Search This Blog

Loading...

Thursday, October 17, 2013

HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA.



SEBUAH PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial.[1] Hal ini berarti manusia senantiasa hidup dengan berinteraksi satu sama lain.[2] Karena hidup manusia tidak bisa dilepaskan dengan hubungan antara sesama manusia, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari aturan. Hal ini sangat penting karena manusia juga adalah mahluk individu yang memiliki kepribadian dan kebutuhan yang berbeda-beda. Peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat kemudian berkembang dan semakin berakar dalam kehidupan manusia sehingga munculah norma-norma maupun pranata-pranata sosial lainnya termasuk budaya.[3]
Seiring dengan perkembangan zaman, maka peraturan-peraturan yang berlaku dalam kehidupan manusia semakin beragam. Hal ini tentu saja bukan untuk membebani ataupun mempersulit kehidupan manusia tetapi sesungguhnya peraturan-peraturan yang ada itu harusnya demi kehidupan yang lebih baik.
Tidak dapat disangkal bahwa semakin banyak peraturan yang dibuat, semakin banyak pula terjadi pelanggaran. Banyaknya pelanggaran tentunya mengindikasikan adanya ketimpangan antara peraturan dan obyek yang menjalankan aturan tersebut. Hal ini tentunya tidak baik karena dengan meningkatnya pelanggaran maka terjadi ketidakseimbangan dalam sistem yang berlaku di komunitas yang menjalankan peraturan tersebut.[4]
Dunia pendidikan juga tidak lepas dari tindakan pelanggaran disiplin yang meningkat seperti keterlambatan dalam manjalankan tugas akademis maupun pelanggaran etika bahkan mengarah pada tindak pidana. Contoh pelanggaran disiplin yang cukup menggemparkan dunia pendidikan adalah peristiwa tawuran antar SMA 70 dan SMA 06 pada tanggal 24 September 2012 yang menelan korban jiwa seorang pelajar dan enam orang siswa ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.[5] Seperti  yang diberitakan oleh salah satu media online nasional bahwa pemicu tawuran itu hanyalah masalah sepele.[6]  Hal ini merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan karena ini bisa menjadi cermin dari apa yang diajarkan para pendidik baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik kepada para peserta didik.
Dunia pendidikan di perguruan tinggi juga kurang lebih mengalami masalah yang sama dalam hal pelanggaran disiplin. Saat ini mudah ditemukan mahasiswa yang tidak berada di ruang kuliah padahal seharusnya perkuliahan sedang berlangsung. Banyak juga mahasiswa yang menyalahgunakan kepercayaan orang tuanya seperti menggunakan uang untuk kebutuhan kuliah untuk hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan perkuliahan. Bahkan ada mahasiswi yang di keluarkan dari suatu lembaga pendidikan karena yang bersangkutan terbukti hamil  di luar nikah.*)
Selain karena masalah kepribadian mahasiswa yang berbeda-beda, pelanggaran disiplin bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan baik dari pihak orang tua maupun dari pihak kampus. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan pengawasan orang tua maupun lembaga pendidikan, maka dibuatlah suatu system yang dikenal dengan asrama. Fungsi asrama di perguruan tinggi khususnya di bidang keagamaan seperti Sekolah Tinggi Teologi (STT) termasuk di STT IKSM Santosa Asih Jakarta dimana penulis mengadakan penelitian, selain untuk tempat tinggal bagi mahasiswa yang jauh tempat tinggalnya, asrama juga berfungsi untuk membentuk mental dan kedisiplinan mahasiswa.
Kehidupan di asrama tidak serta-merta merubah kehidupan seorang mahasiswa menjadi taat pada aturan. Banyaknya mahasiswa yang tinggal di asrama juga mengakibatkan berbagai gesekan antar penghuninya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor termasuk kepribadian yang berbeda-beda.
Karena kepribadian manusia memang berbeda-beda seperti yang telah disebutkan diatas maka perlu adanya suatu aturan yang bisa mengakomodir setiap kebutuhan individu yang ada hingga bisa terjadi relasi yang baik antar pribadi. Sarlito Wirawan dalam bukunya menuliskan:
Unik berarti berbeda dari yang lainnya. Jadi tiap-tiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri, sifat-sifat tersendiri yang membedakannya dari manusia lainnya. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Pengalaman-pengalaman masa lalu dan aspirasi-aspirasinya untuk masa-masa yang akan datang menentukan tingkah laku seseorang di masa kini, dan karena tiap orang mempunyai pengalaman dan aspirasi yang berbeda-beda, maka tingkahlaku-tingkahlakunya di masa kini pun berbeda-beda.[7]
Untuk itu sangat diperlukan suatu teori pembentukan perilaku yang efektif agar mahasiswa yang tinggal di asrama bisa saling berinteraksi dengan baik sehingga pembentukan mental dan kedisiplinan mahasiswa bisa berjalan dengan baik. Disinilah peran teori pembelajaran sangat diperlukan.
Sejak abad ke-19 sampai sekarang telah berkembang banyak teori belajar dan salah satu yang sangat berpengaruh adalah teori tingkah behaviorisme. Teori ini pada awalnya dikenalkan oleh Ivan Pavlov pada sekitar taahun 1900an dengan teori yang dinamakaa pengkondisian klasik (Classical Conditioning) yang kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya B. F Skinner.[8]
Dasar dari teori behaviorisme adalah bagaimana memberikan stimulus yang tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan (S-R).[9] Dengan demikian melalui teori ini maka sikap atau tidakan manusia dapat diatur dengan cara memberikan stimulus yang tepat termasuk bagaimana seseorang bersikap terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan untuk kebaikan bersama.
B. F. Skinner  menekankan bahwa setiap untuk mendapatkan respon yang diinginkan maka perlu adalnya suatu stimulus yang terus-menerus sampai menjadi suatu kebiasaan.[10] Teori ini tentu sangat berguna dalam dunia pendidikan terutama dalam membentuk perilaku seseorang menjadi seperti yang diharapkan seperti kehidupan di asrama
Berdasarkan semua pokok pemikiran di atas maka penulis akan berusaha menjawab masalah ini dalam sebuah karya ilmiah dengan judul HUBUNGAN PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI PENGKONDISIAN B. F. SKINNER DENGAN TINGKAT DISIPLIN MAHASISWA DI ASRAMA STT IKSM SANTOSA ASIH JAKARTA TAHUN AKADEMIK 2012-2013.


