Search This Blog

Thursday, October 17, 2013

HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA.



SEBUAH PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial.[1] Hal ini berarti manusia senantiasa hidup dengan berinteraksi satu sama lain.[2] Karena hidup manusia tidak bisa dilepaskan dengan hubungan antara sesama manusia, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari aturan. Hal ini sangat penting karena manusia juga adalah mahluk individu yang memiliki kepribadian dan kebutuhan yang berbeda-beda. Peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat kemudian berkembang dan semakin berakar dalam kehidupan manusia sehingga munculah norma-norma maupun pranata-pranata sosial lainnya termasuk budaya.[3]
Seiring dengan perkembangan zaman, maka peraturan-peraturan yang berlaku dalam kehidupan manusia semakin beragam. Hal ini tentu saja bukan untuk membebani ataupun mempersulit kehidupan manusia tetapi sesungguhnya peraturan-peraturan yang ada itu harusnya demi kehidupan yang lebih baik.
Tidak dapat disangkal bahwa semakin banyak peraturan yang dibuat, semakin banyak pula terjadi pelanggaran. Banyaknya pelanggaran tentunya mengindikasikan adanya ketimpangan antara peraturan dan obyek yang menjalankan aturan tersebut. Hal ini tentunya tidak baik karena dengan meningkatnya pelanggaran maka terjadi ketidakseimbangan dalam sistem yang berlaku di komunitas yang menjalankan peraturan tersebut.[4]
Dunia pendidikan juga tidak lepas dari tindakan pelanggaran disiplin yang meningkat seperti keterlambatan dalam manjalankan tugas akademis maupun pelanggaran etika bahkan mengarah pada tindak pidana. Contoh pelanggaran disiplin yang cukup menggemparkan dunia pendidikan adalah peristiwa tawuran antar SMA 70 dan SMA 06 pada tanggal 24 September 2012 yang menelan korban jiwa seorang pelajar dan enam orang siswa ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.[5] Seperti  yang diberitakan oleh salah satu media online nasional bahwa pemicu tawuran itu hanyalah masalah sepele.[6]  Hal ini merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan karena ini bisa menjadi cermin dari apa yang diajarkan para pendidik baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik kepada para peserta didik.
Dunia pendidikan di perguruan tinggi juga kurang lebih mengalami masalah yang sama dalam hal pelanggaran disiplin. Saat ini mudah ditemukan mahasiswa yang tidak berada di ruang kuliah padahal seharusnya perkuliahan sedang berlangsung. Banyak juga mahasiswa yang menyalahgunakan kepercayaan orang tuanya seperti menggunakan uang untuk kebutuhan kuliah untuk hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan perkuliahan. Bahkan ada mahasiswi yang di keluarkan dari suatu lembaga pendidikan karena yang bersangkutan terbukti hamil  di luar nikah.*)
Selain karena masalah kepribadian mahasiswa yang berbeda-beda, pelanggaran disiplin bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan baik dari pihak orang tua maupun dari pihak kampus. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan pengawasan orang tua maupun lembaga pendidikan, maka dibuatlah suatu system yang dikenal dengan asrama. Fungsi asrama di perguruan tinggi khususnya di bidang keagamaan seperti Sekolah Tinggi Teologi (STT) termasuk di STT IKSM Santosa Asih Jakarta dimana penulis mengadakan penelitian, selain untuk tempat tinggal bagi mahasiswa yang jauh tempat tinggalnya, asrama juga berfungsi untuk membentuk mental dan kedisiplinan mahasiswa.
Kehidupan di asrama tidak serta-merta merubah kehidupan seorang mahasiswa menjadi taat pada aturan. Banyaknya mahasiswa yang tinggal di asrama juga mengakibatkan berbagai gesekan antar penghuninya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor termasuk kepribadian yang berbeda-beda.
Karena kepribadian manusia memang berbeda-beda seperti yang telah disebutkan diatas maka perlu adanya suatu aturan yang bisa mengakomodir setiap kebutuhan individu yang ada hingga bisa terjadi relasi yang baik antar pribadi. Sarlito Wirawan dalam bukunya menuliskan:
Unik berarti berbeda dari yang lainnya. Jadi tiap-tiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri, sifat-sifat tersendiri yang membedakannya dari manusia lainnya. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Pengalaman-pengalaman masa lalu dan aspirasi-aspirasinya untuk masa-masa yang akan datang menentukan tingkah laku seseorang di masa kini, dan karena tiap orang mempunyai pengalaman dan aspirasi yang berbeda-beda, maka tingkahlaku-tingkahlakunya di masa kini pun berbeda-beda.[7]
Untuk itu sangat diperlukan suatu teori pembentukan perilaku yang efektif agar mahasiswa yang tinggal di asrama bisa saling berinteraksi dengan baik sehingga pembentukan mental dan kedisiplinan mahasiswa bisa berjalan dengan baik. Disinilah peran teori pembelajaran sangat diperlukan.
Sejak abad ke-19 sampai sekarang telah berkembang banyak teori belajar dan salah satu yang sangat berpengaruh adalah teori tingkah behaviorisme. Teori ini pada awalnya dikenalkan oleh Ivan Pavlov pada sekitar taahun 1900an dengan teori yang dinamakaa pengkondisian klasik (Classical Conditioning) yang kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya B. F Skinner.[8]
Dasar dari teori behaviorisme adalah bagaimana memberikan stimulus yang tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan (S-R).[9] Dengan demikian melalui teori ini maka sikap atau tidakan manusia dapat diatur dengan cara memberikan stimulus yang tepat termasuk bagaimana seseorang bersikap terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan untuk kebaikan bersama.
B. F. Skinner  menekankan bahwa setiap untuk mendapatkan respon yang diinginkan maka perlu adalnya suatu stimulus yang terus-menerus sampai menjadi suatu kebiasaan.[10] Teori ini tentu sangat berguna dalam dunia pendidikan terutama dalam membentuk perilaku seseorang menjadi seperti yang diharapkan seperti kehidupan di asrama
Berdasarkan semua pokok pemikiran di atas maka penulis akan berusaha menjawab masalah ini dalam sebuah karya ilmiah dengan judul HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA DI ASRAMA STT IKSM SANTOSA ASIH JAKARTA TAHUN AKADEMIK 2012-2013.


