhi setiap keinginan kita.
Jika anda merasakan kekosongan emosional sebelum memulai suatu hubungan, anda hanya akan merasakan kkekosongan juga saat memulai hubungan tersebut.
5. Saat Anda mengalami pengalaman seksual yang luar biasa, itu pasti Cinta.
seks yang baik tidak ada hubungannya dengan cinta sejati, tetapi hanya tentang hubungan seks itu saja.

Tujuh Alasan yang Salah dalam Menjalin Hubungan

1. Tekanan.
• Tekanan usia
• Tekanan dari keluarga dana teman.
2. Kesepian dan putus asa.
Saat Anda merasa kesepian, Anda seperti telah membuat pilihan cinta yang salah dan mengakhiri hubungan yang tidak memuaskan.
3. Kelaparan Seksual.
Dengan kelaparan seksual, Anda bisa saja tidak akan tertarik kepada pasangan anda. Anda akan mengingini orang lain.
4. Gangguan untuk kehidupan Anda sendiri. Anda menyukai gangguan, bukan orangnya.
Apakah anda pernah berpikir bagailana pengalihan bisa menjadi cinta? Anda berpikir tentang perasaan orang lain, apa yang mereka butuhkan, apa yang membuat mereka bahagia serta bagaimana kebiasaan mereka. Ini hanyalah beberapa contoh.
5. Tidak ingin tumbuh.
Anda mungkin berada pada bagian hubungan yang seperti ini apabila:
• Ada perbedaan usia yang jauh antara anda dan pasangan anda.
• Ada perbedaan besar dalam hal finansial dan kesuksesan profesi antara anda dan pasangan anda.
• Ada kontras yang besar menyangkut level pengalaman hidup antara anda dan pasngan anda..
• Salaah satu pasangan selalu melihat yang lain hanya untuk menolong dan menasihati.
6. Rasa bersalah
Saat anda memutuskan untuk berhubungan dengan seseorang yang tanpa kesalahan dan bukan karena cinta, Anda menghacurkan mereka dan diri anda sendiri.
7. Ingin untuk mengisi kekosongan spiritual atau emosional dengan hubungan.
Kepenuhanlah yang membuat hubungan berjalan baik dan buakan kekosongan.

6 Kesalahan terbesar yang kita lakukan dalam memulai suatu hubungan:
1. Kita tidak memiliki cukup pertanyaan
Kita terlalu sibuk mencari alasan kenapa kita harus mencintai seseorang ketimbang kita meluangkan waktu untuk mencari alasan kenapa kita tidak harus mencintainya.
2. Kita menolak tanda peringatan dari suatu masalah
Sebuah hubungan tidak hanya berlaku dalam satu malam saja, tapi berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun sampai akhirnya cinta itu hancur.
3. Kita membuat kompromi yang terlalu dini (prematur)
Bahaya dalam kompromi yang terlalu dini adalah bahwa anda akan kehilangan kepekaan diri pada awal sebuaha hubungan dan membuat kepekaan harmonis yang salah antara anda dan pasangan anda.

4. Kitaa hanyut dalam kebutaan hawa nafsu
Saat anda belajar merasakan orang lain dengan hatimu dan tidak hanya sekedar melihat mereka melalui pandangan mata saja, Anda akan menarik lebih banyak pasangan yang cocok dalam hidup anda.
5. Kita menyerah dalama hal godaan materi
Saat anda memilih pasangan berdasarkan apa yang dia bisa berikan kepada anda secara materi lebih dari pada secara emosional, maka anda akan berakhir dalam suatu hubungan yang salah.
6. Kita membuat komitmen sebelum merasa ada kecocokan
Hal-hal yang bisa membuat kita berkomitmen sebelum merasa ada kecocokan antara lain:
• Terlalu menyukai hubungan dengan seseorang lebih daripada sendirian.
• Lelah berpacaran dan ingin mencoba pasangan yang baru.
• Merasa tidak dicintai atau tertolak pada masa kecil.
• Merasa terhilang / menjadi pecundang saat tidak memiliki suatu hubungan.
• Merasa tertekan oleh orang lain untuk segera mencari pasangan.
• Sebagai wanita, merasa “jam biologis”nya mulai habis.