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1976, h. 86
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990, h. 68
[3] Ibid., 187
[4] T. Berry Brazelton, Disiplin Anak, (Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2009),  h. xv
[5] http://m.okezone.com /read/2012/10/10/500702152
*)  Berdasarkan pengamatan penulis
[7] Sarlito Wirawan Sarwono, Op. Cit., h. 26
[8] Joko Winarto, B. F. Skinner, http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/13/teori-bf-skinner/
[9] Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori Teori Sifat Behavioristik, (Jakarta: Kanisius, 1993), h. 199
[10] Nigel C. Benson dan Simon Grove, Mengenal Psikologi, (Jakarta: Penerbit Mizan, 2000), h. 76

Tuesday, February 26, 2013

Filsafat dan Iman Kristen (Laporan Bacaan)


Dipandang dari sudut manapun, hubungan antara filsafat dan iman Kristen tidak dapat digambarkan sebagai suatu perkawinan yang ideal. Bnyak orang Kristen menganggap minat terhadap filsafat seagai suatu hal yang menjadikan kita ragu-ragu dan merupakan permainan api yang membahayakan. Ketika orang percaya berhasil meyakinkan beberapa filsuf, hal itu lebih sering mereka tempuh dengan mengorbankan dan mengkompromikan iman.
Tujuan buku ini adalah menyelidiki para pemikir terkemuka dan gerakan-gerakan intelektual dari dunia pemikiran barat sejak ribuan tahun yang lampau disertai suatu pandangan untuk memperlihatkan bagaimana semua itu memengaruhi kepercayaan orang Kristen. Buku ini ditulis dari sudut pandang seorang yang tertanam secara mendalam kepada iman Kristen.

Filsafat dan iman Kristen, sungguh suatu hal yang bertolak belakang dalam mencari yang namanya kebenaran. Dalam keadaannya sering terjadi perbedaan jawaban satu samalain, sehingga terpecah-pecah akan pemahaman satu dengan yang lain. Karena mereka berfikir dengan rasio yang tidak akan terpecahkan, hanya dengan iman maka itu akan terpecahkan. Sedangkan Alkitab adalah buku kebenaran yang tidak di ragukan lagi, oleh karena itu filsafat dan iman Kristen itu suatu yang bertolak belakang sekali. Dan ketika orang-orang percaya berhasil meyakinkan beberapa filsuf, hal itu lebih sering mereka tempuh dengan mengorbankan dan mengkompromikan iman.

