Search This Blog

Thursday, April 28, 2011

MENOLONG ANAK YANG MEMILIKI KEBENCIAN TERHADAP ORANG TUA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan makhluk sosial sama hal nya dengan orang dewasa. Anak juga membutuhkan orang lain untuk bisa membantu mengembangkan kemampuannya, karena pada dasarnya anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.
Dewasa ini, banyak ditemui anak-anak yang tumbuh dalam kebencian terhadap orang tuanya. Dan orang dewasa cenderung menganggap bahwa anak yang demikian memiliki kelainan tanpa mempertimbangkan sebab-sebabnya mengapa anak berprilaku demikian.
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis untuk menambah pemahaman pembaca mengenai perilaku anak yang tumbuh dengan kebencian terhadap orang tuanya. Pembahasan ini selain bermanfaat bagi orang tua sebagai penanggung jawab utama pertumbuhan seorang anak, juga bermanfaat bagi pemerhati anah termasuk guru maupun pelayan gereja karena anak juga merupakan cerminan perkembangan masyarakat dan gereja.



BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK MEMBENCI ORANG TUA

A. Masalah Internal
Biasanya masalah ini berhubungan dengan aspek psikologis dari si anak yang bisa dkatakan mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini bisa disebabkan oleh factor genetis atau kurangnya asupan gizi sang ibu selama mengandung. Hal lain juga yang bisa menjadi penyebab masalah ini adalah adanya peristiwa traumatis selama anak dalam kandungan sang ibu.
Sekalipun anak belum mengerti apa-apa selama dalam kandungan tapi berdasarkan teori perkembangan, memori bawah sadar manusia telah belerja dengan baik semenjak dalam kandungan ibu. Contoh peristiwa traumatis ini adalah rencana aborsi oleh orang tua. Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh pada ahli, seorang anak yang pernah direncanakan untuk digugurkan oelh orang tuanya biasanya memiliki kecenderungan untuk memberontak atau penakut.
B. Masalah Eksternal
Masalah ekternal adalah masalah yang disebabkan oleh lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang. Termasuk diantaranya adalah masalah pola asuh orang tua yang kurang tepat. Lingkungan sangat mempengaruhi, anak yang terbiasa dengan kehidupan yang keras, dia terbiasa menyakiti orang, karena dia terbiasa disakiti. Akhirnya gaya hidup yang keras itu menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Jadi bagi dia melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang luar biasa itu adalah hal yang lazim.
Orang tua juga sering tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal itu bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Kolose 3 : 21, "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu (diterjemahkan janganlah membuat hati anakmu pahit/getir), supaya jangan tawar hatinya."
Beberapa tindakan orang tua yang dapat mengakibatkan hati anak pahit, yaitu:
1. Anak akan merasa pahit kalau dia ditolak, jadi anak lahir ke dunia dengan suatu permintaan agar orang tua menerimanya, mereka membutuhkan penjagaan, dan uluran tangan orang tuanya. Beberapa bentuk penolakan adalah :
• Membandingkan anak.
• Penghinaan, kita kadangkala lupa bahwa anak kita punya perasaan dan dalam kemarahan kita keluarlah kata-kata yang menghina dia nah itu sangat mempunyai muatan penolakan yang besar.
2. Orang tua tanpa merencanakan atau tidak membuat si anak merasa dia adalah bukan bagian dari keluarga itu sendiri.
3. Tatkala disiplin diberikan, kekerasan diberikan tanpa adanya cinta kasih yang cukup. Disiplin dan cinta kasih adalah dua unsur yang sangat dipentingkan dalam pertumbuhan anak. Cinta kasih yang diberikan tanpa disiplin membuat si anak menjadi anak yang luar biasa egoisnya, kekanak-kanakan, tidak dewasa, menganggap semua orang harus tunduk kepadanya dan harus memenuhi keinginannya.