10 Tipe Hubungan yang Tidak Bisa Berjalan Baik
1. Anda terlalu perhatian kepada pasangan anda lebih dari perhatiannya kepada anda.
Apapun alasannya, apabila anda mencintai pasangan kita lebih daripada dia mencintai anda, maka hasilnya akan sama yaitu:
• Anda akan mengakhirinya dengan perasaan dikendalikan oleh pasangan.
• Anda akan amengkahirinya dengan perasaan lapar akan cinta.
• Anda akan mengakhirinya dengan perasaan marah.
• Anda akan mengakhirinya dengan perasaan dicurangi.
• Anda akan mengakhirinya dengan perasaan tidak senang/kecewa.
2. Pasangan Anda terlalu peduli pada Anda lebih daripada kepedulian Anda padanya.
Saat Anda dalam tipe hubungan yang seperti ini, Anda akan tidak pernah sungguh-sungguh puas, sejak Anda tidak memberikan hati anda secara utuh.
3. Anda mencintai pasangan anda hanya karena potensinya
Memiliki hubungan yang sehat dengan seseorang berarti mencintai dia sebagaimana adanya dia sekarang bukan mencintainya dalam kedengankian hari ini atau dalam harapan bagaimana jadinya dia nanti.
4. Anda dalam misi penyelamatan
Orang yang memulaia hubungan dengan misi menyelamatkan pasagannya secara emosional biasanya membuat kesalahan dalam hal simpati untuk cinta.
5. Anda melihat pasangan anda sebagai pemeran/model.
Satu-satunya cara agar hubungan anda bisa berjalan dengan baik adalah dengan mencintai dan menghargai diri anda sendiri sebagaimana anda mencintai dan menghargai pasangan anda .
6. Anda tergila-gila pada pasangan anda karena alasan eksternal.
Jika anda menemukan bahwa anda tergila-gila pada salah satu bagian dari pasangan anda, bertanyalah pada diri anda sendiri: “jika dia tidak memilikinya, apakah saya masih akan mau bersamanya?”

7. Anda hanya memiliki kecocokan sebagian.
Anda mungkin termasuk dalam tipe seperti ini apabila:
• Anda bertemu dengana pasangan anda dalam suatu permasalahan yang sama dan sering membicarakannya.
• Anda dan pasangan anda terlibat dalam aktifitas rutin yang sama.
• Anda bertemu pasangan anda dalama asuatu acara khusus.
8. Memilih pasangan karena ingin memberontak.
Tipe hubugan seperti ini tidak seperti biasanya dan bisa menciptakan drama yang luar biasa dalam hidup.
9. Anda memilih pasangan sebagai reaksi dari hubungan anda dengan pasangan sebelumnya.
Temukan semua kualitas yang Anda butuhkana dalam sebuah hubungan dan suatu hubungan yang bisa seimbang dengan hal itu.
10. Pasangan Anda adalah orang yang tertolak ataua bermasalah.
Jika Anda terhubung dengan seseorang yang memiliki hubungan dengan orang lain, Anda harus menerima bahwa orang tersebut adalah sisa/mantan orang lain.

Kesalahan Fatal yang harus diwaspadai pada pasangan:
1. Kecanduan
Saan anda mencintai seseorang dengan kecanduan, Anda berada dalama cinta segi tiga – anda, pasangan anda dan apapun itu yang membuat dia kecanduan.
2. Kemarahan
Ada beberapa alasan orang tumbuh mencadi seorang pemarah:
• Mereka pernah disakiti secara fisik, verbal maupun seksual waktu masa kecil.
• Mereka merasa tidak dicintai dan tertolak pada masa kecil.
• Mereka merasa tidaka berdaya semasa kecil.
Tekanan kesedihan pada masa kecil bisa membuat seseorang jadi pemarah saat dewasa.
3. Korban Kesadaran
Para korban lebih banyak menghabiskan waktu dengan membantah hal-hal yang tidak benar lebih dari melakukan sesuatu untuk mengubahnya.
4. Gila Kontrol
Gila kontrol tidak mau menerima masukan apa yang harus dilakukan, itu hanya akan membuat mereka berada di luar kontrol. Kesalahana fatal ini susah disembuhkan karena mereka sangat membenci sesuatu yang tidak bisa dikendalikan dan ini merupakan masalah khususnya dalam hal menerima orang lain.
5. Kelainana Seksual
Ada beberapa kategori kelainan seksual:
• Kecanduan seksual dan obsesi.
• Kekurangan integritas seksual
• Masalah kemampuan seksual.
6. Pasangan Anda tidak bertumbuh
Anak-anaka yang marah terhadap kontrol orang tua terhadap mereka biasanya akan bertumbuh dalam kedewasaan yang suka memberotak terhadap semua otoritas diatasnya.
7. Ketidaktersediaan emosional pada pasangan.
Jika anda menikah dengan seseorang yang tidak mau membicarakan masalah emosi, anda tidak dalam suatu hubungan, anda hanya berada dalam suatu aturan hidup.
8. Pasangan anda belum dipulihkan dari hubungan masa lalu
Semakin banyak kemarahan tentang masa lalu yang anda simpan dalam hati, semakin sedikit kemampuan anda untuk mencintai di masa sekarang.
9. Kerusakan emosi sejak kecil
Semua orang membawa bagasi emosional sejak kecil ke dalam hubungan ketika dewasa. Dan hal-hal itu akan sangat mempengaruhi hubungan, entah itu hal baik maupun hal yang buruk.

