Search This Blog

Loading...

Tuesday, October 25, 2016

MELAWAN LUPA

Oleh: Pdt. Mangatas P.Aritonang, M.Th


Apakah ingatan atau memori kita kurang beres?
Apakah sebenarnya memori? Bagaimana cara  kerja memori? Dapatkah kita meningkatkan  daya ingat? Apakah menginat sama dengan menghafal? Apakah sering lupa pertanda kita bodoh?
Kita mulai dengan dua pertanyaan terakhir di atas. Tidak betul bahwa mengingat sama dengan menghafal. Memori bukan hasil hafalan. Kita perlu bisa mengingat, bukan bisa menghafal. Artinya kita,  untuk bisa mengingat bukanlah menghafal. Ada banyak hal yang kita ingat meskipun kita tidak pernah hafalkan, misalnya tahun kemerdekaan bangsa kita. d.l.l. Selanjutnya, tidak betul bahwa lupa adalah pertanda bodoh. Sebab Guru  besar yang pandai pun bisa lupa bawa buku, bawa Hp-nya. Lupa bukan tanda bodoh, ingat bukan tanda pandai. Orang berdaya ingat kuat belum tentu pandai. Memang untuk menjadi pandai perlu kecakapan mengingat, namun ciri pandai bukanlah cakap mengingat. Ciri pandai adalah cakap memadukan informaasi atau data yang baru diketahuinya dengan  info-info yang sudah lama diketahuinya lalu membuahkan hubungan itu menjadi manfaat.

