Search This Blog

Tuesday, December 7, 2010

TEORI PSIKOLOGI BEHAVIORISME MENURUT B. F. SKINNER DITINJAU DARI SUDUT PANDANG TEOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan telah sangat berkembang pesat dewasa ini. Manusia dengan kemampuan intelektualnya yang luar biasa telah menjelajahi luar angkasa, mencapai isi perut bumi serta sel-sel hidup yang terkecil. Namaun ada satu bagian ilmu pengetahuan yang sangat menarik untuk ditelusuri karena menyangkut kesadaran dan keajaiban pikiran manusia itu sendiri, yaitu Psikologi. Psikologi telah berkembang pesat dewasa ini dan telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
A. Latar Belakang Masalah
Para ahli psikologi telah menaruh perhatian terhadap masalah yang beraneka ragam yang berhubungan dengan manusia sebagai mahluk special. Perkembangan psikologi yang pesat ini telah menimbulkan pertanyaan di kalangan orang Kristen: “apakah ada psikologi Kristen?” ada juga yang beranggapan bahwa psikologi bertentangan dengan teologi. Jadi, bagaimanakah pandangan teologi terhadap dan atau bagaimana seharusnya?
B. Batasan Masalah
Karena begitu luasnya cakupan psikologi itu sendiri maka penulis membatasi pembahasan dalam makalah ini hanya pada bagian teori psikologi Behaviorisme menurut B. F. Skinner serta ditinjau dari sudut pandang teologis.

C. Tujuan Penulisan
Penulis mengangkat topik ini agar pembaca lebih memahami teori tentang perilaku manusia, faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi serta pandangan teologis terhadap teori perilaku ini. Hal ini juga sangat berhubungan dengan latar belakang penulis sebagai mahasiswa teologi yang tinggal di asrama, dimana dengan memahami ini, bisa lebih mengerti perilaku dan kehidupan sebagai mahasiwa maupun penghuni asrama.



BAB II
TEORI BEHAVIORISME

A. Pengertian Psikologi
Sebelum memahami lebih lanjut tentang teori-teori psikologi, maka perlu dimengerti apa arti dari psikologi itu sendiri secara lebih detail. Psikologi berasal dari dua kata bahasa Yunani, “” (Psyche) dan “ ” (logos). Psyche yang berarti nafas kehidupan atau jiwa dan logos berarti pengetahuan, kajian atau ilmu. Jadi secara umum psikologi dapat diartikan sebagai kajian ilmiah tentang jiwa dan tingkah laku manusia dan binatang. Dalam buku Introduction to Psychology and Counseling, dijelaskan bahwa, “Psychology is scientific study of the behavior of organism.” Atau ilmu penetahuan yang mempelajari tentang perilaku dari organism/mahluk hidup. Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku; ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa. Jadi secara sederhana, psikologi bisa disimpulkan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa organisme yang nyata lewat perilakunya, dalam hal ini, organismenya adalah manusia.
B. Teori Behaviorisme
Behaviorisme adalah suatu aliran psikologi yang cukup berpengaruh dewasa ini. Aliran behaviorisme menggunakan pendekatan ilmiah dalam metode penelitiannya. Secara umum, teori ini menyatakan bahwa perilaku organisme seharusnya dapat diukur, dihitung dan dikondisikan. Teknik yang digunakan pada umumnya adalah stimulus dan respon. (S - R) terhadap organisme yang diteliti perilakunya.hal ini tentang bagaimana memberi stimulus tertentu untuk mendapatkan respon terhadap stimulus yang dikehendaki. Proses ini disebut conditioning (pengkondisian).
Proses dari pengkondisian berdasar pada asosiasi, yaitu hubungan antara suatu stimulus dari luar dengan suatu reaksi terhadap stimulus tersebut. Hal ini berarti bahwa kenyataan reaksi emosi terhadap lingkungan bisa ditentukan melalui pemberian stimulus tertentu. Contoh sederhana dalam hal pengkondisian adalah rasa menyangkut rasa takut. Respon takut terhadap rasa sakit adalah otomatis dan jika ketakutan yang berulang-ulang dihubungkan dengan sebuah boneka lucu sekalipun, maka setiap kali orang tersebut melihat boneka yang sama, dia akan mengalami ketakutan. Inilah yang mendasari percobaan B. F. Skinner tentang pengkondisian.
C. Percobaan B. F. Skinner
Untuk menguraikan teori pengkondisian, B. F. Skinner memperkenalkan konsep pengkondisian operan. Untuk memahami pengkondisian operan, perlu dibedakan apa yang disebut Skinner sebagai perilaku respon dan perilaku operan. Perilaku respon adalah respon langsung pasa stimulus, seperti pada respon yang tidak dikondisikan dalam pengkondisiana klasik. Sebaliknya, perilaku operan dikendalikan oleh akibatnya. Pada mulanya hal itu terjadi dengan sendirinya: yaitu munculnya lebih bersifat spontan daripada merupakan respon stimulus tertentu. Adapun percobaan Skinner untuk mendemonstrasikan pengkodisian operan adalah sebagai berikut:
Seekor tikus yang lapar diletakan dalam sebuah kotak yang disebut “kotak Skinner”. Di dalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol di mana terdapat piring makanan di bawahnya. Sebuah lampu kecil di atas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak perlaku eksperimen.
Tikus yang dibiarkan sendiri dalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi keadaan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar dasar penekanan jeruji. Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan di luar kotak Skinner. Setiap kali tikus menekan jeruji, butir-butir halus makanan terluncut jatuh ke piring makanan. Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekann jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic. Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkn makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang. Berarti respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan.
Pelaku eksperimen dapat menetapkan diskriminasi dengan menyediakan makanan jika jeruji ditekan dan lampu menyala, tetapi tidak ada makanan bila lampu mati. Penguatan selektif ini mengkondisikan tikus untuk menekan jeruji hanya pada saat lampu menyala. Dalam hal ini, lampu berfungsi sebagai stimulus diskriminatif (discriminative stimulus) yang mengendalikan respon.
Dengan demikian, pengkondisian operan meningkatkan kemungkinan adanya respon dengan menertakan penguat (reinforce) setelah kejadiannya dan bisa bersaku sebaliknya (extinction).