Ada Beberapa bom waktu yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan hubungan:
1. Perbedaan usia yang signifikan.
Perbedaan usia yang terlalu jauh bisa menyebabkan perbedaan-perbedaan prisip dan pandangan antara kedua pasangan.
2. Latar belakang agama yang berbeda
Jangan biarkan bom waktu ini meledak di depan kita, lebih baik menghindar sebelum masalah ini menjadi lebih serius.
3. Perbedaan latar belakang sosial, suku dan pendidikan
Mencoba menerima sesuatu yang tidak nyaman dari pasangan anda akan sangat menyakitkan orang itu pada akhirnya, ketika perasaan kita yang sebenarnya muncul.
4. Hubungan Jarak Jauh
Tujuan dari sepasang kekasih dalam hubungana yang “normal” adalah menjadi lebih mencintai dan lebih intim satu sama lain. Sedangkan tujuan dari pasangan jarak jauh adalah agar keduanya bisa saling bertemu lagi.




Apakah Anda Siap Jatuh Cinta?
Ada beberapa pertanyaan yang perlu anda tanyakan pada diri sendiri untuk memastikan apakah anda siap untuk memiliki suatu hubungan yang intim:
1. Apakah saya masih mencintai mantan saya?
2. Apakah saya masih membawa-bawa masalah dengan mantan saya sebelumnya?
3. Apakah saya merasakan kekosongan rohani dan emosional dengan diri saya?
4. Apakah saya tidak menyukai diri saya?
5. Apakaha saya merasa hanya memiliki sedikit hal berharga yang bisa diberikan kepada pasangan?
6. Apakah saya punya kecanduan yang belum ku bereskan?
7. Apakaha saya sangat merasa kesepian dan tertolak bahwa saya tidak senang tanpa suatu hubungan?
8. Apakah saya merasa tidak ada seorangpun yang mau menjalin hubungan dengan saya?
9. Apakah saya menemukan bahwa hampir tidak mungkin untuk merasakan emosi?
10. Apaka saya tidaka mau membicarakan tentang emosi dengan orang lain?
Jika anda menjawab “YA” bahkan hanya untuk salah satu pertanyaan saja, anda mungkin belum siap secara emosional untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

JOHANN HEINRICH PESTALOZZI PENDIRI SEKOLAH DASAR MODERN

Dari Buku Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen Oleh: Robert R. Boehlke, Ph. D.