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1976, h. 86
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990, h. 68
[3] Ibid., 187
[4] T. Berry Brazelton, Disiplin Anak, (Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2009),  h. xv
[5] http://m.okezone.com /read/2012/10/10/500702152
*)  Berdasarkan pengamatan penulis
[7] Sarlito Wirawan Sarwono, Op. Cit., h. 26
[8] Joko Winarto, B. F. Skinner, http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/13/teori-bf-skinner/
[9] Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori Teori Sifat Behavioristik, (Jakarta: Kanisius, 1993), h. 199
[10] Nigel C. Benson dan Simon Grove, Mengenal Psikologi, (Jakarta: Penerbit Mizan, 2000), h. 76

Tuesday, February 26, 2013

Filsafat dan Iman Kristen (Laporan Bacaan)


Dipandang dari sudut manapun, hubungan antara filsafat dan iman Kristen tidak dapat digambarkan sebagai suatu perkawinan yang ideal. Bnyak orang Kristen menganggap minat terhadap filsafat seagai suatu hal yang menjadikan kita ragu-ragu dan merupakan permainan api yang membahayakan. Ketika orang percaya berhasil meyakinkan beberapa filsuf, hal itu lebih sering mereka tempuh dengan mengorbankan dan mengkompromikan iman.
Tujuan buku ini adalah menyelidiki para pemikir terkemuka dan gerakan-gerakan intelektual dari dunia pemikiran barat sejak ribuan tahun yang lampau disertai suatu pandangan untuk memperlihatkan bagaimana semua itu memengaruhi kepercayaan orang Kristen. Buku ini ditulis dari sudut pandang seorang yang tertanam secara mendalam kepada iman Kristen.

Filsafat dan iman Kristen, sungguh suatu hal yang bertolak belakang dalam mencari yang namanya kebenaran. Dalam keadaannya sering terjadi perbedaan jawaban satu samalain, sehingga terpecah-pecah akan pemahaman satu dengan yang lain. Karena mereka berfikir dengan rasio yang tidak akan terpecahkan, hanya dengan iman maka itu akan terpecahkan. Sedangkan Alkitab adalah buku kebenaran yang tidak di ragukan lagi, oleh karena itu filsafat dan iman Kristen itu suatu yang bertolak belakang sekali. Dan ketika orang-orang percaya berhasil meyakinkan beberapa filsuf, hal itu lebih sering mereka tempuh dengan mengorbankan dan mengkompromikan iman.

Di masa gereja yang mula-mula terdapat orang-orang seperti Yustinus Martir dan Clement dari Aleksandria yang berusaha meyakinkan para pembacanya bahwa banyak orang kafir yang telah dipimpin kepada agama yang benar melalui filsafat, dan mereka mengatakan bahwa filsafat bagi orang-orang Yunani kuno semacam Perjanjian Lama bagi orang-orang Yahudi.
Meskipun buku ini memiliki empat ratus limapuluh filsuf yang berpendapat namun saat kita memiliki dasar Iman dan Alkitab maka ketika kita membaca buku filsafat ini , kita tidak akan terpengaruh akan semua pendapat yang diluar iman Kristen. Walaupun terdapat banyak sekali buku-buku sejarah mengenai filsafat sekuler, beberapa pendahuluanberharga yang mengantar kepada maslah-masalah teologi filsafat, begitu sangat langkanya buku-buku yang memaparkan sejarah filsafat dari sudut pandang yang lebih luas kepada jaman ini dan hubungannya dengan kekristenan.

Beberapa pendapat filsafat dan iman kristen yang dibaca pada buku ini. Plato, seorang filsuf Yunani yang mengajarkan bahwa dunia yang kitalihat dengan mata kita dan yang kita sentuh dengan tubuh kita, didalam realita sebenarnya hanyalah sebuah dunia bayang-bayang.
Philo, seorang pemikir Yahudi dari Aleksandria, mengadaptasikan ajaran Plato kedalam Yudaisme. Plotinus mengembangkan ajaran yang kemudian dikenal sebagai Neo-Platonisme. Ajaranini percaya akan satu yang tertinggi ( Ultimate One ) yang berada di balik segala pengalaman atau peristiwa.

Aristoteles percaya bahwa pikiran-pikiran berada hanya sebagaimana yang dinampakan di dalam obyek-obyek individual. Boethius menulis karyanya yang paling terkenal, On The Consolation of Philosophy, yang menggambarkan bagaimana jiwa manusia mampu mengatasi kesengsaraan serta mencapai suatu visi mengenai Allah melalui perenungan filsafih. Tetapi usaha untuk menyingkat perdebatan itu tidak selamanya mudah.
Sekalipun demikian, bagi kebanyakan kita suatu pola yang dapat diterima oleh pemikir filsafat berikutnya itu bukannya tidak bernilai sama sekali.

Di dalam buku ini kebanyakan menceritakan sejarah yang dialami filsuf dari abad pertengahan sampai sekarangini, bahkan membahas tentang pelajaran teologi di akhir tulisan. Buku ini memiliki tulisan paragraph dan tidak dibuat dalam tulisan point – perpoint, namun meski begitu hal itu bisa di mengerti oleh pembaca, dan membuat pembaca lebih banyak berfikir tentang apa yang telah di paparkan oleh filsuf-filsuf yang ada dalam buku ini. Sehingga buku ini bermanfaat untuk pengetahuan bagi sipembaca agar dapat menyeleksi pemikir-pemikir dan gerakan-gerakan itu, yang penting untuk dibicarakan. Terkadang saat kita melihat pendapat seorang filsuf, keduanya serupa, tetapi kadang-kadang tidak serupa. Itu sebuah masalah dalam buku ini.