D. Pengaruh Teori Skinner dalam Kehidupan sehari-hari
Teori Skinner tentang pengkondisian ini sangat minati saat ini karena memang memiliki fungsi ayng sangat membantu manusia. Melalui teori ini oran-orang dapat melatih hewan peliharaan (kucing, anjing, burung dll.) maupun hewan-hewan yang berguna dalam membantu manusia (merpati, anjing polisi dll.).
Dalam pengkondisian operan menurut Skinner ini, para pelaku eksperimen dapat mendorong perilaku baru dengan mengambil manfaat dari perbedaan tindakan subyek. Untuk melatih seekor anjing,agar bisa menekan bel dengan moncongnya, seorang penyelidik dapat memberikan imbalan setiap kali anjing tersebut mendekati kawasan bel, serta member isyarat bagi anjing untuk menyentuh bel. Dan jika akhirnya bel tersentuh, kembali diberi imbalan (penguatan).
Dengan cara ini juga burung dara dapat dilatih dengan membentuk respon operan untuk menemukan lokasi orang-orang yang hilang di laut; ikan lumba-lumba dilatih untuk menarik peralatan di bawah air.
Teori Skinner ini juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dimana rata-rata system pendidikan saat ini menerapkan system pengkondisian Skinner. Saat sensitifnya masalah hak asasi manusia (HAM), maka penerapan hukuman di dunia pendidikan mulai dikurangi dan beralih ke cara yang dperkenalkan Skinner yaitu bahwa hukuman tidak perlu, yang diperlukan adalah member hadiah bagi yang berprestasi untuk merangsang anak-anak yg tidak berprestasi untuk belajar lebih baik lagi.



BAB III
PANDANGAN TEOLOGIS TERHADAP TEORI SKINNER

Bagi orang Kristen, Alkitab merupakan dasar utama dalam menjalankan kehidupan karena orang Kristen percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhamkan bagi manusia melalui hamba-hambanya (2 Tim.3:16). Jika demikian, maka Alkitab sudah pasti juga berisi pandangan-pandangan tentang teori psikologi.
A. Pandangan Alkitab Tentang Jiwa
Kata “jiwa” dalam bahasa Ibrani (sebagai bahasa Asli Alkitab Perjanjian Lama) adalah “nefesy” yang ditulis 755 kali dalam Perjanjian Lama yang arti utamanya adalah “mempunyai hidup”. Dalam arti ini kata itu sering dipakai menunjuk kepada binatang (Kej.1:20, 24, 30; Yeh. 47:9). Kadang-kadang kata ini juga disamakan dengan darah – sesuatu yang sangat perlu sekali dalam menunjang kehidupan fisik (Kej. 9:4, Im. 17:10; Ul. 22:22-24). Banyak juga ayat yang menyinggung kata ini bertalian dengan kesadaran.
Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru), kata “jiwa” adalah “psyche”, sama seperti yang telah dijelaskan pada pengertian psikologi diatas. Dalam Perjanjian Baru, kata ini berhubungan dengan hidup atau nyawa (Roma 11:3; ! Kor. 15:3).
B. Natur Manusia Menurut Alkitab
Pada waktu Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia menurut gambarnya (Kej.1:26-27). Gambar Allah dalam diri manusia tidak dapat bersifat fisikal karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) dan tidak memiliki tubuh. Gambar Allah itu bersifat non materi dan melibatkan unsur-unsur utama berikut.
1. Personalitas
Manusia memiliki kesadaran sendiri dan penentuan diri sendiri yang memampukan dia untuk membuat pilihan dan mengangkat dia di atas dunia binatang. Faktor ini penting karena dengan adanya kesadaran ini, manusia kodratnya lebih tinggi dari binatang dan juga bisa mengalami penebusan. Segi ini melibatkan banyak unsure natural; personalitas menyatakan kemampuan manusia untuk berkuasa atas dunia ini (Kej. 1:28) dan mengelola bumi (Kej. 2:15). Semua aspek dari intelektual manusia berada di bawah kategori ini.
2. Keberadaan Spiritual
Allah adalah Roh dan manusia juga adalah roh. Atribut-atribut esensial dari roh adalah penalaran, hati nurani dan kehendak. Suatu roh adalah rasional, moral dan Karena itu juga bebas. Dalm hal ini, apabila manusia tidak seperti Allah, maka manusia tidak dapat mengenal Allah dan sama saja dengan binatang.
3. Natur Moral
Manusia telah diciptakan dalam “kebenaran original” yang menunjuk pada “pengetahuan, kebenaran dan kekudusan”. Kebenaran dan kekudusan original ini hilang pada saat kejatuhan manusia ke dalam dosa dan dipulihkan di dalam Kristus. Paulus berkata bahwa diri yang baru dari orang percaya adalah dalam keserupaan dengan Allahdan telah diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan.