BAB III
MENGATASI ANAK YANG MEMBENCI ORANG TUA

A. Tugas Orang Tua
Langkah-langkah yang perlu kita lakukan sebagai orangtua untuk mengurangi sifat anak yang memberontak orang tuanya adalah sbb:
1. Sewaktu kita menghukum anak, kita mesti mengecek apakah kita telah memberikan peringatan kepada si anak. Prinsipnya kita tidak mendisiplin anak dengan pukulan, kalau kita belum memberikan dia peringatan kecuali dalam kasus yang mendadak.
2. Perhatikan bagaimana kita memukul anak, jadi tidak diperkenankan memukul anak misalnya dengan sekuat tenaga kita, semau kita, dan tidak diperkenankan memukul anak di mana saja yaitu di mukanya, di kepalanya atau dengan apa saja, dengan rotan, dengan kayu, dengan ban. Jadi kalau mau pukul anak, pukullah pantatnya karena itu bagian yang memang tidak terlalu melukai si anak.
3. Setiap kali kita mau mendisiplin anak, kita harus tanyakan diri kita apakah si anak ini mengerti kenapa si anak itu dipukul. Jadi menuntut kita untuk memberikan waktu setelah kita pukul anak untuk berbincang-bincang dengan kita.
4. Harus selalu mengecek sudahkah anak itu tahu bahwa dia dicintai oleh kita, cukupkah pengekspresian kasih kita kepadanya. Sebab jangan sampai si anak merasakan bahwa kita hanyalah datang untuk memukulnya, mendisiplinnya tanpa anak itu menyadari bahwa kita mengasihinya.
B. Tugas Seorang Konselor
Selain mendapatkan bimbingan dari orang tua, juga sangat diperlukan peran seorang konselor dalam membimbing seorang anak yang memiliki masalah kebencian dengan oaran tuanya. Ini disebabkan karena biasanya anak cenderung tidak suka menerima masukan dari orang yang dia benci. Untuk itu seorang konselor perlu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam masalah ini. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang konselor antara lain:
1. Menganalisa dengan melibatkan orang tua tentang apa kira-kira penyebab kebencian anak pada orang tuanya.
2. Mengadakan pendekatan sesuai dengan karakter kepribadian anak tersebut. Serta menggali penyebab kebencian menurut versi si anak.
3. Menasihati si anak menurut terang Firman Tuhan dengan penekanan tentang menghormati orang tua dalam sepuluh hokum.
4. Memberi masukan kepada oran tua tentang pola asuh yang benar terhadap anak dengan masalah tersebut.




BAB IV
KESIMPULAN

Setelah mepelajari tentang bagaimana seorang anak dapat membenci orang tuanya serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menolong baik anak maupun orang tuanya maka patutlah kita memunyai pemahaman yang benar terhadap anak. Kita harus melihat anak sebagai seorang manusia yang diciptakan Tuhan melalui darah dan daging kita untuk bertumbuh besar menjadi seorang yang mandiri dan terpisah dari kita. Kita mesti membesarkannya untuk menjadi seseorang sebagaimana diinginkan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkannya agar ia menjadi seorang manusia yang utuh dan siap berelasi serta dipakai Tuhan. Berangkat dari pemahaman ini, kita pun seyogianya mendoakan anak agar rencana Tuhan—bukan rencana kita--digenapi di dalam dan melalui hidupnya. Juga, berangkat dari konsep ini, kita pun mengerti bahwa kita tidak memunyai hak milik atas diri anak-anak kita, Tuhanlah yang memunyai hak milik atas dirinya.
"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah." (Markus 10:14) Tugas kita sebagai orang tua adalah membesarkan anak dan membawanya datang kepada Kristus. Jangan sampai kita malah menghalanginya datang kepada Tuhan karena kehidupan kita. Sadarlah bahwa anak hanya bertumbuh sekali. Ia tidak akan mengulang proses pertumbuhannya. Jadi, jangan sia-siakan waktu bersamanya. Kasihi anak dan nikmatilah kebersamaan dengannya.