Bab satu berisikan zaman abad pertengahan dimana, disitu mulai lahirnya filsafat kemudian Agustinus dan Gereja mula-mula, filsafat Yunani, metafisika, Anselm dan argumentasi Ontologis, Thomas Aquinas yang berisikan lima jalan, doktrin tentang analogi. Kemudian signifikasi Filsafat Abad Pertengahan yang berisikan dua pendekatan terhadap kebenaran dalam agama signifikasi historis dari Aquinas. Bab dua berisikan reformasi sampai abad pencerahan, yang merupakan tempat kelahiran pemikiran modern, menceritakan para reformator dan penerusnya yaitu luther, reformasi di luar Jerman dan filsafat dan para reformator.
Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya, Descrates, Spinoza, Leibiniz, Pascal. Sedangkan empirisme dengan tokoh Locke, Barkeley, Hume kemudian orang-orang deistis Inggris dan lawan-lawan mereka, kebangunan teologi natural, deisme skeptic, dan jawaban terhadap deisme. Pencerahan dan skeptisisme di Eropah dengan tokoh-tokohnya Rousseau, Voltaire, Lessing, dan kant. Bab ketiga berisikan gejolak abad kesembilan belas, cleiermacher dengan kehidupan dan karya-karyanya, pendekatan Schleiermacher serta ulasan. Hegel dan idealism, berisikan pengertian idealism, pendapat hegel, dan perkembangan idealism. Kierkegaard berisikan kehidupan dan karya-karyanya serta kebenaran dan kekeristenan. Atheism dan Agnotisisme dengan tokoh Feuerbach, Marx dan Materialisme Dialektikal, Nietzsche, Comte dan positivism, Mill dan Utilitarianisme, Pierce, James dan Pragmatisme serta Darwin dan evolusi. Kecenderuan teologi yang berisikan Teologi Liberal, reaksi katolik, keluasan pengetahuan konsevatif. Positivisme logis merupakan suatu gerakan anti metafisika di dalam filsafat.

Prinsip Verifikasi adalah senjata utama kaum positivism logis. Mereka memakai prinsip ini untuk membedakana antara pernyataan asli dan yang palsu. Positvisme logis menegaskan bahwa suatu pernyataan asli jika dapat diverifikasi sebagaimana hipotesis ilmiah diuji oleh pengujian umum. Eksistensialisme adalah salah satu –isme yang tidak dapat terlalu dikatakan sebagai gerakan tetapi kurang lebih hanya merupakan program umum dari suatu kecenderungan atau sikap. Ada eksistensialis yang ateis dan ada eksistensialis yang mengaku sebagai Kristen.
Eksistensialisme merupakan sebagian dari gerakan penolakan terhadap masyarakat modern. Ada beberapa teolog yang dalam beberapa cara dapat dikategorikan sebagai Eksistensialis diantaranya Nicolai Berdyaev (1874-1948) dari Rusia. Ada juga dua penulis yang mempengaruhi pikiran barat yaitu Rudolf Bultmann dan Paul Tillich.

Radikalisme yang berasal sejak sebelum abad XIX selama sekitar 30 tahun lebih berangsur-angsur mati, tetapi sebenarnya belum pernah betul-betul mati. Setelah Perang Dunia pertama, ia diselubungi oleh perhatian yang baru terhadap teologi biblika. Sekitar ahun 1960 telah terlihat sebagian kebangunan Radikalisme di Inggris dan Amerika Utara. Seperti kebanyakan bentuk Radkalisme, Radikalisme agama Baru merupakan suatu gerakan protes. Sekalipun secara pribadi-pribadi mereka memberikan usulan masa depan, tidak ada program positif yang dapat diterima baik untuk teologi, penginjilan maupun gereja. Banyak kaum radikal mendapatkan kesan yang mendalam dari permintaan Bultmann untuk melakukan demitologisasi. Dan oleh karena itu, injil harus dikupas dari hal-hal supranatural dan dijabarkan ulang di dalam pengistilahan sekuler.

Salah satu figure yang menonjol di seluruh gerakan ini adalah Dietrich Bonhoeffer yang hamper dianggap sebagai seorang nabi. Dua gagasan yang paling menonjol adalah bahwa dunia ini sudah dewasa dan kekristenan sudah kehilangan sifat keagamaannya. Gagasan pertama bukanlah hal baru. Kant percaya bahwa ia sedang berdiri di pintu masuk dunia yang demikian. Bonhoeffer percaya bahwa manusia harus memikirkan ulang konsep tentang Allah. Bagi dia, hidup orang Kristen bukan berarti menarik diri dari dunia ini tetapi keterlibatan total dalam dunia. Dia menuliskan bahwa orang Kristen tertantang untuk mengambil bagian di dalam penderitaan Allah di tangan dunia yang tak berillah ini.
Humanisme adalah sejenis agama dengan kredonya. Tetapi ini adalaha agama tanpa Allah. Jikapun ada Allah, maka Dia tidak dapat dikenal dan tidak dapat disandari. Manusia harus hidup bagi dirinya sendiri. Karena senang atau tidak, manusia telah terdampar di bumi dan harus mempertahankan hidupnya sendiri. Merurut paham humanism, satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan adalah kematian. Injil humanis mengajak orang untuk berbuat yang terbaik dari antara pekerjaan yang buruk. Dunia ini sama sekali tidak berguna.

Jika seringkali Katolikisme bersalah dengan memperkenalkan ide-ide filsafat mencemarkan kebenaran Kristen, maka dapat dikatakan bahwa kaum injili telah bersalah dengan membiarkan kasus-kasus itu berjalan sebagaimana adanya. Kaum injili memberikan kontribusi yang besar bagi penginjilan dan bahkan pada studi Alkitab tetapi memberikan hanya sedikit kontribusi dalam hal mempertahankan iman secara filosofis.