BAB I
RIWAYAT HIDUP JOHANN HEINRICH PESTALOZZI

Johann Heinrich Pestalozzi lahir dan dibesarkan di Zurich Swiss pada tanggal 12 Januari 1746. Dia berasal dari keluarga Protestan, ayahnya seorang doctor yang meninggal waktu Heinrich berumur enam tahun dan hanya meninggalkan sedikit warisan.
Setiap liburan, Heinrich tinggal dengan kakeknya, seorang pendeta Protestan yang melayani di desa. Hal inilah yang mendorong Heinrich untuk menjadi pendeta namun keinginan ini buyar setelah dia lupa akan isi khotbahnya pada saat membawakan khotbah di depan ujian klasis. Sebelumnya dia juga pernah berbuat kesalahan dalam menuntun para hadirin mengucapkan “doa Bapa kami”.
Heinrich kemudian beralih ke bidang hukum agar dapat masuk ke dalam pemerintahan dan meyusun undang-undang yang memihak kaum lemah. Namun hal ini kembali menemui kegagalan karena keterlibatannya dalam kelompok politis yang dianggap radikal oleh pemerintah.
Pestalozzi kemudian menjalin hubungan dengan Anna Schulthess namun hubungan mereka tidak direstui orang tua Anna karena Pestalozzi seorang pengangguran miskin. Pestalozzi kemudian belajar tentang pertanian dan bisa meyakinkan keluarga Anna sehingga mereka menikah pada tanggal 30 September 1769.Pestalozzi kemudian membuka lahan pertanian di Neuhof namun kembali usaha pertaniannya tidak berhasil karena terjadi perselisihan dengan tetangga mereka yang mayoritas peternak.
Melihat kemalangan anak-anak di sekitarnya dan melihat rumahnya yang setengah kosong, Pestalozzi kemudian mendirikan sekolah bagi anak-anak miskin dan mengajarkan tiga tujuan yaitu: memperbaiki akhlak para pelajar, mendidik untuk dapan membaca, menulis dan berhitung dan melatih anak-anak keterampilan yang bisa menolong mereka keluar dari kemelaratan. Hasil dari keterampilan mereka gunakan untuk membiayai sekolah namun karena tidak bisa mandiri, sekolah itupun ditutup.
Pestalozzi juga gagal mengurus rumah tangganya ketika dia menjadi pengangguran dan anaknya memiliki keterbelakangan mental sehingga orang-orang sempat menganggap bahwa Pestalozzi gila. Namun karena bantuan dan motifasi dari teman-temannya, dia bisa mendapat kesempatana menuangkan idenya dalam lomba menulis sehingga orang-orang mulai mengenal karyanya.
BAB II
DASAR PENDIDIKAN

A. Pandangan Teologis
Pestalozzi tidak sabar dengan system dogmatis yang berlaku dalam gereja Reformasi pada saat itu. Dimana para pendukung system tersebut hanya bisa dan rajin menyusun ajaran teologis “benar” saja daripada mewujudkannya ajaran tersebut kedalam kehidupan sehari-hari. Pestalozzi adalh seorang Kristen yang mentaati kedua hukum ilahi yang diutamakn kembali oleh Yesus:”Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang yang lebih utama daripada kedua hukum itu.” Pestalozzi sangat menghayati kedua hukum ini.
Pestalozzi memakai pengertian sederhana tentang iman Kristen. Dalam tulisannya, Pestalozzi mempunyai lima pokok utama yang mencolok:
1) Kepercayaan Kepada Allah
Jika Allah Bapa bukan lah Bapa kita, maka tidak ada dasar yang dapat dipercayai untuk menghadapi tantang hidup ataupun mengembangkan pendidikan yang berhasil. Dalam Amsal 1:7 dituliskan“takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”
2) Alam Sebagai Pedoman
Pesatalozzi sangat bertolak belakang denga pendapat Rousseau yang memilki pandangan yang baik terhadap alam dalam pendidikan. Pestalozzi tidak memiliki pandangan seindah itu terhadap alam. Pestalozzi tidak mengaggap alam sebagai kekuatan yang merdeka, seakan-akan alamalam itu berdiri atas kekuatannya sendiri, sedngkan pencipta alam adalah Allah sendiri. Jadi bagi Pestalozzi alam tersebut bergantung kepada kehendak Allah.
3) Yesus Sebagai Juruselamat Dunia
Nama Allah dan Yesus terus dimasukkan kedalam karyanya, hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya hubungan dengan Yesus baginya. Pestalozzi betul-betul hidup untuk melayani orang-orang yang paling hina. Dan dia sangat mengharapkan tindakan-tindakan yang serupa dilakukan oleh para pendidik-pendidik lainnya. Dan hendaknya berpatokan kepada Tuhan Yesus Kristus.
4) Manusia: Jati Diri dan Tugasnya
Jati diri manusia dibahas dalam tiga pokok yakni:
a) Sebagai makhluk dari alam
Yaitu Pestalozzi ingin mengarahkan jati diri manusia sebagai makhluk dari alam, untuk menghilangkan dasar bagi manusia yang membuat manusia kedalam kelas social. Karena semua orang memiliki struktur jasmani yang sama. Dari segi pembawaan almiah memang terdapat perbedaan, tetapi setiap manusia berhak untuk bertahan hidup sekalipun dari orang terpelajar yang sangat rendah dengan seluruh hasil alam yang ada. Yang sangat dibutuhkan dalam hal ini ialah kesadaran setiap orang sebagai makhluk yang bersosial.
b) Sebagai makhluk social
Terkadang orang-orang menyerahkan sebagian kemerdekaanya atau apa yang dia punya untuk meproleh keamanan. Orang yang mempunyai harta akan lebih tinggi dari mereka yang tidak punya atau bisa disebut seperti seorang raja. Sedangkan dalam hati manusia selalu timbul kebutuhan-kebutuhan yang lain, sehingga dalam diri seseorang harus hidup sebagai makhluk yang bermoral.
c) Sebagai makhluk moral
Moralitas adalah prestasi dari kehendak manusia, suatu hasil watak yang baik yang menang atas perasaan yang memntingkan kepentingan sendiri. Untuk bertumbuh secar moral, kita harus merasa secara dalam. Dengan kat lain, suatau tindakan atau kelakuan boleh dikatakan sebagai moral sejauh manan tindakan atau kelakuan itu dilaksanakan karena dipaksa oleh kebiasaan social atau hukum negera, tetapi dari keputusan pribadi.