DAFTAR PUSTAKA

________. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 1975
Dr. Paul Gunadi, http://www.telaga.org/audio/pemberontakan_anak_terhadap_orangtua
Martin dan Deidre. Bimbingan Berdasarkan Firman Allah. Bandung: Yayasan Kalam
Hidup. 1996.
http://kristologi.forumandco.com/t81-pengertian-anak-dalam-al-kitab
Seamands, David A. Kesembuhan Memori. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1997.
Sjiamsuri, Leonard A. Kuasa dan Berkat Ikat Janji. Jakarta: Nafiri Gabriel. 2008.

PENJELASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Seperti yang telah diketahui bahwa dasar dari perenungan filsafat adalah meragukan segala sesuatu. Tetapi keraguan itu tidaklah berguna sama sekali juga tidak ada usaha untuk menyingkirkan keraguan itu dengan suatu penjelasan yang logis. Untuk itulah diperlukan soatu teori tenntang penjelasan sehingga kita bisa memahami tentang hal-hal yang berada disekitar kita.
B. Pengertian Penjelasan
Penjelasan adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta, dengan keterangan itu dapat disimpulkan secara logis sehingga problematic atau keraguan yang menyelubungi fakta itu dapat dihilangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang ganjil atau menyalahi kebiasaan menuntut kita akan adalnya penjelasan. Seorang mahasiswa yang datang setiap hari tanpa terlambat tidak akann menimbulkan pertanyaan. Tetapi bila suatu hari dia datang satu jam terlambat, maka dosen pasti akan menanyakan. Jawaban yang diberikan atas keterlambatannya inilah yang disebut penjelasan atau keterangan.












BAB II
SIFAT PENJELASAN

Untuk menilai kuat dan tidaknya suatu penjelasan adalah relevansinya dengan fakta yang lain. Oleh karena itu kita membedakan adanya dua sifat penjelasan yaitu penjelasan ilmiah dan penjelasan yang tidak ilmiah.
Penjelasan ilmiah adalah keterangan yang dapat dibuktikan secara logis maupun inderawi. Andaikan si mhasiswa tadi menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan metromini yang dinaikinya mengalami kerusakan dan tidak ada kendaraan yang lain mungkin dinaikinya sehingga ia harus menunggu satu jam di jalan sementara bis tadi diperbaiki maka keterangan yang demikian adalah ilmiah. Dikatakan demikian karena keterangan ini oleh dosen dapat dibuktikan apakah ia berdusta atau bicara sebenarnya.
Suatu penjelasan atau keterangan dikatakan tidak ilmiah pertama karena penjelasannya tidak relevan dengan permasalahannya dan yang kedua penjelasan tidak mungkin dibuktikan. Bila si mahasiswa tadi menerangkan bahwa keterlambatannya karena sedang terjadi kelaparan di tanah Batak dan atau Para mahasiswa PPL IKSM disandera perompak Somalia, maka penjelasan ini tidak ada relevansinya dengan pokok masalah, sebab dia tinggal di Jakarta dan mahasiswa PPL IKSM tidak ada yang PPL di Somalia.
Selanjutnya, bila ia menerangkan bahwa keterlambatannya karena Tuhan menghendakinya, sebab Tuhan adalah maha Kuasa untuk membuat ia terlambat, inipun bukan penjelasan ilmiah karena hal ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara empiric.
Termasuk juga penjelasan yang tidak ilmiah adalah penjelasan yang didasarkan atas ketahyulan seperti: pesawat yang memuat jemaah haji Indonesia jatuh di India bagian timur karena jin-jin pengunungan Himalaya tidak rela wilayahnya dilewati pesawat asing.