Dari sejak Aquinas sanpai Van Til, banyak penulis yang sangat dipengaruhi oleh penekanan Paulus bahwa “apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak Nampak daripada-Nya yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat Nampak dari pikiran dan karya-Nya sejak dunia diciptakan.” Dalam kasus ini, Allah bukan sekedar hipotesis yang membutuhkan tersedianya pemjelasan yang memadai dari bukti-bukti rasional di dalam alam semesta. Ia adalah Dia yang kita kenal sebagai Pribadi dan Pencipta segala keberadaan.

Jika ditarik kesimpulan dari penelaahan terhadap perdebatan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun antara para filsuf dan orang-orang Kristen di barat, adalah tidak adanya system filsafat yang bisa dibilang lengkap dan sempurna. Kenyataanya dapat dikatakan bahwa system-sistem seperti idealism Absolut, yang paling mengklaim sebagai system yang paling menyeluruh dan lengkap justru adalah system yang paling tidak sempurna.
Bahaya menyandarkan kekristenan terlalu dekat dengan salaha satu system atau ide filsafat tertentu, paling sedikit isebabkan dua hal. Di satu pihak, iman Kristen harus dimanipulasi supaya cocok, dan di pihak lain, ketika kemudian ditemukan kelemahan dalam system tersebut, maka kesan yang didapat adalah bahwa iman Kristen juga harus runtuh bersama dengan system filsafat itu.

Studi filsafat bukanlah tugas bagi mereka yang telah memutuskan untuk keluar dari kehidupan ini. Merupakan kesalahan jika berpikir bahwa kualitas yang dibutuhkan hanyalah sikap yang pasif. Sangat banyak masalah yang tidak terpecahkan. Keberanian, kesabaran, wawasan dan integritas yang mendalam dibutuhkan mereka yang kan menjawab masalah-masalah itu. Tetapi karena orang Kristen diyakinkan bahwa Allaha adalah Allah segala kebenaran, maka ia tidak akan putus asa.


Tanggapan Positif :
1. Buku ini menarik untuk dibaca karena banyak sejarah-sejarah tentang filsuf terkenal.
2. Buku ini cukup lengkap membahas dasar-dasar pemikiran filsafat secara umum.
3. Buku ini cukup berimbang dalam menyajikana materi filsafat dengan prinsip dasar teologis.

Tanggapan Negatif:
1. Ada beberapa kata yang bisa dikategorikan sebagai bahasa yang sulit dimengerti oleh orang awam terutama istilah-istilah filsafat maupun teologi.
2. Ada beberapa bagian yang penerjemahannya agak kurang tepat sehingga bisa membingungkan pembaca.

Kesimpulan:
Secara keseluruhan, buku ini sangat baik untuk dibaca oleh akademisi, baik mahasiswa, dosen maupun praktisi teologi lainnya sebagai bahan dalam pengembangan pemahaman tentang filsafat dan teologi. Buku ini juga sangat bermanfaat bagi pendidik maupun hamba Tuhan sebagai bahan apologetic, maupun penjelasan kepada orang-orang yang cukup cerdas dalam berfilsafat namun belum menemukan Kebenaran yang Sejati.

Judul Buku: Filsafat dan Iman Kristen
Penulis : Colin Brown © 1968, Tyndale Press
Penerbit : Momentum (Lembaga Reformed Injili Indonesia) 1995

Sunday, February 24, 2013

PENDEKATAN PAK DIALOGIS



1. Pengertian Dialogis
Menurut KBBI, Dialogis berarti bersifat terbuka dan komunikatif.
Pendekatan dialogis merupakan proses pendekatan antara dua paham atau lebih dengan cara komunikasi secara terbuka.
2. Dasar Pendekatan Dialogis
Kata dialogis tdak ditemukan dalam Alkitab, namun pendekatan dialogis merupakan salah satu cara pendekatan yang Yesus lakukan dalam pelayanannya (percakapan dengan Nikodemus, perempuan Samaria, Perwira Romawi dan para murid).
Setiap orang bisa memiliki prinsip kebenaran sehingga melalui dialog kita bisa mengetahui sejauh mana pandangan seseorang akan kebenaran dan bagaimana mengkomunikasikan kebenaran yang sesungguhnya dimulai dari prinsip kebenaran orang lain.
3. Pentingnya pendekatan Dialogis
Cara dialog dan bukan “paksaan teologis” merupakan tuntutan bagi orang-orang Kristen dalam dunia yang pluralistic dewasa ini.jadi dengan adanya pendekatan dialogis ini maka dapat mempermudah orang Kristen menjalin hubungan social seara individual dengan agama-agama lainnya atau semua orang. Sambil menawarkan kabar gembira tentang keselamatan.
- Dengan pendekatan dialogis, maka kita bisa mengetahui ajaran/paham orang lain.
- Dialog antaragama bisa menjadi hubungan yang saling menyuburkan.

4. Kelemahan Pendekatan Dialogis
- Cenderung terjadi perdebatan ketika berdialog dengan mereka yang beragama lain sehingga berujung pada konflik dan pertikaian.
- Bagi orang Kristen yang berdialog, jika pengetahuan kekristenan (doktrin) kurang mendalam dapat menciptakan doktrin-doktrin atau ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran kebenaran Firman Tuhan.
- Pembahasan tentang Kebenaran secara umum dan kurang bisa menekankan tentang Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat sebagai Kebenarana Sejati.