Di masa gereja yang mula-mula terdapat orang-orang seperti Yustinus Martir dan Clement dari Aleksandria yang berusaha meyakinkan para pembacanya bahwa banyak orang kafir yang telah dipimpin kepada agama yang benar melalui filsafat, dan mereka mengatakan bahwa filsafat bagi orang-orang Yunani kuno semacam Perjanjian Lama bagi orang-orang Yahudi.
Meskipun buku ini memiliki empat ratus limapuluh filsuf yang berpendapat namun saat kita memiliki dasar Iman dan Alkitab maka ketika kita membaca buku filsafat ini , kita tidak akan terpengaruh akan semua pendapat yang diluar iman Kristen. Walaupun terdapat banyak sekali buku-buku sejarah mengenai filsafat sekuler, beberapa pendahuluanberharga yang mengantar kepada maslah-masalah teologi filsafat, begitu sangat langkanya buku-buku yang memaparkan sejarah filsafat dari sudut pandang yang lebih luas kepada jaman ini dan hubungannya dengan kekristenan.

Beberapa pendapat filsafat dan iman kristen yang dibaca pada buku ini. Plato, seorang filsuf Yunani yang mengajarkan bahwa dunia yang kitalihat dengan mata kita dan yang kita sentuh dengan tubuh kita, didalam realita sebenarnya hanyalah sebuah dunia bayang-bayang.
Philo, seorang pemikir Yahudi dari Aleksandria, mengadaptasikan ajaran Plato kedalam Yudaisme. Plotinus mengembangkan ajaran yang kemudian dikenal sebagai Neo-Platonisme. Ajaranini percaya akan satu yang tertinggi ( Ultimate One ) yang berada di balik segala pengalaman atau peristiwa.

Aristoteles percaya bahwa pikiran-pikiran berada hanya sebagaimana yang dinampakan di dalam obyek-obyek individual. Boethius menulis karyanya yang paling terkenal, On The Consolation of Philosophy, yang menggambarkan bagaimana jiwa manusia mampu mengatasi kesengsaraan serta mencapai suatu visi mengenai Allah melalui perenungan filsafih. Tetapi usaha untuk menyingkat perdebatan itu tidak selamanya mudah.
Sekalipun demikian, bagi kebanyakan kita suatu pola yang dapat diterima oleh pemikir filsafat berikutnya itu bukannya tidak bernilai sama sekali.

Di dalam buku ini kebanyakan menceritakan sejarah yang dialami filsuf dari abad pertengahan sampai sekarangini, bahkan membahas tentang pelajaran teologi di akhir tulisan. Buku ini memiliki tulisan paragraph dan tidak dibuat dalam tulisan point – perpoint, namun meski begitu hal itu bisa di mengerti oleh pembaca, dan membuat pembaca lebih banyak berfikir tentang apa yang telah di paparkan oleh filsuf-filsuf yang ada dalam buku ini. Sehingga buku ini bermanfaat untuk pengetahuan bagi sipembaca agar dapat menyeleksi pemikir-pemikir dan gerakan-gerakan itu, yang penting untuk dibicarakan. Terkadang saat kita melihat pendapat seorang filsuf, keduanya serupa, tetapi kadang-kadang tidak serupa. Itu sebuah masalah dalam buku ini.