Dari kalimat tadi mulai terkuak apa itu memori. Memori adalah proses dan struktur bagaimana kita menerima, menyimpan, dan memanfaatkan informasi. Secara sederhana, cara kerja memori terbagi atas tiga tahap.
Tahap pertama, yaitu menerima, menyortir, dan memaknai informasi. Ini merupakan persiapan untuk menyimpan  memori. Tahap pertama ini disebut tahap pemasangan kode. Misalnya, kita membaca sebuah kalimat atau mendengarnya dari khotbah. Kalimat itu diterima oleh memori Indrawi. Ia berada di situ hanya selama satu detik. Jika kita cuek terhadap kalimat ini, dalam durasi satu detik tadi, kalimat itu akan terlupakan. Sebaliknya, jika kita nilai bahwa isinya perlu kita ketahui, kita akan memaknai kalimat itu. Ini disebut memasang kode pada kalimat itu. Lalu kalimat itu langsung kita simpan di memori yang lebih dalam yang bernama memori jangka pendek.
Berapa lama info itu, ada di memori jangka pendek? Sekitar 15 detik. Ia harus diteruskan ke memori berikutnya untuk disimpan. Namun, tempat penyimpanan memori ini ibarat gudang dengan puluhan lemari dan ratusan laci. Simpan di mana? Di laci mana? Maka waktu 15 detik itu otak kita menentukan apa fungsi atau label info ini dan di laci mana ia disimpan dengan info-info lain yang sekategori.
Jika otak kita salah pilih laci, terjadilah salah taruh atau salah simpan. Akibatnya, info ini susah ditemukan kembali, alias terlupakan. Sebaliknya, jika otak kita bisa menemukan laci yang cocok, kalimat pelajaran atau khotbah tadi kita gabungkan, dengan kalimat-kalimat lain lalu diubah dan disimpan sebagai pengertian dan penghayatan.
Tahap kedua, yaitu tahap menyimpan. Dengan maksudnya kalimat-kalimat tadi dalam laci yang cocok, info itu tersimpan dalam memori yang paling dalam yang bernama Memori jangka panjang. Berapa lama info dapat disimpan dalam memori jangka panjang? Bisa beberapa jam, tetapi bisa juga seumur hidup. Penyimpanan ini bisa tahan lama asalkan kita sehat fisik dan mental.
Tahap ketiga, yaitu tahap pengeluaran kembali. Tiap kali kita memerlukan sebuah info yang sudah di simpan di memori jangka panjang, kita mencari dan mengeluarkannya. Akan tetapi, justru mencari dan mengeluarkannya sering menimbulkan persoalan. Persoalannya adalah susah menemukan kembali. Misalnya “Siapa ya, namanya?” Kita berpikir dan memeras otak mengingatnya, tetapi susah menemukan nama itu. Lupa! Apa penyebab lupa? Penyebabnya adalah kesalahan kita pada salah satu tahap memori.
a.         Lupa akibat kesalahan pada tahap pertama, yaitu saat-saat penerimaan info. Mungkin kita kurang focus, kurang berminat, atau kurang cermat mendengar atau membaca info itu. Mungkin kita kurang rapi mengategorikan info itu sehingga kita salah atau salah simpan. Akibatnya, ketika kita memerlukannya kembali, kita mencari di laci  yang salah. Tentu info yang kita cari itu tidak ada di situ.
b.        Lupa akibat kesalahan pada tahap kedua, yaitu saat penyimpanan. Tiap saat kita ditawari banyak info baru, padahal dalam gudang memori, sudah terdapat banyak simpanan. Dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan pengetahuan, maka akumulasi info itu bertambah. Jika kita serakah alias “segala juga disimpan” terlalu banyak dan kurang selektif membedakan mana info yang perlu, mana yang tidak, maka memori kita penuh dengan info rongsokan. Akibatnya saat kita mau mengeluarkan info kita susah menemukannya karena laci-laci memori kita terlalu penuh dan acak-acakan.
c.         Lupa akibat kesalahan pada tahap ketiga, yaitu mengeluarkan kembali. Kesulitan terjadi jika kita mau mengeluarkan kembali beberapa info sekaligus (info lama dan info baru). Misalnya jika kita sedang nonton TV, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil sendok, piring kecil dan gula, sekaligus mengembalikan gelas, maka setibanya di dapur kita akan lupa, “Aku ini ke dapur mau apa ya?”.
Dapatkah kita mencegah atau melawan sifat Lupa? Ada beberapa pegangan untuk memperbaiki kenerja memori.
*  Latih Otak kita. Pakai otak tiap hari. Jangan biarkan otak menganggur. Baca buku tiap hari. Nyanyi tiap pagi. Senam otak. Otak yang jarang dipakai cepat lemah. Supaya otak tetap sehat, tiap hari ia perlu dilatih. Misalnya menonton TV, main catur dsb.
*  Saat melalukan apa pun, pusatkan perhatian. Fokus. Jangan biarkan pikiran terbang ke sana- sini. Jangan otak kita dikotori oleh omong kasong, obralan, atau gosip. Jangan sembarang dengan dan tonton. Pilihlah info yang betul-betul berguna. 
*  Hubungkan atau kaitkan apa yang kita baru ketahui dengan apa yang sudah kita ketahui. Misalnya saat membaca tentang zaman yang lain di tempat yang lain, kaitkan dengan keadaan kita di sini dan kini. Saat membaca apa yang dialami orang lain, tempatkan diri kita dalam diri mereka.
    Memori bukan hanya bisa kita tingkatkan, melainkan perlu kita tingkatkan. Setiap hari kita bergantung pada memori, misalnya supaya  tidak lupa mengunci pintu atau tidak lupa mematikan komputer, memadamkan kompor dan dll. Untuk hal sepele seperti cuci piring pun kita perlu memori supaya sabun itu tidak lupa kita bilas dengan air.
     Hal ini penting, apalagi untuk iman. Bagaimana iman bisa berkembang kalau kita lupa akar, konteks, dan tujuan iman. James Fowler, pakar PAK. Ia menilai memori sebagai pijakan perkembangan iman orang dewasa. Ia juga menilai bahwa perkembangan iman merupakan komitmen untuk mau mengenang masa lalu dan menindak lanjuti kenangan itu dengan menumbuhkan diri. Memori adalah bagian yang hakiki dari iman. Oleh sebab itu, di dalam kitab Suci ada banyak ungkapan yang berawal dengan “ingatlah selalu,... “, haruslah kamu ingat,... dan jangan melupakan,...
   Cara kerja memori dalam otak kita sungguh mengagumkan. Gunanya sangat banyak. Kita bisa berpikir. Kita bisa mengingat. Itu pemberian Tuhan. Akan tetapi, percuma saja kita menerima pemberian Tuhan itu jika pemberian itu dibiarkan menganggur. Sungguh lebih baik tiap hari kita pakai dan kagumi memori kita. Penulis kitab Suci merasa kagum, “Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; Firman-Mu tidak akan kulupakan”. By. M.P. Aritonang.