5. Kesimpulan Kelompok
- Pendekatan Dialogis merupakan suatu prinsip pendekatan yang sangat baik dalam hal menceritakan kebenaran dengan orang yang memiliki keyakinan tertentu. Melalui pendekatan dialogis maka kita bisa mendapat kesempatan yang lebih luas dalam menceritakan kebenaran dan juga kesempatan untuk mendengarkan kebenaran menurut pandangan yang lain.
- Dalam pendekatan dialogis perlu memperhatikan dasar kepercayaan kekristenan yang kuat sehingga tidak lemah dan mudah terombang-ambing oleh ajaran atau paham yang lain.
- Pendekatan dialogis harus dilakukan dengan prinsip kasih. Dalam arti tidak langsung menghakimi orang lain melainkan dengan sabar menuntun orang itu kepada Kebenaran yang sesungguhnya dengan memanfaatkan paham mereka sebagai ‘pintu masuk’.
- Perlu mengenal dengan baik dengan siapa kita berdialog sehingga jika dialog menemui perbedaan pendapat yang cukup signifikan, para pelaku dialog bisa menyikapinya dengan bijak sehinga menghindari hal-hal yang berlawanan dengan hukum.
• disadur dari Dr. Daniel Stefanus, Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan, hlm. 69 – 90 dan beberapa sumber lain.

Monday, February 4, 2013

YESUS MENGUTUS 70 MURID (Tafsiran Lukas 10:1-12)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengantar Injil Lukas
Injil Lukas adalah kitab pertama dari kedua kitab yang dialamatkan kepada seorang bernama Teofilus (Lukas 1:1,3 ; Kis 1:1). Walaupun nama penulis tidak dicantumkan dalam dua kitab tersebut, kesaksian yang bulat dari kekristenan mula-mula dan bukti kuat dari dalam kitab-kitab itu sendiri menunjukkan bahwa Lukaslah yang menulis kedua kitab itu.
Rupanya Lukas adalah seorang petobat Yunani, satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab. Roh kudus mendorong dia untuk menulis kepada Teofilus (artinya : seorang yang mengasihi Allah) guna memenuhi suatu kebutuhan dalam jemaat yang terdiri atas 2 bagian:
1. Kelahiran, kehidupan, dan pelayanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus (Injil Lukas), dan
2. Pencurahan Roh kudus di Yerusalem dan perkembangan selanjutnya dari Gereja mula-mula (Kisah Para Rasul)
Kedua kitab ini merupakan lebih dari seperempat bagian dari seluruh kitab Perjanjian Baru. Dari surat-surat Paulus kita mengetahui bahwa Lukas adalah seorang “yang kekasih”, seorang dokter (Kolose 4:14) dan seorang teman sekerja Paulus yang setia (2 Tim 4:11)
Dari penulisan Lukas sendiri kita mengetahui bahwa ia seorang yang berpendidikan tinggi, penulis yang terampil, sejarahwan yang teliti dan teolog yang di Ilhami ketika ia menulis injilnya. Agaknya Gereja bukan Yahudi belum memiliki Injil yang lengkap, atau yang tersebar luas mengenai Yesus. Matius menulis Injilnya pertama-tama bagi orang Yahudi, sedangkan Markus menulis sebuah Injil yang singkat bagi Gereja di Roma. Orang percaya bukan orang Yahudi yang berbahasa Yunani memang memiliki kisah-kisah lisan mengenai Yesus diceritakan oleh para saksi mata, juga intisari tertulis yang pendek tetapi tidak suatu Injil yang lengkap dan sistematis (Lukas 1:1-4). Barangkali Lukas mengerjakan penelitiannya (Lukas 1:3) di Palestina, sementara Paulus berada di Penjara Kaisarea (KPR 21: 17) dan menyelesaikan Injilnya menjelang akhir masa itu atau segera setelah ia tiba di Roma bersama dengan Paulus (Kis 28:16) kira-kira pada tahun 60 – 63 M.




B. Tujuan
Lukas menulis Injil ini kepada orang-orang bukan Yahudi guna menyediakan suatu catatan yang lengkap dan cermat. Tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan di ajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat (Kis. 1:1b-2a). Lukas yang menulis dengan Ilham orang lain yang ingin mengetahui kebenaran akan mengetahui dengan pasti kebenaran yang tepat yang telah diajarkan kepada mereka secara lisan (Lukas 1:3-4). Dalam kitab Lukas, Yesus dengan jelas terlihat sebagai juruselamat Ilahi-Insani yang menjadi jawaban Allah bagi kebutuhan segenap keturunan Adam akan selamat.




BAB II
YESUS MENGUTUS TUJUH PULUH MURID
(TAFSIRAN LUKAS 10 : 1 – 12)