C. Tinjauan Teologis Terhadap Teori Skinner
Dalam Alkitab, lama sebelum teori-teori psikologi bermunculan, telah ada dan telah diterapkan prinsip “reward and punishment”. Bagi yang taat akan mendapatkan berkat dan bagi yng tidak taat akan mendapatkan kutuk atau hukuman (Im. 26; Ul.6). dan untuk teori pengkondisian operan Skinner dimana yang baik akan mendapatkan hadiah sedangkan yang tidak baik tidak akan mendapatkan apa-apa juga telah ada dalam kitab suci.
Namun Alkitab sendiri member kesaksian bahwa prinsip pengkondisian seperti iti tidak efektif dalam merubah perilaku seseorang. Hal ini nyata pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Begitu banyaknya aturan atau pengkondisian yang ada namun mereka tetap memberontak dan tidak taan kepada Allah.
Hal ini bukan berarti Allah salah dalam pembentukan moral atau perilaku umatnya namun Allah memiliki rencana yang lebih efektif dalam pembentukan perilaku bagi manusia yaitu melalui karya Kristus.
Natur Manusia pada saat berdosa cenderung tidak taat kepada Allah, maka untuk mengubahya, tidak ckup dengan pengkondisian dari luar saja tetapi harus dari dalam. Itulah sebabnya Allah dalam Kristus melalui karya Roh Kudus mau berdiam dalam diri oran gpercaya untuk mengubahkan manusia dari dalam. (Yoh. 16:8; Ef. 1:13).




BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kepribadian bukanlah sesuatu yang statis. Hal ini dikarenahan kepribadian merupakan perpaduan dari beberapa sifat pembawaaan yang dilengkapi dengan unsut-unsur pembentukan di tangan orang tua dan lingkungan, maka tentu saja pengkondisian harus sepanjang usia.
Dengan mempelajari teori pengkondisian Skinner serta pandangan teologis tentang sifat dan natur manusia setelah jatuh ke dalam dosa, maka kita dapat menyimpulkan bahwa pengkondsian menurut Skinner bisa saja berlaku bagi manusia tetapi tidak bisa secara permanen karena kepribadian dan perilaku manusia tidak bisa di ubah hanya dengan pembiasaan saja tapi harus oleh Penciptanya sendiri.
B. Aplikasi
Contoh yang sangat sederhana tentang penerapan Teori Skinner dalam kaitannya dengan pandangan teologis adalah dalam hal kehidupan berasrama di Sekolah Tinggi Teologi (STT). Dalam rangka membentuk pribadi dan perilaku mahasiswa untuk memiliki karakter hamba Tuhan maka diterapkan perarturan-peraturan yang mengarahkan (conditioning).
Tapi bagaimanapun ketatnya penerapan aturan dan disipli tersbut, tentu tidak akan efektif jika tidak disertai pembentukan dari dalam melalui karya Roh Kudus. Untuk itulah setiap mahasiswa perlu mengalami lahir baru sehingga pembentukan oleh Roh Kudus bisa berlaku dalam diri mahasiswa dan mengubahkan perilaku sesuai dengan standar kebenaran yaitu Alkitab sebagai Firman Tuhan.




DAFTAR PUSTAKA

_______. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 2006.
_______. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
2008.
_______. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2002.
Atkinson, Rita L. Penantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga. 1983.
Bensos, Nigel C. Mengenal Psikologi. Bandung: Penerbit Misan. 2000.
Enns, Paul. Buku Pegangan Teologi. Malang: Lembaga Literatur SAAT. 2006.
Heat, W. Stanley. Psikologi Sebenarnya. Yogyakarta: Yayasan Andi. 1997.
Meier, Paul D.. Introduction to Psychology and Counseling. Michigan: Baker Book
House. 1982.

2 comments:

  1. artikelnya sangat bagus ,,,,maaf sebelumnya saya numpang promosi : yang mau sepatu keren kunjungi : www.pasarduniamaya.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih..
    Sepatunya bisa dapet diskon khusus blogger? ^__^

    ReplyDelete