Bab satu berisikan zaman abad pertengahan dimana, disitu mulai lahirnya filsafat kemudian Agustinus dan Gereja mula-mula, filsafat Yunani, metafisika, Anselm dan argumentasi Ontologis, Thomas Aquinas yang berisikan lima jalan, doktrin tentang analogi. Kemudian signifikasi Filsafat Abad Pertengahan yang berisikan dua pendekatan terhadap kebenaran dalam agama signifikasi historis dari Aquinas. Bab dua berisikan reformasi sampai abad pencerahan, yang merupakan tempat kelahiran pemikiran modern, menceritakan para reformator dan penerusnya yaitu luther, reformasi di luar Jerman dan filsafat dan para reformator.
Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya, Descrates, Spinoza, Leibiniz, Pascal. Sedangkan empirisme dengan tokoh Locke, Barkeley, Hume kemudian orang-orang deistis Inggris dan lawan-lawan mereka, kebangunan teologi natural, deisme skeptic, dan jawaban terhadap deisme. Pencerahan dan skeptisisme di Eropah dengan tokoh-tokohnya Rousseau, Voltaire, Lessing, dan kant. Bab ketiga berisikan gejolak abad kesembilan belas, cleiermacher dengan kehidupan dan karya-karyanya, pendekatan Schleiermacher serta ulasan. Hegel dan idealism, berisikan pengertian idealism, pendapat hegel, dan perkembangan idealism. Kierkegaard berisikan kehidupan dan karya-karyanya serta kebenaran dan kekeristenan. Atheism dan Agnotisisme dengan tokoh Feuerbach, Marx dan Materialisme Dialektikal, Nietzsche, Comte dan positivism, Mill dan Utilitarianisme, Pierce, James dan Pragmatisme serta Darwin dan evolusi. Kecenderuan teologi yang berisikan Teologi Liberal, reaksi katolik, keluasan pengetahuan konsevatif. Positivisme logis merupakan suatu gerakan anti metafisika di dalam filsafat.

Prinsip Verifikasi adalah senjata utama kaum positivism logis. Mereka memakai prinsip ini untuk membedakana antara pernyataan asli dan yang palsu. Positvisme logis menegaskan bahwa suatu pernyataan asli jika dapat diverifikasi sebagaimana hipotesis ilmiah diuji oleh pengujian umum. Eksistensialisme adalah salah satu –isme yang tidak dapat terlalu dikatakan sebagai gerakan tetapi kurang lebih hanya merupakan program umum dari suatu kecenderungan atau sikap. Ada eksistensialis yang ateis dan ada eksistensialis yang mengaku sebagai Kristen.
Eksistensialisme merupakan sebagian dari gerakan penolakan terhadap masyarakat modern. Ada beberapa teolog yang dalam beberapa cara dapat dikategorikan sebagai Eksistensialis diantaranya Nicolai Berdyaev (1874-1948) dari Rusia. Ada juga dua penulis yang mempengaruhi pikiran barat yaitu Rudolf Bultmann dan Paul Tillich.

Radikalisme yang berasal sejak sebelum abad XIX selama sekitar 30 tahun lebih berangsur-angsur mati, tetapi sebenarnya belum pernah betul-betul mati. Setelah Perang Dunia pertama, ia diselubungi oleh perhatian yang baru terhadap teologi biblika. Sekitar ahun 1960 telah terlihat sebagian kebangunan Radikalisme di Inggris dan Amerika Utara. Seperti kebanyakan bentuk Radkalisme, Radikalisme agama Baru merupakan suatu gerakan protes. Sekalipun secara pribadi-pribadi mereka memberikan usulan masa depan, tidak ada program positif yang dapat diterima baik untuk teologi, penginjilan maupun gereja. Banyak kaum radikal mendapatkan kesan yang mendalam dari permintaan Bultmann untuk melakukan demitologisasi. Dan oleh karena itu, injil harus dikupas dari hal-hal supranatural dan dijabarkan ulang di dalam pengistilahan sekuler.

Salah satu figure yang menonjol di seluruh gerakan ini adalah Dietrich Bonhoeffer yang hamper dianggap sebagai seorang nabi. Dua gagasan yang paling menonjol adalah bahwa dunia ini sudah dewasa dan kekristenan sudah kehilangan sifat keagamaannya. Gagasan pertama bukanlah hal baru. Kant percaya bahwa ia sedang berdiri di pintu masuk dunia yang demikian. Bonhoeffer percaya bahwa manusia harus memikirkan ulang konsep tentang Allah. Bagi dia, hidup orang Kristen bukan berarti menarik diri dari dunia ini tetapi keterlibatan total dalam dunia. Dia menuliskan bahwa orang Kristen tertantang untuk mengambil bagian di dalam penderitaan Allah di tangan dunia yang tak berillah ini.
Humanisme adalah sejenis agama dengan kredonya. Tetapi ini adalaha agama tanpa Allah. Jikapun ada Allah, maka Dia tidak dapat dikenal dan tidak dapat disandari. Manusia harus hidup bagi dirinya sendiri. Karena senang atau tidak, manusia telah terdampar di bumi dan harus mempertahankan hidupnya sendiri. Merurut paham humanism, satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan adalah kematian. Injil humanis mengajak orang untuk berbuat yang terbaik dari antara pekerjaan yang buruk. Dunia ini sama sekali tidak berguna.