Judul ini diambil dari ayat 1, yang diceritakan dalam perikop ini mirip dengan pengutusan kedua belas belas murid atau pengikut Yesus dalam Lukas 9:1-6, termasuk beberapa petunjuk yang diberikan Yesus kepada mereka. Ketujuh puluh pengikut itu diutus ke kota-kota yang kelak akan dikunjungi oleh Yesus sendiri. Mereka disuruh untuk mempersiapkan orang di kota-kota tersebut agar dapat menerima kunjungan Yesus kemudian.
Perjalanan Pengikut-pengikut yang diutus itu dianggap sangat mendesak sehingga mereka harus memusatkan tenaga dan pikiran mereka dan mereka harus menghindarkan semua gangguan yang mungkin akan menggagalkan tugas mereka.
A. Pengutusan dan Persiapan (ayat 1 – 4)
TB.10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak di kunjunginya.
Kemudian dari pada itu atau lebih sederhana Setelah itu. Kata-kata ini menunjuk kepada perikop di atas bagaimana dibicarakan sikap orang orang dalam. Mengikuti Yesus. Ketujuh puluh orang yang diutus yang disebut dalam ayat ini dapat dianggap tidak mempunyai sikap ragu-ragu seperti diatas.
Tuhan: Artinya yang kuasa dan wewenang-Nya diakui sepenuhnya.
Menunjuk tujuh puluh murid yang lain: ini berarti selain dari yang dua belas orang yang sebelumnya sudah di tunjuk. Dalam BIMK Memilih Tujuh puluh pengikut lagi, yang jelas menunjukan bahwa ke tujuh puluh pengikut ini merupakan tambahan dari yang sudah ada. Dalam BIMK Ada catatan kaki yang mengatakan bahwa beberapa naskah Yunani kuno lainnya ada pula yang mengatakan tujuh puluh dua. Perlu diketahui bahwa angka tujuh puluh merupakan angka yang penting di kalangan bangsa Yahudi misalnya tujuh puluh para tua-tua Israel (Kel 24:1, Bil 11:16). Tidak diketahui apakah diantara yang ketujuh puluh itu ada juga perempuan atau tidak. sebaiknya dipakai istilah yang netral, sehingga dapat berarti laki-laki atau perempuan.
Mengutus atau ‘’Menugaskan”.
Berdua-dua atau “ dua orang dalam satu kelompok”. Setiap kelompok tentu pergi ke kota atau kampung dan tempat yang berbeda. Untuk menegaskan hal ini ayat ini dapat disusun kembali menjadi : Setelah itu Tuhan Yesus memilih tujuh puluh pengikut lagi lalu mengutus mereka berdua-dua pergi lebih dahulu ke berbagai kota dan tempat yang hendak Dia kunjungi. Selain untuk bekerja sama dengan baik, pengutusan berdua-dua juga merupakan penegasan kesaksian dalam kehidupan masyarakat Yahudi.
TB: 10:2 Kata-Nya kepada mereka : ‘’ Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit karena itu mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Tuaian memang banyak: Ini adalah Kiasan yang menggambarkan bahwa sudah banyak orang siap untuk dibawah masuk ke dalam kerajaan/ Pemerintahan Allah. Hal iti dilakukan dengan memberitakan Injil atau kabar baik. Kiasan tersebut diambil dari lingkungan pertanian, yang menggambarkan suatu keadaan yang mendesak, karena musim menuai sudah tiba dan kalau kesempatan yang baik itu tidak di pergunakan, Tuaian akan gugur, dan sang petani akan rugi. Di daerah pertanian tertentu, ungkapan tersebut lebih mudah di mengerti kalau dikatakan “ Ladang yang hendak di tuai sungguh luas”. Atau : “ betapa luasnya ladang yang hendak di tuai”. Bandingkan dengan BIMK, Yang juga memakai kata ladang dalam kalimat kedua di ayat ini. Dalam bahasa lain dikatakan: “ Banyak yang harus dituai”. Waktu yang “ mendesak “ hendaknya tercermin dalam terjemahan.
Tetapi pekerja sedikit: Kata penghubung tetapi menunjukan suatu perbedaan yang tajam antara banyaknya Tuaian dan sedikitnya pekerja. Yang dimaksud dengan pekerja ialah pekerja untuk menuainya BIMK. Untuk mengungkapkan keadaan antara ke dua hal tersebut dapat juga di tulis misalnya “ Di satu pihak banyak yang harus di tuai tetapi di pihak lain hanya sedikit pekerja untuk menuainya”.
Tuan yang empunya tuain dapat di terjemahkan menjadi : “ Pemilik ladang yang hendak di tuai”. Yang dimaksudkan sebagai pemilik adalah Allah.
Mengirimkan Pekerja-Pekerja untuk tuaian itu atau: “ Menyuruh orang-orang untuk menuai di ladanyaNya “. Dalam bahasa-bahasa tertentuh mungkin ada istilah-istilah khusus untuk pekerja-pekerja yang menuai hasil pertanian tertentuh, atau kadang-kadang tergantung dari alat yang mereka pakai untuk menuai. Misalnya orang yang menuai dengan memakai “sabit” atau “ ketam” atau” ani-ani “ disebut “ pengetam “. Namun penerjemah harus hati-hati pulah supaya jangan sampai istilah itu justru tidak berarti sama dengan penuai, yaitu orang yang bekerja mengumpulkan hasil ladang. Misalnya istilah penyabit jangan sampai berarti penyabit rumput. Penerjemah dapat memakai istilah-istilah tersebut bila perlu.
Kalau terjemahan yang berupa kiasan atau metafora seperti ini tidak dapat di mengerti oleh pembaca maka penerjemah dapat membuat catatan kaki untuk menjelaskan : “ Tuaian .” menggambarkan orang-orang yang siap masuk ke dalam kerajaan Allah.; “ pekerja’ adalah orang-orang yang di utus memberitakan Injil atau kabar baik kepada orang-orang itu.
TB: 10:3 Pergilah, sesunggunya aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
Pergilah atau “sekarang berangkatlah”
Sesunggunya aku mengutus kamu: atau: “ketahuilah bahwa aku mengutus kalian”, “ingatlah bahwa...”
Seperti anak domba ke tengah-tengah serigala: Yesus menggambarkan pengikut-pengikutnya bagaikan anak domba yang lemah dan orang-orang lain yang mereka hadapi bagaikan serigala yang ganas. ( kata Yunani yang diterjemahkan sebagai serigala disini berbeda dengan “serigala” yang disebut dalam Lukas 9:58.) Kata serigala dapat di terjemahkan menjadi:” anjing hutan yang ganas:. Cara lain ialah tetap mempertahankan kata serigala tetapi di lengkapi dengan sifatnya, sehingga ungkapan diatas menjadi:” seperti anak domba yang lemah ketengah-tengah serigala yang ganas.