5) Pengalaman Beriman Secara Pribadi
Lewat pengalaman yang dilewati sejak kecil baik dalam suka maupun duka didalam kehidupannya. Yang hidup bersosial, yang hidup dilingkungannya dan yang mengabdikan diri kepada Allah.

B. Dasar Ilmu Jiwa
1. Sumber Dasar Ilmu Jiwa
Pestalozzi menganggap bahwa Alkitab sumber bagi hal-hal rohani. Dia memulai penelitian sesuai denga praduga bahwa kunci untuk membuka rahasia perkembangan anak terletak dalam alam sendiri.
2. Asas-asas Belajar Mengajar
Berdasarkan metode percobaan dan analogi dalam alam itu, Pestalozzi menemukan asas-asas belajar-mengajar sebagi berikut:
 Si guru membagi bahan yang diajarkan
 Anak belajar lebih baik kalau guru memusatkan perhatian pada tugas belajar yang terbatas.
 Sianak belajar melalui pancaindra
 Semua pengatahuan yang diperoleh melalui pancaindra dapt digolongkan dibawah tiga kata, yaitu jumlah, bentuk dan bahasa.
 Pengalaman belajar akan lebih berhasil bila guru mengelompokkan bagian pengetahuan yang sifatnya sama, paling tidak mirip antara yang satu demnga yang lain.
 Kecenderungan untuk ditarik oleh keindahan telah ditanamkan oleh alam dalam diri manusia
 Walaupun terdapat hukum-hukum alamiah tentang cara belajar, namun dalam hukum-hukum itu tanpak banyak kesempatan untuk bertumbuh secara bebas sesuai dengan kebutuhan dan sifat setiap orang.
3. Pertumbuhan Iman
Berbicara mengenai pertumbuhan iman, sangat dekat dengan hati Pesatlozzi, yakni pertumbuhan iman dalam diri seorang anak. Pertumbuhan seorang anak sebagi hasil dari mengalami kasih dan iman dalam diri ibunya. Pestalozzi sendiri berusaha untuk menjadi seorang ayah dan menjadi seorang ibu dalam hubungannya denga anak-anaknya. Bagi seorang anak, kasih yang nyata yang kemungkinan besar bahwa anak akan percayua akan kasih Allah yang tidak dilihatnya itu, adalh kasih dari ayah dan ibunya. Orang tua yang beriman akan senantisa mengajarkan tenatang Allah terhadap anaknya, dan setiap hri akan mendengar hal-hal tentang Allah.

C. Asas - Asas Pendidikan
Pestalozzi boleh digambarkan sebagai seorang yang mengabdikan seluruh pikiran, tenaga dan dana yang ia miliki demi pelaksanaan tugas memperbaiki keadaan yang buruk dalam masyarakat dengan jalan memperbarui setiap orang .pembaruan perorangan itu akan dilaksanan melalui pendidikan yang mengubah pengetahuan dan gaya hidup kaum miskin yang tinggal didusun dusun Swis.

