Search This Blog

Thursday, April 28, 2011

PENJELASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Seperti yang telah diketahui bahwa dasar dari perenungan filsafat adalah meragukan segala sesuatu. Tetapi keraguan itu tidaklah berguna sama sekali juga tidak ada usaha untuk menyingkirkan keraguan itu dengan suatu penjelasan yang logis. Untuk itulah diperlukan soatu teori tenntang penjelasan sehingga kita bisa memahami tentang hal-hal yang berada disekitar kita.
B. Pengertian Penjelasan
Penjelasan adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta, dengan keterangan itu dapat disimpulkan secara logis sehingga problematic atau keraguan yang menyelubungi fakta itu dapat dihilangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang ganjil atau menyalahi kebiasaan menuntut kita akan adalnya penjelasan. Seorang mahasiswa yang datang setiap hari tanpa terlambat tidak akann menimbulkan pertanyaan. Tetapi bila suatu hari dia datang satu jam terlambat, maka dosen pasti akan menanyakan. Jawaban yang diberikan atas keterlambatannya inilah yang disebut penjelasan atau keterangan.












BAB II
SIFAT PENJELASAN

Untuk menilai kuat dan tidaknya suatu penjelasan adalah relevansinya dengan fakta yang lain. Oleh karena itu kita membedakan adanya dua sifat penjelasan yaitu penjelasan ilmiah dan penjelasan yang tidak ilmiah.
Penjelasan ilmiah adalah keterangan yang dapat dibuktikan secara logis maupun inderawi. Andaikan si mhasiswa tadi menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan metromini yang dinaikinya mengalami kerusakan dan tidak ada kendaraan yang lain mungkin dinaikinya sehingga ia harus menunggu satu jam di jalan sementara bis tadi diperbaiki maka keterangan yang demikian adalah ilmiah. Dikatakan demikian karena keterangan ini oleh dosen dapat dibuktikan apakah ia berdusta atau bicara sebenarnya.
Suatu penjelasan atau keterangan dikatakan tidak ilmiah pertama karena penjelasannya tidak relevan dengan permasalahannya dan yang kedua penjelasan tidak mungkin dibuktikan. Bila si mahasiswa tadi menerangkan bahwa keterlambatannya karena sedang terjadi kelaparan di tanah Batak dan atau Para mahasiswa PPL IKSM disandera perompak Somalia, maka penjelasan ini tidak ada relevansinya dengan pokok masalah, sebab dia tinggal di Jakarta dan mahasiswa PPL IKSM tidak ada yang PPL di Somalia.
Selanjutnya, bila ia menerangkan bahwa keterlambatannya karena Tuhan menghendakinya, sebab Tuhan adalah maha Kuasa untuk membuat ia terlambat, inipun bukan penjelasan ilmiah karena hal ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara empiric.
Termasuk juga penjelasan yang tidak ilmiah adalah penjelasan yang didasarkan atas ketahyulan seperti: pesawat yang memuat jemaah haji Indonesia jatuh di India bagian timur karena jin-jin pengunungan Himalaya tidak rela wilayahnya dilewati pesawat asing.






BAB III
MACAM-MACAM PENJELASAN

A. Penjelasan Berdasarkan Bagian dan Faktor
Menjelaskan berdasarkan bagian-bagian atau faktornya adalah cara menjelaskan dimana kita menganalisis sesuatu berdasarkan unsur-unsur pokok suatu kenyataan serta hubungan pastinya antara masing-masing unsur pokok itu.
Contohnya dalam hal arloji. Arloji terdiri dari roda, pir, jarum, pasak-pasak kecil dan lain-lain. Tetapi kesemuanya ini tidak akan membentuk menjadi sebuah arloji apabil masing-masing tidak disusun menurut cara yang tertentu. Arloji tidak semata-mata merupakan kumpulan dari roda-roda, pir dan jarum, dan semua itu tidak disebut arloji jika bagian-bagian itu tudaj mempunyai hubungan tertentu dengan bagian-bagian yang lain. Maka demikian pula dengan Segala sesuatu di ala ini. Tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, susunan bintang, tetesan embun, sinar bulan, rasa marah semua dapat dianalisis untuk menunjukan masing-masing komponen dan factor-faktornya.serta hubungan antara setiap factor dengan factor lainnya.
B. Penjelasan Berdasarkan Keadaan / Kondisi
Adalah cara meberangkan sesuatu berdasarkan hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan keadaan diluar dirinya, untuk mengetahui bagaimana suatu fakta partikular melahirkan dan bergantung terhadap faktor lainnya dalam susunan yang lebih besar dan bagaimana suatu fakta tidak akan muncul kecuali dalam keadaan tertentu.
Macam penjelasan kali ini berbeda dengan yang pertama kerena sekarang kita hendak mencari bagaimana hubungan sesuatu dengan sesuatu yang di luar dirinya. Pada macam pertama kita memang menjelaskan juga hubungan sesuatu, tetapi masih dalam lingkup dalam dirinya.
Orang-orang primitif mengganggap bahwa sesuatu itu adalah sempurna dirinya tanpa berhubungan dengan sesuatu yang lain. Mereka tidak mengenal bahwa sesuatu itu merupakan komponen, bagian, anakan dari sesuatu sistem yang lebih besar. Mereka tidak pernah melihat dunia ini sebagai sesuatu keseluruhan. Bagi mereka, sesuatu itu merupakan potongan-potongan wujud yang terlepas, yang keadaannya yang berkaitan atau berhubungan dengan lainnya. Dengan kata lain mereka memandang dunia ini terdiri dari sesuatu yang terpisah-pisah, sesuatu yang berdiri sendiri yang hubungan antar satu dengan lainnya hanya merupakan kebetulan.
Meskipun orang-orang primitif selalu melihat pelangi letaknya berlawanan dengan letak matahari, tetapi mereka tidak menyadari, bahwa posisi ini merupakan hal yang mutlak bagi wujudnya pelangi. Ia sudah barang tentu akan mempercayai bila dikatakan kepada mereka bahwa telah terjadi pelangi dimana matahari berada ditengahnya. Ia melihat lebah madu hinggap pada bunga jambu, tetapi ia tidak mengerti apa hubungan antara keduanya, bahwa bungan jambu memerlukan kedatangan lebah untuk penyerbukan, sedangkan lebah membutuhkan madunya.
Mereka mengetahui bahwa matahari beredar di langit, tetapi mereka tidak mengetahui hubungan pastinya dengan bumi mereka tinggal, misalnya jika matahari itu menjauh dari bumi maka tidak akan lagi kehidupan manusia di bumi ini. Karena hubungan inilah maka klita tidak mungkin menjumpai ada buah kelapa tumbuh pada dahan jambu, tidak ada air membeku dalam temperature 40 derajat Celcius, tidak ada senyum pada mukayang gemetar ketakutan, tidak ada tumbuhan tembakau hidup subur di rawa-rawa, tidak ada kambing beranak anjing, tidak ada perkawinan antan manusia dengan anjing mendatangkan turunan dan sebagainya.
Setiap fakta itu mempunyai hubungan yang pasti dengan fakta yang lain dan baru oleh pengetahuan modern manusia diantar untuk mengetahui hubungan-hubungan yang tidak berubah antara fakta-fakta lain. Ilmu pengetahuan modern dengan penemuannya menunjukkan bahwa setiap wujud dalam ala ini mempunyai hubungan dan ketergantungan dengan lainnya.
C. Menjelaskan berdasarkan hubungan sebab akibat
Sejauh ini kita telah membicarakan dua macam cara menerangkan, tetapi sejauh itu kita masih mencari hubungan antara dua fakta dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan kita dapat juga menjumpai hubungan dua buah fakta atau lebih dalam waktu yang berurutan, antara fakta-fakta yang secara tetap terjadi lebih dahulu dan diikuti oleh fakta lainya pada waktu tang lebih kemudian.
Sebagaimana telah kita lihat bahwa orang-orang primitif memandang alam ini sebagai suatu susunan yang serampangan dan kacau. Perjalanan peristiwa mereka lihat sebagai suatu kebetulan. Mereka membayangkan bahwa segala sesuatu dapat terjadi dalam keadaan apapun dan dalam waktu manapun mereka dapat mempercayai bahwa dua buah gunung di New Zealand letaknya terpisah karena keduanya dulunya bertengkar, bahwa Buddha sampai diperut ibunya lewat sinar bulan dan sebagainya.
Sekarang, kita telah menyadari bahwa tidak ada sesuatu peristiwa terjadi secara kebetulan. Ada susuna yang berkosisten yang melahirkan adanya peristiwa-peristiwa itu di dalam perjalanan waktu. Kita telah lama menyadari bahwa apabila dalam suatu kondisi tertentu terjadi, maka peristiwa tertentu yang tetap akan mengikutinya. Kita kemudian menyadari bahwa kondisi tertentu yang melahirkan peristiwa terjadi yang terjadi kemudian adalah merupakan sesuatu yang esensial yang kemudian disebut “Sebab”. Sedangkan peristiwa yang terjadi kemudian yang secara tetap muncul manakala kondisi tertentu terlaksana kita sebut “akibat”. Cara menjelaskan berdasarkan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi dengan melihat kondisi yang menyebabkan lahirnya peristiwa itu adalah cara menerangkan berdasarkan sebab akibat. Kita telah berbicara mengenai hal ini bab yang lalu.

D. Penjelasan Berdasarkan Fungsinya.
Ini adalah cara menjelaskan suatu fakta bagaimana sesuatu itu mempunyai kedudukan terhadap fakta atau peristiwa lain. Macam penjelasan ini berbeda dengan macam sebelumnya karena disini bukan bagaimana fakta lain mempunyai hubungan yang pasti terhadap suatu fakta tertentu, melainkan bagaimana suatu fakta tertentu itu memegang peranan bagi falta lainnya.
Cara penjelasan ini digunakan misalnya bila kita hendak menerangkan tentang benda-benda hidup dan fakta-fakta yang berkaitan dengannya. Kita dapat menggunakan macam penjelasan ini manakala kita ingin menerangkan hidung yang kita miliki apa fungsinnya, juga tentang fungsi dari lebah madu bagi bunga, tentang music bagi jiwa raga manusia, tentang klorofil bagi tumbuhan, tentang presiden bagi pemerintahan suatu Negara, tentang dosen bagi mahasiwa, tentang tugas presentasi dan makalah bagi nilai mata kuliah dan lain sebagainya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membahas tentang penjelasan baik pengertian, sifat dan macamnya maka dapat disimpulkan bahwa sebuah fakta itu dijelaskan atau diterangkan saat kita tidak semata-mata menyatakan apa adanya tetapi kita menjelaskan hubungannya dengan fakta-fakta lain untuk mengetahui bagaimana fakta itu terhubung dan tergantung satu sala lain.
Dengan penjelasan, maka fakta tidak lagi merupakan informasi yang terisolasi melainkan dipahami sebagai bagian dari system, tatanan dan bentuk yang universal. Maka dengan demikian pula kita bisa menjawab setiap keraguan kita sehingga kita bisa memiliki pengertian dan pemahaman yang lebih baik lagi.
B. Aplikasi
Sebagai seorang akademisi (mahasiswa, dosen maupun yang terkait dengan dunia akademis) sangat penting untuk memahami tentang penjelasai ini karena ini merupakan dasar dari komunikasi pendidikan. Dikatakan dasar karena pendidikan sendiri secara umum adalah usaha yang dilakukan untuk menjelaskan pengertian kepada para peserta didik. Jika seorang pengajar tidak bisa menjelaskan dengan baik, maka tujuan dari pendidikan itu dengan sendirinya tidak akan pernah tercapai.








Sumber:
Mahmudi, H. Logika. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 1994.

No comments:

Post a Comment