**** lupa, melawan lupa, mengatasi gampang lupa, cara melawan lupa, memori, mengingat, long term memory, short term memory, remember to forget, forget to remember :) ****

Thursday, October 17, 2013

HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA.



SEBUAH PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial.[1] Hal ini berarti manusia senantiasa hidup dengan berinteraksi satu sama lain.[2] Karena hidup manusia tidak bisa dilepaskan dengan hubungan antara sesama manusia, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari aturan. Hal ini sangat penting karena manusia juga adalah mahluk individu yang memiliki kepribadian dan kebutuhan yang berbeda-beda. Peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat kemudian berkembang dan semakin berakar dalam kehidupan manusia sehingga munculah norma-norma maupun pranata-pranata sosial lainnya termasuk budaya.[3]
Seiring dengan perkembangan zaman, maka peraturan-peraturan yang berlaku dalam kehidupan manusia semakin beragam. Hal ini tentu saja bukan untuk membebani ataupun mempersulit kehidupan manusia tetapi sesungguhnya peraturan-peraturan yang ada itu harusnya demi kehidupan yang lebih baik.
Tidak dapat disangkal bahwa semakin banyak peraturan yang dibuat, semakin banyak pula terjadi pelanggaran. Banyaknya pelanggaran tentunya mengindikasikan adanya ketimpangan antara peraturan dan obyek yang menjalankan aturan tersebut. Hal ini tentunya tidak baik karena dengan meningkatnya pelanggaran maka terjadi ketidakseimbangan dalam sistem yang berlaku di komunitas yang menjalankan peraturan tersebut.[4]
Dunia pendidikan juga tidak lepas dari tindakan pelanggaran disiplin yang meningkat seperti keterlambatan dalam manjalankan tugas akademis maupun pelanggaran etika bahkan mengarah pada tindak pidana. Contoh pelanggaran disiplin yang cukup menggemparkan dunia pendidikan adalah peristiwa tawuran antar SMA 70 dan SMA 06 pada tanggal 24 September 2012 yang menelan korban jiwa seorang pelajar dan enam orang siswa ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.[5] Seperti  yang diberitakan oleh salah satu media online nasional bahwa pemicu tawuran itu hanyalah masalah sepele.[6]  Hal ini merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan karena ini bisa menjadi cermin dari apa yang diajarkan para pendidik baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik kepada para peserta didik.
Dunia pendidikan di perguruan tinggi juga kurang lebih mengalami masalah yang sama dalam hal pelanggaran disiplin. Saat ini mudah ditemukan mahasiswa yang tidak berada di ruang kuliah padahal seharusnya perkuliahan sedang berlangsung. Banyak juga mahasiswa yang menyalahgunakan kepercayaan orang tuanya seperti menggunakan uang untuk kebutuhan kuliah untuk hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan perkuliahan. Bahkan ada mahasiswi yang di keluarkan dari suatu lembaga pendidikan karena yang bersangkutan terbukti hamil  di luar nikah.*)
Selain karena masalah kepribadian mahasiswa yang berbeda-beda, pelanggaran disiplin bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan baik dari pihak orang tua maupun dari pihak kampus. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan pengawasan orang tua maupun lembaga pendidikan, maka dibuatlah suatu system yang dikenal dengan asrama. Fungsi asrama di perguruan tinggi khususnya di bidang keagamaan seperti Sekolah Tinggi Teologi (STT) termasuk di STT IKSM Santosa Asih Jakarta dimana penulis mengadakan penelitian, selain untuk tempat tinggal bagi mahasiswa yang jauh tempat tinggalnya, asrama juga berfungsi untuk membentuk mental dan kedisiplinan mahasiswa.