Jika seringkali Katolikisme bersalah dengan memperkenalkan ide-ide filsafat mencemarkan kebenaran Kristen, maka dapat dikatakan bahwa kaum injili telah bersalah dengan membiarkan kasus-kasus itu berjalan sebagaimana adanya. Kaum injili memberikan kontribusi yang besar bagi penginjilan dan bahkan pada studi Alkitab tetapi memberikan hanya sedikit kontribusi dalam hal mempertahankan iman secara filosofis.

Dari sejak Aquinas sanpai Van Til, banyak penulis yang sangat dipengaruhi oleh penekanan Paulus bahwa “apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak Nampak daripada-Nya yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat Nampak dari pikiran dan karya-Nya sejak dunia diciptakan.” Dalam kasus ini, Allah bukan sekedar hipotesis yang membutuhkan tersedianya pemjelasan yang memadai dari bukti-bukti rasional di dalam alam semesta. Ia adalah Dia yang kita kenal sebagai Pribadi dan Pencipta segala keberadaan.

Jika ditarik kesimpulan dari penelaahan terhadap perdebatan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun antara para filsuf dan orang-orang Kristen di barat, adalah tidak adanya system filsafat yang bisa dibilang lengkap dan sempurna. Kenyataanya dapat dikatakan bahwa system-sistem seperti idealism Absolut, yang paling mengklaim sebagai system yang paling menyeluruh dan lengkap justru adalah system yang paling tidak sempurna.
Bahaya menyandarkan kekristenan terlalu dekat dengan salaha satu system atau ide filsafat tertentu, paling sedikit isebabkan dua hal. Di satu pihak, iman Kristen harus dimanipulasi supaya cocok, dan di pihak lain, ketika kemudian ditemukan kelemahan dalam system tersebut, maka kesan yang didapat adalah bahwa iman Kristen juga harus runtuh bersama dengan system filsafat itu.

Studi filsafat bukanlah tugas bagi mereka yang telah memutuskan untuk keluar dari kehidupan ini. Merupakan kesalahan jika berpikir bahwa kualitas yang dibutuhkan hanyalah sikap yang pasif. Sangat banyak masalah yang tidak terpecahkan. Keberanian, kesabaran, wawasan dan integritas yang mendalam dibutuhkan mereka yang kan menjawab masalah-masalah itu. Tetapi karena orang Kristen diyakinkan bahwa Allaha adalah Allah segala kebenaran, maka ia tidak akan putus asa.


Tanggapan Positif :
1. Buku ini menarik untuk dibaca karena banyak sejarah-sejarah tentang filsuf terkenal.
2. Buku ini cukup lengkap membahas dasar-dasar pemikiran filsafat secara umum.
3. Buku ini cukup berimbang dalam menyajikana materi filsafat dengan prinsip dasar teologis.

Tanggapan Negatif:
1. Ada beberapa kata yang bisa dikategorikan sebagai bahasa yang sulit dimengerti oleh orang awam terutama istilah-istilah filsafat maupun teologi.
2. Ada beberapa bagian yang penerjemahannya agak kurang tepat sehingga bisa membingungkan pembaca.

Kesimpulan:
Secara keseluruhan, buku ini sangat baik untuk dibaca oleh akademisi, baik mahasiswa, dosen maupun praktisi teologi lainnya sebagai bahan dalam pengembangan pemahaman tentang filsafat dan teologi. Buku ini juga sangat bermanfaat bagi pendidik maupun hamba Tuhan sebagai bahan apologetic, maupun penjelasan kepada orang-orang yang cukup cerdas dalam berfilsafat namun belum menemukan Kebenaran yang Sejati.

Judul Buku: Filsafat dan Iman Kristen
Penulis : Colin Brown © 1968, Tyndale Press
Penerbit : Momentum (Lembaga Reformed Injili Indonesia) 1995