1. Arti Pendidikan
Menurut Pestalozzi , perbaikan pendidikan di Swis perlu dilaksanakan sekaligus dari dua segi , yakni dari segi praktek dan teori . Urutan ini mencerminkan cara Pestalozz menjadi seorang ahli pendidikan. Ia tidak memulai panggilan hidups ebagai pendidik setelah mengembangkan teori pendidikan lebih dahulu. Teori berasal dari pengalaman dalam ruang kelas.
Pendidikan yang akan mengubah mutu kehidupan anak – anak miskin didesa pertanian harus memenuhi kebutuhan dasariah di mana mereka hidup.
2. Arti Pendidikan
Menurut Pestalozzi , perbaikan pendidikan di Swis perlu dilaksanakan sekaligus dari dua segi , yakni dari segi praktek dan teori . , teapi yang keduaan itu harus tunduk pada pertama . tujuan Umum dirahkan untuk menghasilkan seorang yang bijaksana dan bajik dalam kehidupannya , manusiawi dalam semua hubungan dengan sesamanay manusia dan seorang yang hidup beriman sebagai mahluk yang bergantung pada allah. Sesuai dengan arti kejuruan itu , tujuanya ialah memperlengkapi pelajar untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi perencanaanya dalam masyarakat
3. Lingkungan Pendidikan
Menurut Pikiran Pestalozzi , ada tiga lingkungan diman pendidikan terjadi :
a. rumah tangga
b. rumah dermawan
c. sekolah
Dari ketiga itu , rumah tangga sendiri adalah yang paling penting
4. Pengajar
Dua pengajar utama ,yaitu sang ibu dan guru yang mengajar disekolah sudah tersirat dalam pembahasan tentang bagian lingkungan diatas . disamping kedua pengajar itu, pestalozzi menyebutkan dua lagi yaiti si anak sendiri dan pengalaman hidup
a. Si Ibu
b. Guru Sekolah
c. Si Anak
d. Pengalaman hidup
5. Pelajar
a. Semua Anak
b. b.Anak perempuan ( sekolah keibuan )
c. Calon Guru

6.Kurikulum
a. Kurikulum untuk pendidikan Akal (kognitif)
b. Kurikulum Untuk Pendidikan Tangan (psikomotorik)
b. Kurikulum Pendidikan Moral dan Keagamaan (afektif)
7. Metodologi
a. Metode mengajarkan mata pelajaran intelektual yang berhubungan dengan tiga jenis pengalaman yang dilambangkan dengan tiga kata yang sudah ditentukan , yaitu :
1. Bahasa
Melatih daya tangkap indra anak, termasuk membaca, menulis berbicara dan mendengarkan.
2. Bentuk
Melatih anak untuk menggambarkan bentuk-bentuk misalnya bentuk huruf, persegi, lingkaran, segi tiga termasuk perbedaan panjang, pendek dan besar, kecil. Selanjutnya menggambar mentuk dari alam yang bisa dilihat.
3. Jumlah
Metode dasar matematika yaitu penjumlahan, pengurangan, perkaliana dan pembagian.
b. Metode mengajarkan mata pelajaran jasmani
c. Metode Mengajarkan mata pelajaran akhlak dan agamawi



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Melalui asas dan praktek pendidikan, Pestalozzi mengilhami sejumlah pemikir masyarakat dan dan pejabat pemerintah untuk memprakarsai rencana pendidikan untuk semua anak.Sebagian inspirasi itu bertaraf tinggi dalam arti mereka yang dipengaruhi Pestalozzi amat prihatin atas nasib begitu banyak anak miskin.
Bagaimanapun juga motofnya, suasana sosial, ekonomi dan politik di Eropa sudah menerima gagasan Pestalozzi tentang pendidikan masal dan keprihatinan terhadap kaum miskin.
B. Aplikasi
Dari kisah hidup dan perjuangan seorang Johann Heinrich Pestalozzi, dunia akademis khususnya para mahasiswa boleh baelajar bahwa kegagalan bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita. Karena kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang purus asa, menyerah dan berhenti berusaha.

FAKTOR - FAKTOR PENUNJANG DAN PENGHAMBAT KOMUNIKASI

BAB I
PENDAHULUAN
Setelah pada pembahasan-pembahasan sebelumnya di kelas teman-teman telah menjelaskan tentang pengantar ilmu komunikasi baik pengertian, sejarah serta ruang lingkup komunikasi, maka saat ini kelompok kami akan membahas tentang faktor-faktor penunjang maupun penghambat dalam komunikasi. Factor-faktor ini sangat penting kita ketahui agar kita bias memaksimalkan komunikasi kita sehingga bisa mencapai tujuan yang kita harapkan.