TB: 10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.
Pundi-pundi, dalam BIMK Diterjemahkan sebagai dompet atau istilah umum seperti: “tempat uang”.
Bekal: yang dimaksud ialah kantong atau tas yang biasa dibawa oleh orang yang bepergian sebagai tempat perbekalan, jadi dalam konteks ini agaknya kurang cocok kalu diterjemahkan seperti BIMK Kantong sedekah.
Kasut atau “ sandal” yang terbuat dari bahan Kulit yang di kenakan untuk melindungi kaki (sepatu, BIMK). Yesus tidak melarang memakai “ sandal “ atau sepatu, tetapi yang di larang ialah membawa sepatu cadang atau tambahan.
Maksud dari seluruh perinta ini ialah agar mereka jangan membawa barang-barang atu pesediaan yang biasanya di nggap sangat penting dalam perjalanan. Mereka sepenuh nya harus bergantung pada pemeliharaan Allah. Bagian ini dapat di terjemahkan menjadi:” Janganlah maembawa tempat uang, tas atau sandal tambahan.
Janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan: yang dilarang ialah memberi salam selama dalam perjalanan. Maksudnya ialah bahwa mereka harus langsung pergi ke tujuan mereka dan jangan gara-gara memberi salam secara berlebihan, mereka terlambat atau terhalang sampai ke tujuan. Jadi ayat ini dapat diterjamahkan menjadi:
Janganlah membawa dompet atau tas tempat bekal atau pun sepatu. Janganlah biarkan dirimu terhalang ketika pergi ke tempat yang engkau tuju akibat memberi salam kepada orang-orang yang kau temui dalam perjalanan.
B. Tentang Salam (ayat 5 – 6)
TB: 10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah katakana lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini.
Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah terlebih dahulu: ini dapat di susun menjadi:” sebelum kalian masuk ke rumah seseorang katakanlah ( begini)”:
Damai sejahtera bagi rumah ini: Ini adalah salam yang biasa di ucapkan oleh orang Yahudi. Damai sejahtera adalah terjemahan dari bahasa Yunani yang berarti” tenang; aman,tanpa permusuhan,sehat, makmur atau sejahtera “. Inilah yang diharapkan terjadi pada setiap orang yang ada dalam rumah itu. Rumah ini berarti “ salam sejahtera bagi seluruh keluarga anda”. Dalam beberapa bahasa, salam ini mungkin akan menjadi:” semoga Tuhan memberkati kalian sekeluarga”, atau:” semoga semuanya baik bagi kalian”.
TB 10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
Dan jikalau disitu ada orang yang layak menerim damai sejahtera: terjemahan harfiah dari bahasa yunaninya adalah sebuah kiasan, yaitu “ kalau disitu ada anak damai” (KJV: son of peace). Arti dari kiasan ini ialah: “ kalau ada orang yang cintai damai ‘ atau..orang yang suka damai. Ungkapan itu dapat menjadi: “ jika seorang pencinta damai ada di rumah itu”.
Salammu itu akan tinggal atasnya: Dalam BIMK Kata salammu di uraikan lebih jauh sehingga: Salam damaimu itu. Maksudnya ialah bahwa “Allah betul-betual akam membuat keluarga itu damai dan sejahtera “
Tetapi jika tidak: Selengkapnya ungkapan ini berati: “tetapi jika di dalam rumah itu tidak ada orang cinta damai”.
Salammu itu kembali kepadamu: Dalam BIMK kalimat berita ini juga menjadi kalimat perintah tariklah kembali salam damaimu itu. Melihat bentuk bahasa Yunaninya, maka pernyataan ini lebih baik dipertahankan seperti TB, dan dapat pula di buat menjadi:” maka salammu itu akan kembali kepadamu.”
C. Upah Pekerja (ayat 7 – 8)
TB 10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang di berikan orang kepadamu sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
Tinggallah dalam rumah itu: Yang di maksud dengan rumah itu ialah rumah yang menerimah mereka, rumah yang penghuninya cinta perdamaian oleh karena itu, terjemahannya dapat di buat menjadi: tinggllah dalam rumah orang yang mau menerimah kalian”.
Makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu: Kata diberikan lebih cocok kalau diganti dengan dihidangkan dalam bahasa in donesia karena ini berkaitan dengan makan dan minun. Jadi, ungkapan ini dapat di buat menjadi:” makan dan minumlah apa yang di hidangkan orang kepadamu”. Ini adalah suatu ungkapan supaya baergembira untuk memperoleh apa yang dihidangkan kepada mereka.
Sebab seorang pekerja patut mendapat upanya: ini adalah sebuaah pepatah yang umum. Pepatah ini dimaksudkan untuk memberikan semangat kepada paengikut-pengikut Yesus bahwa walaupun mereka tidak membawa bekal dalam perjalanan kebutuhan mereka akan di cukupi. Patut dapat juga diterjemahkan menjadi:” layak” atau “wajar” atau berhak. Kata upah juga berarti.” Imbalan”. alaupuWn upah dapat berarti sejumlah uang yang di bayarkan bagi seorang pekerja, dalam konteks ini bukan itu yang dimaksud, tetapi kebutuhan sehari-hari yang cukup.
Janganlah berpindah-pindah rumah: Terjemahan BIMK lebih dekat dengan bahasa Yunaninya. jangan berpindah-pindah dari satu rumah kerumah yang lain.ada berbagai alasan untuk berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, misalnya: karena takut telalu membebani tuan rumah karena di undang oleh orang lain; atau merasa kurang puas atas pelayanan tuan rumah. Apapun alasannya mereka tidak boleh meninggalkan rumah yang mula-mula menerimah mereka.
TB: 10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebua kota dan kamu diterima disitu makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
Disini perhatian dialihkan ke kota-kota yang akan mereka kunjungi sedangkan ayat lima sampai tuju bagaimana sikap mereka terhadap rumah atau keluarga yang mereka temui.