BAB III
MACAM-MACAM PENJELASAN

A. Penjelasan Berdasarkan Bagian dan Faktor
Menjelaskan berdasarkan bagian-bagian atau faktornya adalah cara menjelaskan dimana kita menganalisis sesuatu berdasarkan unsur-unsur pokok suatu kenyataan serta hubungan pastinya antara masing-masing unsur pokok itu.
Contohnya dalam hal arloji. Arloji terdiri dari roda, pir, jarum, pasak-pasak kecil dan lain-lain. Tetapi kesemuanya ini tidak akan membentuk menjadi sebuah arloji apabil masing-masing tidak disusun menurut cara yang tertentu. Arloji tidak semata-mata merupakan kumpulan dari roda-roda, pir dan jarum, dan semua itu tidak disebut arloji jika bagian-bagian itu tudaj mempunyai hubungan tertentu dengan bagian-bagian yang lain. Maka demikian pula dengan Segala sesuatu di ala ini. Tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, susunan bintang, tetesan embun, sinar bulan, rasa marah semua dapat dianalisis untuk menunjukan masing-masing komponen dan factor-faktornya.serta hubungan antara setiap factor dengan factor lainnya.
B. Penjelasan Berdasarkan Keadaan / Kondisi
Adalah cara meberangkan sesuatu berdasarkan hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan keadaan diluar dirinya, untuk mengetahui bagaimana suatu fakta partikular melahirkan dan bergantung terhadap faktor lainnya dalam susunan yang lebih besar dan bagaimana suatu fakta tidak akan muncul kecuali dalam keadaan tertentu.
Macam penjelasan kali ini berbeda dengan yang pertama kerena sekarang kita hendak mencari bagaimana hubungan sesuatu dengan sesuatu yang di luar dirinya. Pada macam pertama kita memang menjelaskan juga hubungan sesuatu, tetapi masih dalam lingkup dalam dirinya.
Orang-orang primitif mengganggap bahwa sesuatu itu adalah sempurna dirinya tanpa berhubungan dengan sesuatu yang lain. Mereka tidak mengenal bahwa sesuatu itu merupakan komponen, bagian, anakan dari sesuatu sistem yang lebih besar. Mereka tidak pernah melihat dunia ini sebagai sesuatu keseluruhan. Bagi mereka, sesuatu itu merupakan potongan-potongan wujud yang terlepas, yang keadaannya yang berkaitan atau berhubungan dengan lainnya. Dengan kata lain mereka memandang dunia ini terdiri dari sesuatu yang terpisah-pisah, sesuatu yang berdiri sendiri yang hubungan antar satu dengan lainnya hanya merupakan kebetulan.
Meskipun orang-orang primitif selalu melihat pelangi letaknya berlawanan dengan letak matahari, tetapi mereka tidak menyadari, bahwa posisi ini merupakan hal yang mutlak bagi wujudnya pelangi. Ia sudah barang tentu akan mempercayai bila dikatakan kepada mereka bahwa telah terjadi pelangi dimana matahari berada ditengahnya. Ia melihat lebah madu hinggap pada bunga jambu, tetapi ia tidak mengerti apa hubungan antara keduanya, bahwa bungan jambu memerlukan kedatangan lebah untuk penyerbukan, sedangkan lebah membutuhkan madunya.
Mereka mengetahui bahwa matahari beredar di langit, tetapi mereka tidak mengetahui hubungan pastinya dengan bumi mereka tinggal, misalnya jika matahari itu menjauh dari bumi maka tidak akan lagi kehidupan manusia di bumi ini. Karena hubungan inilah maka klita tidak mungkin menjumpai ada buah kelapa tumbuh pada dahan jambu, tidak ada air membeku dalam temperature 40 derajat Celcius, tidak ada senyum pada mukayang gemetar ketakutan, tidak ada tumbuhan tembakau hidup subur di rawa-rawa, tidak ada kambing beranak anjing, tidak ada perkawinan antan manusia dengan anjing mendatangkan turunan dan sebagainya.
Setiap fakta itu mempunyai hubungan yang pasti dengan fakta yang lain dan baru oleh pengetahuan modern manusia diantar untuk mengetahui hubungan-hubungan yang tidak berubah antara fakta-fakta lain. Ilmu pengetahuan modern dengan penemuannya menunjukkan bahwa setiap wujud dalam ala ini mempunyai hubungan dan ketergantungan dengan lainnya.
C. Menjelaskan berdasarkan hubungan sebab akibat
Sejauh ini kita telah membicarakan dua macam cara menerangkan, tetapi sejauh itu kita masih mencari hubungan antara dua fakta dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan kita dapat juga menjumpai hubungan dua buah fakta atau lebih dalam waktu yang berurutan, antara fakta-fakta yang secara tetap terjadi lebih dahulu dan diikuti oleh fakta lainya pada waktu tang lebih kemudian.
Sebagaimana telah kita lihat bahwa orang-orang primitif memandang alam ini sebagai suatu susunan yang serampangan dan kacau. Perjalanan peristiwa mereka lihat sebagai suatu kebetulan. Mereka membayangkan bahwa segala sesuatu dapat terjadi dalam keadaan apapun dan dalam waktu manapun mereka dapat mempercayai bahwa dua buah gunung di New Zealand letaknya terpisah karena keduanya dulunya bertengkar, bahwa Buddha sampai diperut ibunya lewat sinar bulan dan sebagainya.
Sekarang, kita telah menyadari bahwa tidak ada sesuatu peristiwa terjadi secara kebetulan. Ada susuna yang berkosisten yang melahirkan adanya peristiwa-peristiwa itu di dalam perjalanan waktu. Kita telah lama menyadari bahwa apabila dalam suatu kondisi tertentu terjadi, maka peristiwa tertentu yang tetap akan mengikutinya. Kita kemudian menyadari bahwa kondisi tertentu yang melahirkan peristiwa terjadi yang terjadi kemudian adalah merupakan sesuatu yang esensial yang kemudian disebut “Sebab”. Sedangkan peristiwa yang terjadi kemudian yang secara tetap muncul manakala kondisi tertentu terlaksana kita sebut “akibat”. Cara menjelaskan berdasarkan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi dengan melihat kondisi yang menyebabkan lahirnya peristiwa itu adalah cara menerangkan berdasarkan sebab akibat. Kita telah berbicara mengenai hal ini bab yang lalu.