BAB II
FAKTOR - FAKTOR PENUNJANG DAN
PENGHAMBAT KOMUNIKASI
A. Faktor-Faktor Penunjang Komunikasi
1. Penguasaan Bahasa
Kita ketahui bersama bahwa bahasa merupakan sarana dasar komunikasi. Baik komunikator maupun audience (penerima informasi) harus menguasai bahasa yang digunakan dalam suatu proses komunikasi agar pesan yang disampaikan bisa dimegerti dan mendapatkan respon sesuai yang diharapkan.
Jika komunikator dan audience tidak menguasai bahasa yang sama, maka proses komunikasi akan menjadi lebih panjang karena harus menggunakan media perantara yang bisa menghubungkan bahasa keduanya atau yang lebih dikenal sebagai translator (penerjemah)
2. Sarana Komunikasi
Sarana yang dimaksud di sini adalah suatu alat penunjang dalam berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Kemajuan IPTEK telah menghadirkan berbagai macam sarana komunikasi sehingga proses komunikasi menjadi lebih mudah. Semenjak ditemukannya berbagai media komunikasi yang lebih baik selain direct verbal (papyrus di Mesir serta kertas dari Cina ), maka komunikasi bisa lebih di sampaikan secara tidak langsung walau jarak cukup jauh dengan tulisan atau surat. Semenjak penemuan sarana komunikasi elektrik yang lebih canggih lagi (televisi, radio, pager, telepon genggam dan internet) maka jangkauan komunikasi menjadi sangat luas dan tentu saja hal ini sangat membantu dalam penyebaran informasi. Dengan semakin baiknya koneksi internet dewasa ini, maka komunikasi semakin lancer dan up to date. Misalnya saja peristiwa unjuk rasa missal yang menyebabkan kekacauan di Mesir telah bisa kita ketahui bahkan secara live.
3. Kemampuan Berpikir
Kemampuan berpikir (kecerdasan) pelaku komunikasi baik komunikator maupun audience sangat mempengaruhi kelancaran komunikasi. Jika intelektualitas si pemberi pesan lebih tinggi dari pada penerima pesan, maka si pemberi pesan harus berusaha menjelaskan. Untuk itu diperlukan kemampuan berpikir yang baik agar proses komunikasi bisa menjadi lebih baik dan efektif serta mengena pada tujuan yang diharapkan. Begitu juga dalam berkomunikasi secara tidak langsung misalnya menulis artikel, buku ataupun tugas-tugas perkuliahan (laporan bacaan, makalah, kuisioner dan lain-lain), sangat dibutuhkan kemampuan berpikir yang baik sehingga penulis bisa menyampaikan pesannya dengan baik dan mudah dimengerti oleh pembacanya. Demikian juga halnya dengan pembaca, kemampuan berpikirnya harus luas sehingga apa yang dibacanya bisa dimengerti sesuai dengan tujuan si penulis. Jika salah satu (penulis atau pembaca) tidak memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka apa yang disampaikan bisa tidak dimengerti sehingga tidak mencapaia tujuan yang diharapkan.
4. Lingkungan yang Baik
Lingkungan yang baik juga menjadi salah satu factor penunjang dalam berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan di suatu lingkungan yang tenang bisa lebih dipahami dengan baik dibandingkan dengan komunikasi yang dilakukan di tempat bising/berisik. Komunikasi di lingkungan kampus Perguruan Tinggi tentu saja berbeda dengan komunikasi yang dilakukan di pasar.

B. Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi
1. Hambatan sosio-antro-psikologis
a. Hambatan sosiologis
Seorang sosiolog jerman bernama Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan kehidupan masyarakat menjadi dua jenis yang ia namakan Gemeinschaft dan gesellschaft. Gemeinschaft adalah pergaulan hidup yang bersifat pribadi, statis, dan rasional, seperti dalam kehidupan rumah tanngga; sedangkan gesellschaft adalah pergaulan hidup yang bersifat pribadi, dinamis, dan rasional, seperti pergaulan di kantor atau dalam organisasi.
Karena dalam kehidupan masyarakat itu terbagi atas berbagai gologan dan lapisan, menimbulkan perbedaan status social, agama, ideologi, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, dan sebagainya, semua itu menjadi hambatan dalam berkomunikasi dan inilah yang termaksud dalam hambatan sosiologis.
b. Hambatan antropologis
Manusia, meskipun satu sama lain sama dalam jenisnya sebagai makhluk “homo sapiens”, tetapi ditakdirkan berbeda dalam banyak hal. Dalam komunikasi misalnya, komunikator dalam melancarkan komunikasinya dia akan berhasil apabila dia mengenal siapa komunikan dalam arti ‘siapa’ disini adalah bukan soal nama, melainkan ras, bangsa, atau suku apa si komunikan tersebut. Dengan mengenal dirinya, akan mengenal pula kebudayaannya, gaya hidup dan norma kehidupannya, kebiasaan dan bahasanya.
Perlu kita ketahui komunikasi berjalan lancar jika suatu pesan yang disampaikan komunikator diterima olehg komunikan secara tuntas, yaitu diterima dalam pengertian received atau secara inderawi, dan dalam pengertian accepted atau rohani. Teknologi komunikasi tanpa dukungan kebudayaan tidak akan berfungsi.
c. Hambatan psikologis
Factor psikologis sering menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Hal ini umunnya disebabkan sikomunikator dalam melancarkan komunikasinya tidak terlebih dahulu mengkaji si komunikan. Komunikasi sulit untuk berhasil apabila komunikan sedang sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, dan kondisi psikologi lainnya; juga jika komunikasi menaruh prasangka kepada komunikator.
Prasangka merupakan salah satu hambatan berat bagi kegiatan komunikasi, karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap menentang komunikator. Apalagi kalau prasangka itu sudah berakar, seseorang tidak lagi berpikir objektif, dan apa saja yang dilihat atau didengarnya selalu dinilai negatif. Prasangka sebagai factor psikologis dapat disebabkan oleh aspek antropologisdan sosiologis; dapat terjadi terhadap ras, bangsa suku bangsa, agama, partai politik, kelompok dan apa saja yang bagi seseorang merupakan suatu perangsang disebabkan dalam pengalamannya pernah diberi kesan tidak enak.
Berkenaan dengan factor-faktor penghambat komunikasi yang bersifat sosiologis-antropologis-psikologis itu menjadi permasalahan ialah bagaimana upaya kita mengatasinya. Cara mengatasinya ialah mengenal diri komunikan dengan mengkaji kondisi psikologinya sebelum komunikasi terjadi, dan bersikap empatik kepada komunikan.
2. Hambatan semantis
Kalau hambatan sosiologis-antrop[ologis-psikologis terdapat pada pihak komunikan, maka hambatan semantis terdapat pada komunikator. Factor semantis menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Agar proses komunikasi itu berjalan denga baik seorang komunikator hareus benar-benar memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah mengucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian atau salah tafsir, yang pada gilirannya bisa ,menimbulkan salah komunikasi. Gangguan semantis juga kadang-kadang disebabkan oleh aspek antropologis, yakni kata-kata yang sama bunyi dan tulisannya, tetapi memiliki makna yang berbeda. Salah komunikasi ada kalanya disebabkan oleh pemilihan kata yang tidak tepat, dalam komunikasi hendaknya menggunakan kata-kata yang dapat dimengeri atau yang denotatif.
Jadi untuk menghilangkan hambatan semantis dalam komunikasi, seorang komunikator harus mengucapakan pertanyaan yang jelas dan tegas, memilih kata-kata yang tidak menimbulkan persepsi yang salah, dan disususn dalam kalimat-kalimat yang dapat dimengerti.
3. Hambatan mekanis
Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contohnya: suara telepon yang kurang jelas, berita surat kabar yang sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang kurang jelas pada pesawat televise dan lain-lain. Hambatan pada beberapa media tidak mungkin diatasi oleh komunikator tapi biasanya memerlukan orang-orang yang ahli di bidang tersebut misalnya teknisi.
4. Hambatan Ekologis
Hambatan ekologis terjadi oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya adalah suara riuh (bising) orang-orang atau lalu lintas, suara hujan atau petir, suara pesawat terbang dan lain-lain. Untuk menghindari hambatan ini, komunkator harus mengusahakan tempat komunikasi yang bebas dari gangguan seperti yang telah disebutkan tadi.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah mmpelajari factor-faktor yang sangat penting dalam komunikasi baik factor penunjang maupun penghambat maka dapat disimpulkan bahwa dalam berkomunikasi, para pelaku komunikasi (komunikator maupun audience) harus senantiasa memahami factor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses komunikasi sehingga komunikasi yang dilakukan bisa berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.

B. Aplikasi
Dalam dunia akademis, factor-faktor penunjang dan penghambat komunikasi ini sangat penting dipelajari karena di dunia akademis sangat erat kaitannya dengan dunia informasi secara menyeluruh sehingga pemahaman tentang komunikasi akan sangat mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.
Satu tips dari penulis “Janganlah mengucapkan sesuatu yang tidak kita mengerti, kecuali dalam bentuk pertanyaan!”






Sumber:
1. Effendy. O. U. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1992
2. Tierney Elizabeth. 101 Cara Berkomunikasi Lebih Baik. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2003.
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas