Search This Blog

Tuesday, November 23, 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kode etik manusia dewasa ini diwarisi dari berbagai sumber yang berbeda. Hal ini juga dikenal dengan istilah “moralitas baru” yang diajukan oleh kecenderungan-kecenderungan dasar dan filsafat popular yang kemudian dianut oleh para politikus dan jurnalis. Para pendukung “moralitas baru” ini menerima slogan-slogan yang khas (seperti ‘rakus itu baik’) dan memperkenalkan istilah-istilah baru yang khas pula yang bersifat merusak. Salah satu usulan moral yang sangat berpengaruh yang diajukan oleh mereka ialah agar manusia meninggalkan ide bahwa mahluk manusia itu mempunyai hal-hal kodrati ataupun sesuatu yang istimewa.
“Moralitas baru” juga sering bersifat humanis dalam arti yang lebih sempit dan mengarah pada ateisme. Humanis dalam arti yang luas didasarkan pada hormat yang mendasar akan kehidupan manusia. Dengan demikian maka orang percaya perlu mengenal dan memahami etika yang demikian sehingga mampu membentengi diri dari paham-paham moral yang tidak sesuai dengan dasar iman Kristiani.
Untuk itu sangat penting bagi setiap orang percaya untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang penerapan etika kristiani yang benar dan bagaimana penerapan atau aplikasinya di lingkungan tempat kita hidup dan beriteraksi satu sama lain. Tentu saja lingkungan tempat kita bersosialisasi ini adalah lingkungan yang heterogen atau dengan kata lain tidak hanya di huni oleh sesama orang Kristen saja.




B. Pengertian Etika
Kata “Etika” berasal dari kata Yunani “”(ethos) yang berarti adat atau kebiasaan (custom). Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai “benar” dan “salah”, dalam arti “bermoral” dan “tidak bermoral”. Sebagaia pokok bahasan yang khusus, etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut bermoral atau baik.
Istilah “etika” dipahami dalam dua arti. Etika bisa berarti sebagai suatu kumpulan pengetahuan tentang penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia dan juga bisa merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan atau manusia-manusia yang lain.






BAB II
ETIKA KRISTEN DALAM KEHIDUPAN

Banyak pandangan-pandangan etika yang berkembang dewasa ini dan sangat berpengaruh dikalangan masyarakat luas. Tetunya etika Kristen termasuk di dalamnya. Tapi apakah yang membedakan etika Kristen dan etika non Kristen? Serta bagaimana aplikasi etika Kristen dalam kehidupan bermasyarakat?

A. Etika Kristen Dalam Persekutuan Kristiani
Pada dasarnya etika Kristen merupakan suatu bentuk sikap yang diperintah dari atas. Kewajiban etis merupakan sesuatu yang harus dilakukan, hal ini merupakan perintah dari atas atau merupakan perintah Tuhan yang sesuai dengan karakter moral-Nya. Hal ini dinaksudkan bahwa Allah menghendaki apa yang benar sesuai dengan sifat-sifat moral-Nya sendiri. “Jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” “karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Singkatnya, etika Kristen didasarkan pada kehendak Allah dan Allah tidak pernah menghendaki apapun yang bertentangan dengan karakter moral-Nya yang tidak berubah.
Karena karakter moral Allah tidak berubah, maka kewajiban-kewajiban moral yang berasal dari natur-Nya itu bersifat mutlak. Hal ini berarti kewajiban-kewajiban tersebut selalu mengikuti setiap orang dimana-mana. Memang tidak setiap kehendak Allah harus berasal dari natur-Nya yang tidak berubah. Ada beberapa hal yang pada dasarnya sesuai dengan natur-Nya namun dengan bebas mengalir dari kehendak-Nya. Misalnya pada peristiwa Adam dan Hawa, meskipun secara moral Adam dan Hawa bersalah karena tidak taat, kita tidak lagi diikat oleh perintah tersebut saat ini. Perintah tersebut didasarkan pada kehendak Allah dan tidak harus berasal dari natur-Nya.
Karena kebenaran moral ditetapkan oleh Allah yang bermoral maka harus dilaksanakan. Tidak ada hokum moral tanpa Pemberi moral. Sama halnya dengan tidak ada undang-undang tanpa si Pembuat undang-undang. Dengan demikian, etika Kristen berdasarkan naturnya adalah prespektif dan bukan deskriptif. Etika berkaitan dengan apa yang seharusnya dilakukan, bukan dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang-orang Kristen tidak menemukan kewajiban-kewajiban etis mereka di dalam standar bagi orang-orang Kristen di Alkitab.
Etika Kristen didasarkan pada perintah-perintah Allah yang bersifat umum (universal revelation) dan yang bersifat khusus (special revelation). Wahyu umum berisikan perintah Allah bagi semua orang. Sedangkan wahyu khusus mengklarifikasikan kehendak-Nya untuk orang-orang percaya. Tapi dalam kedia hal tersebut, dasar dari tanggung jawab etis manusia adalah wahyu ilahi.
B. Etika Kristen dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk
Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dalam arti lingkungan dimana kita hidup merupakan lingkungan dimana terdiri dari masyarakat dari berbagai kalangan. Perbedaan ini bukan hanya menyangkut factor social saja melainkan juga perbedaan dalam hal keyakinan dan falsafah hidup pribadi.

**to be ontinue.....

No comments:

Post a Comment