Diterima:BIMK Menerjemakannya dengan disambut. Kata ini agaknya terlalu berlebihan karena disambut dapat memberi kesan bahwa ada upacara penyambutan atau disambut dengan rame-rame. Oleh karena itu lebih baik memakai kata diterima. Kalimat pasif dapat juga di ubah menjadi kalimat aktif misalnya:” kalau kalian masuk ke sebuah kota dan orang menerima kalian (dengan baik) di kota itu...”, orang meminta kalian tinggal bersama mereka”,..yang mengajak kalian singgah “.
Makanlah apa yang dihidangkan kepadamu: ungkapan ini hampir sama dengan yang di katakan dalam ayat tujuh tetapi di sini tidak disebutkan”Minum”. Ungkapan ini dapat disusun ulang menjadi:”makanlah apa yang orang hidangkan kepada kalian” atau:” makanlah makan yang orang hidangkan kepada kalian tanpa ragu-ragu.
D. Inti Pemberitaan (ayat 9 – 12)
TB :10:9 Dan sembukanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: kerajaan Allah sudah dekat padamu,
Ayat ini lebih baik dibuat sebagai kalimat baru seperti BIMK. Katakanlah kepada mereka: Ini berarti bahwa yang di maksud dengan mereka bukan hanya orang sakit yang disembuhkan itu tetapi juga semua penduduk kota itu. BIMK menerjemahkan orang-orang di situ jadi, bagian awal ayat ini dapat di terjemahkan menjadi: “sembuhkanlah orang-orang yang sakit di kota itu dan beritakanlah kepada penduduk kota itu”.
Kerajaan Allah sudah dekat padamu: Kerajaan Allah dapat di terjemahkan menjadi :” pemerintahan Allah”. Kadang-kadang kerajaan Allah berarti kenyataan hidup yang dapat dialami pada masa kini sebagai pengikut Yesus Kristus pada masa yang akan datang, dan kadang-kadang berarti kehidupan kekal yang sejati bersama Allah. Sudah dekat padamu menurut bahasa Yunaninya ungkapan ini berarti:”sudah tiba” atau” sudah ada di sini”.jadi ungkapan ini dapat juga di terjemahkan menjadi :” sudah tiba saatnya Allah memerintah sepenunya atas kalian” atau:”waktunya sudah tiba Allah ,menjadi Raja bagi kalian”. Penerjemah bisa memilih mana yang lebih kuat dampaknya bagi pembaca dalam bahasa sasaran apakah” memerintah” atau” menjadi Raja.
TB:10:10-11 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterimah di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan seruhkanlah: (11) juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: kerajaan Allh sudah dekat.
Dalam kedua ayat ini Yesus memberikan petunjuk bagaimana seharusnya tindakan pengikut-pengikutnya terhadap kota-kota yang tidak mau menerimah mereka. Mereka harus memberikan peringatan secara terbuka dan terang-terangan kepada penduduk kota itu.
Pergilah ke jalan-jalan raya kota itu. maksudnya ke tempat terbuka di mana orang banyak bisa melihat dan mendengar apa yang mereka katakan. Di daerah-daerah tertentu mungkin tidak ada jalan-jalan raya di kampung atau di desa sehingga yang lebih cocok mungkin adalah” pergilah ke tengah lapangan di dalam desa”.
Seruhkanlah:” katakanlah dengan suara yang keras”.
Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu: Walaupun artinya sama kata Yunani yang dipakai di sini berbeda dengan yang dipakai di lukas 9:5 di ayat ini kata Yunani yang dipakai adalah” menghapus”, “ melepaskan” atau “ membersihkan”, sedangkan di Lukas 9:5 kata yang di pakai adalah” mengebaskan”. “ menghapus” atau” mengebaskan debu dari kaki adalah suatu cara untuk menunjukan suatu penolakan dan peringatan terhadap orang atau penduduk kota yang dimaksud. Ungkapan ini dapat disusun ulang menjadi:” kami membersihkan debu kota ini dari kaki kami untuk memperingatkan kalian” atau:”... dari kaki kami sebagai suatu peringatan bagi kalian.
Tetapi ketahuilah ini: kerajaan Allah sudah dekat: Dalam ungkapan ini ada arti tersirat “tetapi walaupun menolak kami”, sehingga ungkapan ini terjemahan ini menjadi: “Tetapi walaupun menolak kami ketahuilah sudah tiba saatnya Allah memerintah disini”, atau: “tetapi walupun kalian menolak kami ketahuilah bahwa sudah tiba saatnya Allah memerintah sebagai Raja ditengah-tengah kalian”
TB:10:12 Aku berkata kepadamu : pada hari itu sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.
Aku berkata kepadamu atau BIMK ingatlah. Kata-kata ini dan ucapan berikutnya adalah kata-kata Yesus kepada pengikutnya-pengikutnya
Pada hari itu: yang dimaksud ialah pada waktu Allah menghakimi dunia ini . Terjemahanya dapat menjadi seperti dalam BIMK atau “pada akhir zaman.
Sodom adalah sebuah kota yang terletak dekat laut mati yang dihukum dan dihancurkan dengan cara dibakar habis oleh Allah dengan api karena kejahatan penduduknya (Kejadian 19).
Sodom akan lebih ringan tanggunganya : “hukuman atas penduduk kota Sodom akan lebih ringan dari pada hukuman terhadap penduduk kota itu”, atau dapat dibalikkan, “hukuman atas penduduk kota itu lebih berat dari pada hukuman atas penduduk kota Sodom”.

BAB III
APLIKASI

Sebagai pengikut Kristus, kita harus senantiasa taat kepada-Nya. Ketika Tuhan Yesus memberi perintah pada kita, itu berarti Dia memberikan jaminan penyertaan sehingga kita tidak perlu kuatir akan kebutuhan-kebutuhan yang ada. Setiap orang percaya seharusnya membawa damai sejahtera dimanapun dia berada dan senantiasa menjadi berkat bagi setiap orang yang dilayani.
Dengan ini juga kita diajarkan untuk senantiasa menghormati setiap hamba Tuhan yang melayani dengan menyiapkan kebutuhannya sesuai dengan kemampuan kita. Sebagai utusan Tuhan, orang percaya memiliki otoritas rohani dalam Kristus sehingga penolakan terhadap utusan Tuhan sma halnya dengan menolak Sang Pengutus.