D. Penjelasan Berdasarkan Fungsinya.
Ini adalah cara menjelaskan suatu fakta bagaimana sesuatu itu mempunyai kedudukan terhadap fakta atau peristiwa lain. Macam penjelasan ini berbeda dengan macam sebelumnya karena disini bukan bagaimana fakta lain mempunyai hubungan yang pasti terhadap suatu fakta tertentu, melainkan bagaimana suatu fakta tertentu itu memegang peranan bagi falta lainnya.
Cara penjelasan ini digunakan misalnya bila kita hendak menerangkan tentang benda-benda hidup dan fakta-fakta yang berkaitan dengannya. Kita dapat menggunakan macam penjelasan ini manakala kita ingin menerangkan hidung yang kita miliki apa fungsinnya, juga tentang fungsi dari lebah madu bagi bunga, tentang music bagi jiwa raga manusia, tentang klorofil bagi tumbuhan, tentang presiden bagi pemerintahan suatu Negara, tentang dosen bagi mahasiwa, tentang tugas presentasi dan makalah bagi nilai mata kuliah dan lain sebagainya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membahas tentang penjelasan baik pengertian, sifat dan macamnya maka dapat disimpulkan bahwa sebuah fakta itu dijelaskan atau diterangkan saat kita tidak semata-mata menyatakan apa adanya tetapi kita menjelaskan hubungannya dengan fakta-fakta lain untuk mengetahui bagaimana fakta itu terhubung dan tergantung satu sala lain.
Dengan penjelasan, maka fakta tidak lagi merupakan informasi yang terisolasi melainkan dipahami sebagai bagian dari system, tatanan dan bentuk yang universal. Maka dengan demikian pula kita bisa menjawab setiap keraguan kita sehingga kita bisa memiliki pengertian dan pemahaman yang lebih baik lagi.
B. Aplikasi
Sebagai seorang akademisi (mahasiswa, dosen maupun yang terkait dengan dunia akademis) sangat penting untuk memahami tentang penjelasai ini karena ini merupakan dasar dari komunikasi pendidikan. Dikatakan dasar karena pendidikan sendiri secara umum adalah usaha yang dilakukan untuk menjelaskan pengertian kepada para peserta didik. Jika seorang pengajar tidak bisa menjelaskan dengan baik, maka tujuan dari pendidikan itu dengan sendirinya tidak akan pernah tercapai.








Sumber:
Mahmudi, H. Logika. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 1994.

IBADAH YANG BENAR MENURUT KITAB PENGKHOTBAH 4:17-5:6

BAB I
LATAR BELAKANG KITAB PENGKHOTBAH

Kitab Pengkhotbah adalah salah satu kitab yang cukup sulit dipahami. hal ini karena jika kita membaca kitab Prngkhotbah sepintas lalu maka orang akan cenderung beranggapan bahwa kitab ini bersifat skeptis dan menggambarkan kesia-siaan serta keputusasaan. Namun bagi orang yang membaca kitab ini dengan penuh perhatian, maka akan ditemukan bahwa kitab ini sesungguhnya sangat kaya tentang aspek-aspek kehidupan manusia.
Judul kitab ini berasal dari bahasa Ibrani להת וֹקּ (qoheleth) yang berasala dari kata הלקּ (qahal) yang berarti ‘kumpulan, perhimpunan’. Dalam LXX kitab ini adalah εκκλησιαστής dari kata εκκλησία yang berarti sama yaitu orang yang berkhotbah dalam perkumpulan. Tradisi Yahudi mengakui bahwa penulis kitab ini adalah Salomo pada masa tuanya (931 BC). Namun demikian ada juga beberapa ahli penganut literer criticism yang mengatakan bahwa Salomo bukan penulis kitab ini karena mengacu pada beberapa kosa kata yang telah bercampur dengan bahasa Aram dimana bahasa ini hanya ditemukan sesudah pembuangan Babel (400-200 BC).
Untuk itu maka penulis menyimpulkan bahwa penulis kitab ini adalah Salomo namun telah melalui proses penyalinan kembali maupun editing sehingga bias menjadi seperti bentuknya yang sekarang. Yang pasti, kitab Pengkhotbah ini sangat kaya dengan filosofi kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah aspek ibadah yang benar seperti yang kelompok kami bahas dalam presentasi ini.



BAB II
IBADAH YANG BENAR

Dalam Pengkhotbah 4:17-5:6 ini Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop “Takutlah akan Allah” namun judul perikop ini kami anggap terlalu luas sehingga kelompok kami mengambil tema yang lebih khusus tentang “ibadah yang benar”.
4:17 – Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkana korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.
Dalam ayat ini, Pengkhotbah menyerukan kepada umat tentang bagaimana menghampiri Allah atau bagaimana seharusnya orang datang beribadah dalam rumah-Nya. Menghampiri untuk mendengar berarti datang dengan suatu keingintahuan, ingin mengerti dan memahami serta Mengenal Allah. Bukan hanya terpusat pada korban persembahan yang sudah menjadi rutinitas sebab hal demikian dipandang jahat oleh Allah.
Hal ini sering terjadi dalam kehidupan ibadah orang percaya dimana ada orang-orang yang terlalu terpusat pada gaya, penampilan, kolekte bahkan cara penyembahan tanpa kerinduan untuk mengerti dan memahami firman Allah dengan benar.

5:1 – Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.
Melalui ayat ini, Pengkhotbah kembali memperingatkan agar umat yang hendak dating beribadah kepada Allah senantiasa memperhatikan perkataannya. Orang Yahudi biasa mengucapkan nazar sewaktu beribadah dan menyembah Tuhan. Perkataan yang dimaksud di sini bukan hanya perkataan mulut saja melainkan perkataan dalam hati juga. Hal ini dikarenakan Allah Maha Kuasa dan sanggup mengetahui apa yang kita katakan sekalipun dalam hati. hal ini pula yang di katakan Yesus dalam Matius 12:36,37.

5:2 – Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.
Ayat ini merupakan contoh praktis tentang makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan untuk salah. Mimpi yang yang dimaksud Pengkhotbah bukanlah mimpi sebagaimana Allah berbicara pada hambaNya (1 Raj. 3:5; Ayub 33:15) melainkan mimpi sebagai bunga tidur. Penelitian medis membuktikan bahwa sebelum mati, otak manusia tidak pernah berhenti beraktifitas sekalipun dalam keadaan tidur.Dan mimpi merupakan refleksi otak terhadap aktifitas pemiliknya sadar maupun tidak sadar.

5:3-4 – Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar daripada bernazar tetapi tidak menepatinya.
Inilah Alasan utama kenapa manusia umat yang hendak beribadah kepada Allah harus berpikir matang-matang sebelum dating beribadah dan mengucapkan nazar kepada Allah. Pengkhotbah mengingatkan bahwa Allah tidak senang kepada pembohong. Jika umat Allah telah bernazar, maka haruslah segera melakukana nazarnya tersebut. Ayat ini parallel dengan Mazmur 66:13-15 tentang sikap umat yang hendak beribadah dan mempersembahkan korban kepada Allah.
Banyak orang percaya saat ini yang terjebak dalam nazar yang tidak dipikirkan sebelumnya. Nazar atau janji kepada Tuhan bukan hanya ketika kita berdoa melainkan dalam setiap perkataan liturgical kita termasuk nyayian. Banyak lagu-lagu yang mengandung nazar maupun pernyataan yang sebenarnya belum bisa dan bahkan tidak bisa kita lakukan namun dengan gampangnya kita mengucapkannya.

5:5 – Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?
Ayat ini menggambarkan tentang bagaimana orang Israel datang beribadah di bait suci dan bernazar di hadapan imam dan saat dia kembali ternyata dia belum melakukan nazarnya tesebut kemudian berkata kepada imam bahwa dia khilaf. Pengkhotbah mengatakan bahwa Allah tegas dalam hal ini. makanya sejak awal telah diingatkan untuk berhati-hati dengan perkataan. Lebih baik tidak bernazar daripada bernazar tapi tidak menepati. Menepati perkataan juga disebut integritas. Setiap orang percaya dituntut memiliki integritas – kesatuan antara perkataan dan tindakan.

5:6 – Karena sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.
Ayat ini merupakan penegasan dari ayat 2 namun memiliki tambahan yang merupakan inti dari ibadah yang benar yaitu harus disertai dengan takut akan Allah. Takut akan Allah bukan berarti bersembunyi dan takut bertemu dengan Tuhan sperti yang dilakukan Adam dan Hawa ketika berdosa. Takut akan Allah berarti menghormati dan taat pada-Nya, dan ini merupakan bagian dari kasih kita pada Allah.






BAB III
KESIMPULAN

Dalam ibadah yang benar, umat Tuhan tidak hanya dituntut untuk memuji dan memuliakan Allah lewat persembahan, penyembahan bahkan pernyataan-pernyataan imana yang muluk-muluk namun Allah menuntut integritas kita. Allah menghendaki ibadak kita didasarkan akan rasa takut akan Allah.Takut akan Allah berarti memiliki rasa hormat panda-Nya, mengasihi dia dengan segenap hati dan mentaati firman-Nya.
Sebagai orang percaya, bukana lagi merupakan kewajiban kita untuk datang beribadah pada Allah. tapi lebih dari itu, datang kepada Allah merupakan hak kita karena itulah tujuan-Nya menciptakan kita, yaitu untuk hidup bersekutu dengan Dia dalam kasih kekal.




Daftar Pustaka:

_______. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 2006.
_______. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: YKBK/OMF. 2007.
Aritonang, M. P. Pengetahuan dan Pembimbing Perjanjian Lama. tp. 2007.
Dwi Agus Priono, Tafsir Pengkhotbah, http://dwiaguspriono.blogspot.com
Wikipedia Indonesia. http://id.wikipedia.org/kitab_pengkhotbah.
Matthew Henry’s Commentary. Eccleciastes 5. http:www.christnotes.org/commentary.php.