Kehidupan di asrama tidak serta-merta merubah kehidupan seorang mahasiswa menjadi taat pada aturan. Banyaknya mahasiswa yang tinggal di asrama juga mengakibatkan berbagai gesekan antar penghuninya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor termasuk kepribadian yang berbeda-beda.
Karena kepribadian manusia memang berbeda-beda seperti yang telah disebutkan diatas maka perlu adanya suatu aturan yang bisa mengakomodir setiap kebutuhan individu yang ada hingga bisa terjadi relasi yang baik antar pribadi. Sarlito Wirawan dalam bukunya menuliskan:
Unik berarti berbeda dari yang lainnya. Jadi tiap-tiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri, sifat-sifat tersendiri yang membedakannya dari manusia lainnya. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Pengalaman-pengalaman masa lalu dan aspirasi-aspirasinya untuk masa-masa yang akan datang menentukan tingkah laku seseorang di masa kini, dan karena tiap orang mempunyai pengalaman dan aspirasi yang berbeda-beda, maka tingkahlaku-tingkahlakunya di masa kini pun berbeda-beda.[7]
Untuk itu sangat diperlukan suatu teori pembentukan perilaku yang efektif agar mahasiswa yang tinggal di asrama bisa saling berinteraksi dengan baik sehingga pembentukan mental dan kedisiplinan mahasiswa bisa berjalan dengan baik. Disinilah peran teori pembelajaran sangat diperlukan.
Sejak abad ke-19 sampai sekarang telah berkembang banyak teori belajar dan salah satu yang sangat berpengaruh adalah teori tingkah behaviorisme. Teori ini pada awalnya dikenalkan oleh Ivan Pavlov pada sekitar taahun 1900an dengan teori yang dinamakaa pengkondisian klasik (Classical Conditioning) yang kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya B. F Skinner.[8]
Dasar dari teori behaviorisme adalah bagaimana memberikan stimulus yang tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan (S-R).[9] Dengan demikian melalui teori ini maka sikap atau tidakan manusia dapat diatur dengan cara memberikan stimulus yang tepat termasuk bagaimana seseorang bersikap terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan untuk kebaikan bersama.
B. F. Skinner  menekankan bahwa setiap untuk mendapatkan respon yang diinginkan maka perlu adalnya suatu stimulus yang terus-menerus sampai menjadi suatu kebiasaan.[10] Teori ini tentu sangat berguna dalam dunia pendidikan terutama dalam membentuk perilaku seseorang menjadi seperti yang diharapkan seperti kehidupan di asrama
Berdasarkan semua pokok pemikiran di atas maka penulis akan berusaha menjawab masalah ini dalam sebuah karya ilmiah dengan judul HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA DI ASRAMA STT IKSM SANTOSA ASIH JAKARTA TAHUN AKADEMIK 2012-2013.


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1976, h. 86
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990, h. 68
[3] Ibid., 187
[4] T. Berry Brazelton, Disiplin Anak, (Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2009),  h. xv
[5] http://m.okezone.com /read/2012/10/10/500702152
*)  Berdasarkan pengamatan penulis
[7] Sarlito Wirawan Sarwono, Op. Cit., h. 26
[8] Joko Winarto, B. F. Skinner, http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/13/teori-bf-skinner/
[9] Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori Teori Sifat Behavioristik, (Jakarta: Kanisius, 1993), h. 199
[10] Nigel C. Benson dan Simon Grove, Mengenal Psikologi, (Jakarta: Penerbit Mizan, 2000), h. 76